Ikhwan Ahada: Dakwah Muhammadiyah Harus Hadir Kuat di Dunia Digital

Ikhwan Ahada: Dakwah Muhammadiyah Harus Hadir Kuat di Dunia Digital

Smallest Font
Largest Font

YOGYA – Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. M. Ikhwan Ahada, M.A., menegaskan pentingnya keberanian dan inovasi dalam menghadapi tantangan dakwah di era digital. Menurutnya, semangat pembaruan yang dulu diperjuangkan oleh Kiai Ahmad Dahlan harus terus dihidupkan agar Muhammadiyah tidak tertinggal dalam menjawab persoalan zaman.

“Kita menghadapi tantangan yang berbeda dengan dakwah pada zaman dulu. Kiai Ahmad Dahlan pun menghadapi risiko besar ketika membawa cara berpikir dan metode dakwah yang baru, yang bahkan tidak langsung diterima oleh masyarakat,” ungkap Ikhwan dalam Workshop Pengembangan Media Digital Muhammadiyah DIY di Rumifest Creative & Festival, Ahad (5/10).

Ia menuturkan, langkah-langkah pembaruan yang dilakukan Kiai Dahlan—seperti meluruskan arah kiblat, menempatkan murid sebagai pusat pembelajaran, dan memperbarui cara pandang keagamaan—adalah wujud nyata dari keberanian menghadirkan Islam yang berkemajuan.

“Dalam satu tahun pertama berdirinya Muhammadiyah, Kiai Dahlan sudah merumuskan tujuan untuk memajukan dan menggembirakan pelajaran agama. Dua kata ini—memajukan dan menggembirakan—menjadi ruh dakwah Muhammadiyah,” jelasnya.

Ikhwan menambahkan, pada masa awal berdirinya Muhammadiyah, Kiai Dahlan sempat mendapat tudingan membuka “sekolah kafir” karena model pendidikannya yang modern. Namun, dari situ justru lahir sistem pendidikan yang menjadi fondasi kemajuan umat Islam hingga kini. 

Kini, kata dia, tantangan dakwah serupa hadir kembali, namun dalam bentuk baru. “Sekarang dunia sudah berubah. Ada dunia nyata dan dunia maya yang sama-sama membentuk realitas. Di situ orang bisa membangun opini, mempengaruhi publik, bahkan membentuk cara pandang masyarakat terhadap agama,” ujarnya.

Ikhwan menyebut, dunia digital saat ini bisa menjadi arena dakwah, tetapi juga bisa menjadi ladang persepsi yang berisiko. “Kalau dulu Kiai Dahlan menghadapi persekusi karena meluruskan arah kiblat, kini tantangan kita adalah framing digital,” tambahnya.

Dalam paparannya, Ikhwan mengungkapkan hasil riset kecil yang menunjukkan lemahnya kehadiran Muhammadiyah di mesin pencarian internet. Ia pernah melakukan uji coba terhadap "40 pertanyaan keislaman populer"—seperti soal jual beli online, flexing, healing, hingga skincare—dan hasilnya, hanya 17,5 persen yang dijawab oleh sumber resmi media Muhammadiyah dan yang berafiliasi di halaman pertama mesin pencari.

“Sisanya didominasi oleh situs-situs lain. Artinya, ketika generasi muda mencari jawaban tentang Islam, yang pertama mereka temui bukan Muhammadiyah,” ujarnya.

Menurutnya, hal ini bukan soal rivalitas, tetapi tentang ketertinggalan Muhammadiyah dalam memainkan peran digital. Padahal, Muhammadiyah memiliki banyak referensi resmi seperti buku tanya jawab, fatwa, dan keputusan tarjih yang kaya dan ilmiah.

“Kita punya semua itu, tapi belum hadir kuat di dunia digital. Akibatnya, cara pandang keislaman anak muda bisa terbentuk dari sumber lain,” tegasnya.

Menutup arahannya, Ikhwan menyerukan kepada media dan lembaga komunikasi di lingkungan Muhammadiyah DIY agar memperkuat peran dakwah digital.

“Kita sedang berada di 'perang media'. Maka anak-anak muda Muhammadiyah harus disuguhi konten dakwah yang menarik, cepat, dan relevan. Saat mereka mencari jawaban keislaman, mestinya yang muncul adalah situs resmi Muhammadiyah,” tandasnya.

PWM DIY, lanjutnya, akan menindaklanjuti hal ini melalui langkah strategis bersama perguruan tinggi dan lembaga media di bawah persyarikatan.

“PWM DIY harus mulai berkontribusi membawa arah dakwah digital yang kuat. Ini dakwah yang jauh lebih berdampak, tapi juga harus dikerjakan dengan keseriusan,” pungkas Ikhwan.



Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow