KBIHU 'Aisyiyah Kota Yogya Bekali Calon Jemaah Haji dengan Mitigasi dan Kesehatan Haji
YOGYAKARTA — Kesiapan fisik, mental, spiritual, dan kesehatan menjadi perhatian utama Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umrah (KBIHU) 'Aisyiyah Kota Yogyakarta dalam membekali calon jemaah haji musim 2027 M/1448 H. Melalui Manasik Klasikal ke-3 yang digelar di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Kampus 4, Ahad (5/7), para jemaah mendapatkan pembekalan mengenai mitigasi risiko dan istithaah kesehatan sebagai bekal menuju haji yang aman dan mabrur.
Kegiatan tersebut diikuti calon jemaah haji tahun keberangkatan 2027 dan 2028, serta dihadiri pengurus dan pembimbing KBIHU 'Aisyiyah Kota Yogyakarta. Meski sebagian peserta merupakan lanjut usia, bahkan beberapa mengikuti kegiatan menggunakan kursi roda, semangat mereka dalam mengikuti setiap materi tetap tinggi.
Ketua KBIHU 'Aisyiyah Kota Yogyakarta, Ir. H. Rowi Sutaryo, mengingatkan seluruh calon jemaah agar sejak dini menjaga kesehatan jasmani dan ruhani serta memastikan seluruh persyaratan administrasi haji telah dipenuhi.
"Kita harus fokus memenuhi syarat istithaah. Saat ini ada berbagai percepatan dan perubahan skema penyelenggaraan haji yang tidak hanya berkaitan dengan aspek finansial, tetapi juga pengetahuan dan kesehatan," ujarnya.
Materi pertama disampaikan Ketua Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau MDMC PP Muhammadiyah, H. Budi Setiawan, S.T., yang mengangkat tema Mitigasi dan Resiliensi dalam Berhaji. Menurutnya, ibadah haji merupakan perjalanan spiritual yang sarat makna, namun juga penuh tantangan sehingga memerlukan kesiapan yang matang.
Ia mencontohkan perjalanan Rasulullah ﷺ yang pernah tertahan di Hudaibiyah sebelum akhirnya lahir Perjanjian Hudaibiyah yang menjadi jalan menuju Fathu Makkah. Peristiwa tersebut menunjukkan bahwa setiap tantangan harus dihadapi dengan kesabaran, perencanaan, dan ketangguhan.
Budi menjelaskan bahwa mitigasi bertujuan mengurangi risiko selama pelaksanaan ibadah haji, mulai dari kepadatan jemaah, cuaca ekstrem, hingga potensi gangguan keamanan dan kriminalitas. Risiko tersebut, katanya, dapat diperkecil dengan meningkatkan kapasitas jemaah melalui pemahaman manasik, penguatan spiritual, kesiapan mental, serta latihan fisik secara rutin.
"Kalau risiko turun berarti mitigasi berhasil. Kita akan menjadi jemaah yang tangguh dan resilien sehingga peluang meraih haji mabrur semakin besar," tegasnya.
Ia juga mengingatkan agar calon jemaah mewaspadai berbagai tantangan saat puncak ibadah haji, terutama di Arafah, yang diperkirakan masih akan menghadapi suhu udara tinggi pada musim haji 2027.
Sementara itu, materi kedua mengenai Istithaah Kesehatan Jemaah Haji disampaikan drg. Rohadanti, M.P.H., dari Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta. Ia menegaskan bahwa kesehatan merupakan syarat utama istithaah bagi setiap calon jemaah.
Menurutnya, pelayanan kesehatan haji dibangun di atas tiga pilar, yaitu pembinaan melalui pengukuran kebugaran jasmani, pelayanan berupa skrining dan pemeriksaan kesehatan, serta perlindungan melalui vaksinasi, seperti meningitis, polio, COVID-19, dan influenza.
Rohadanti juga memaparkan hasil pemeriksaan kesehatan jemaah haji Kota Yogyakarta tahun 2026. Dari total jemaah yang diperiksa, 160 orang dinyatakan memenuhi syarat istithaah, 572 orang memerlukan pendampingan kesehatan, sedangkan tiga orang belum memenuhi syarat kesehatan.
Ia menyebut angka pendampingan tahun ini menjadi yang tertinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, baik berupa pendampingan obat, alat kesehatan, maupun pendamping. Selain itu, masih terdapat jemaah yang mengalami gangguan kesehatan selama di Tanah Suci, bahkan satu orang meninggal dunia.
"Ibadah haji adalah ibadah fisik yang membutuhkan kesehatan dan kebugaran. Jangan merasa selesai setelah melunasi biaya haji. Kesehatan harus terus dipantau hingga hari keberangkatan agar benar-benar siap berangkat ke Tanah Suci," pesannya.
Ia juga mengimbau para calon jemaah untuk mematuhi seluruh arahan Tim Kesehatan Haji selama berada di Arab Saudi, rutin mengonsumsi obat bagi yang memiliki penyakit penyerta, membatasi aktivitas di luar rangkaian ibadah, serta memastikan kepesertaan BPJS Kesehatan tetap aktif.
Melalui pembekalan ini, KBIHU 'Aisyiyah Kota Yogyakarta berharap seluruh calon jemaah memiliki kesiapan yang utuh, baik secara spiritual, mental, fisik, maupun kesehatan, sehingga mampu menjalankan seluruh rangkaian ibadah haji dengan aman dan memperoleh predikat haji yang mabrur.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow