Menjaga Peradaban dengan Bahasa: Tantangan Literasi Gen Z di Era Algoritma

Menjaga Peradaban dengan Bahasa: Tantangan Literasi Gen Z di Era Algoritma

Smallest Font
Largest Font

BANTUL — Di tengah derasnya arus informasi digital, generasi muda khususnya Gen Z, dihadapkan pada tantangan baru untuk memperkuat tradisi menulis dan mementingkan peran strategis bahasa dalam membangun peradaban.

Hal itu disampaikan Sekretaris Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Asykuri Ibnu Chamim saat membuka kegiatan Writing Camp for Gen Z yang diadakan oleh Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah dan Pimpinan Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah (PW IPM) D.I. Yogyakarta di Tabligh Institute Muhammadiyah, Sabtu (21/6).

“Salah satu hal yang tidak banyak dieksplorasi oleh kita adalah kemampuan manusia untuk berbahasa. Bahasa adalah cerminan pikiran. Pikiran tanpa bahasa menjadikannya tidak bisa dikomunikasikan. Pikiran baru bisa dipahami oleh orang lain apabila dikomunikasikan melalui bahasa,” terang Asykuri.

Mengutip pemikiran Yuval Noah Harari dalam Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia, Asykuri menjelaskan bahwa 70 ribu tahun yang lalu, bahasa menjadi sangat penting untuk membentuk dan menggerakkan revolusi kognitif. Terlebih kehidupan manusia dan hewan di masa itu tidak ada bedanya. Akan tetapi, 70 ribu tahun kemudian terjadi perubahan.

Manusia mampu membangun pesawat dan menciptakan teknologi. Hal ini menunjukkan bahwa bahasa menciptakan suatu kekuatan bagi umat manusia untuk bertahan sampai sekarang dan mengalami berbagai macam evolusi.

Bahasa yang mempertahankan peradaban manusia dari masa ke masa mengalami evolusi berkali-kali dan sampai sekarang kita masih mengalaminya. Pertama, bahasa lisan, evolusi bahasa lisan menjelaskan bahwa dahulu segala sesuatu dikomunikasikan secara lisan, tetapi pencatatan masih kurang. Meskipun demikian, hal tersebut tidak mengurangi imajinasi.

 Kedua, bahasa tulis, tradisi tulis baru muncul awal abad 20. Hanya 7% orang Indonesia yang bisa membaca tulisan latin di awal Indonesia merdeka. Memang sebelumnya ada orang yang bisa membaca tulisan arab. Akan tetapi, di era awal abad 20, tulisan arab tidak terlalu banyak rekognisi sehingga kita menjadi agak terlambat.

“Dalam masyarakat modern, bahasa tulis menjadi lebih penting karena menuntut ketepatan logika dan estetika bahasa. Menulis tidak hanya soal menyampaikan informasi, tapi juga membangun struktur pikiran dan daya imajinasi,” terang Asykuri.

Namun, Asykuri menyayangkan bahwa tradisi literasi di Indonesia berkembang relatif lambat dibandingkan dunia Barat. Pada masa awal kemerdekaan, hanya sekitar 7% penduduk Indonesia yang bisa membaca tulisan Latin. Meski demikian, Muhammadiyah sejak awal telah menjadi pelopor dalam mengembangkan budaya tulis, salah satunya melalui pembentukan Majelis Pustaka. Ada banyak buku-buku yang diterbitkan di masa itu.

Manusia dipaksa bermitra dengan Artificial Intelligence (AI) atau kecerdasan buatan. Manusia bisa meminta AI membuat apa saja. PR-nya adalah manusia belum mencermati algoritma. Kita perlu memperbanyak tulisan di situs daring atau media sosial sehingga perlu mempertajam tulisan agar kelak bisa menjadi rujukan AI guna memberikan informasi rujukan yang akan menjadi amal untuk generasi mendatang.

Dalam konteks kekinian, Dr. Asykuri juga menyinggung pentingnya memperbanyak narasi Islam di ranah digital, termasuk di platform kecerdasan buatan seperti ChatGPT. Ia mencontohkan kasus mahasiswa yang menyimpulkan bahwa siksa kubur tidak ada karena informasi yang tersedia secara daring minim rujukan dari sudut pandang Islam yang benar.

“Jika kita tidak menuliskan narasi-narasi kebenaran, maka algoritma akan mengambil dari sumber yang salah,” tegas Asykuri.

Untuk itu, ia mendorong para kader Muhammadiyah, baik dari IPM, IMM, NA, maupun ortom lainnya untuk aktif menulis dan menghasilkan karya-karya bermutu yang dapat menjadi rujukan digital generasi mendatang.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow