Muhammadiyah Targetkan Pabrik Infus Beroperasi Awal 2027
MALANG — Muhammadiyah menargetkan pabrik infus yang dikelola PT Suryavena Farma Indonesia mulai berproduksi pada awal 2027. Target tersebut disampaikan Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhadjir Effendy, saat menghadiri groundbreaking pembangunan pabrik di Karangploso, Kabupaten Malang, Jawa Timur, Kamis (11/6).
Muhadjir mengatakan pembangunan pabrik infus menjadi bagian dari upaya Muhammadiyah memperkuat sektor ekonomi sekaligus mendukung kebutuhan layanan kesehatan yang terus meningkat.
Menurutnya, infus dipilih karena merupakan alat kesehatan yang selalu dibutuhkan rumah sakit dan memiliki pasar yang relatif stabil dibandingkan produk farmasi lainnya.
“Infus ini sangat generik, berbeda dengan obat. Obat sangat bergantung pada resep dokter, sedangkan infus digunakan hampir di semua rumah sakit sehingga kebutuhannya lebih pasti,” ujar Muhadjir.
Ia menjelaskan bahwa pertimbangan tersebut membuat risiko bisnis produksi infus lebih terukur. Karena itu, Muhammadiyah memandang pembangunan pabrik ini memiliki prospek yang baik, baik dari sisi pelayanan kesehatan maupun pengembangan usaha.
Muhadjir juga mengajak sektor perbankan untuk mendukung percepatan pembangunan pabrik agar target operasional pada awal 2027 dapat tercapai sesuai rencana.
Selain memenuhi kebutuhan alat kesehatan, pembangunan pabrik ini merupakan bagian dari strategi Muhammadiyah dalam memperkuat pilar ekonomi Persyarikatan. Selama ini Muhammadiyah dikenal memiliki jaringan yang kuat di bidang pendidikan dan kesehatan, sehingga penguatan sektor ekonomi dinilai penting untuk menopang keberlanjutan berbagai program sosial.
“Dengan penguatan pilar ekonomi, Muhammadiyah tidak hanya dikenal sebagai lembaga filantropi, tetapi juga sebagai social corporate,” katanya.
Muhadjir menjelaskan konsep social corporate yang dikembangkan Muhammadiyah menempatkan keuntungan usaha sebagai sarana untuk memperluas manfaat bagi masyarakat. Seluruh hasil usaha akan dikelola kembali untuk mendukung program pendidikan, kesehatan, sosial, dan pemberdayaan umat, bukan untuk kepentingan pribadi pengelola.
“Keuntungan yang diperoleh akan diputar kembali dan dikembalikan kepada kepentingan masyarakat,” ujarnya.
Karena itu, ia mengingatkan jajaran direksi dan pengelola perusahaan agar menjadikan semangat pengabdian sebagai landasan utama dalam menjalankan usaha. Menurutnya, orientasi bisnis Muhammadiyah harus tetap berpijak pada nilai kemaslahatan dan prinsip ekonomi yang berpihak pada kepentingan bersama.
Melalui PT Suryavena Farma Indonesia, Muhammadiyah berharap dapat menjadi pelopor pengembangan model usaha berbasis social corporate di Indonesia. Model tersebut dinilai mampu mendorong pertumbuhan ekonomi sekaligus memperluas manfaat sosial bagi masyarakat.
Muhadjir juga berharap semakin banyak lembaga dan perusahaan yang mengembangkan konsep serupa sehingga manfaat pembangunan ekonomi dapat dirasakan lebih merata dan tidak terkonsentrasi pada kelompok tertentu saja.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow