Iduladha adalah Madrasah Pendidikan Karakter yang Luhur untuk Membangun Peradaban

Iduladha adalah Madrasah Pendidikan Karakter yang Luhur untuk Membangun Peradaban

Smallest Font
Largest Font

SLEMAN — Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta Arif Jamali Muis, M.Pd. dalam khutbah Salat Iduladha 1446 H menegaskan bahwa Iduladha sebagai momentum untuk pendidikan karakter bagi seluruh umat Islam.

“Sesungguhnya, Iduladha adalah madrasah yang sarat akan makna pendidikan karakter yang luhur. Di dalamnya terkandung nilai pendidikan yang dapat menjadi fondasi pembangunan karakter pribadi dan bangsa,” ucapnya saat menjadi khatib salat Id di Lapangan Denggung, Tridadi, Sleman, Jumat (6/6). 

Ada poin-poin penting yang mendasarinya. Pertama, dari kisah ketaatan dan keikhlasan Nabi Ibrahim AS kala diperintah Allah mengorbankan putranya menunjukkan ketetapan hati untuk melewati ujian dari Allah. Bahwa tiap-tiap manusia hendaknya taat pada prinsip dan nilai kebenaran, saat yang sama juga mengukuhkan integritas dalam setiap tindakan. Pendidikan karakter yang kuat haruslah berakar pada nilai spiritual seperti itu, iman yang tidak mudah goyah oleh godaan duniawi. 

Kedua, hewan qurban yang kita sembelih sesungguhnya menjadi simbol yang sangat konkret bahwa manusia sejatinya harus mampu melampaui batas-batas egosentrisme, menanggalkan keserakahan, dan menaklukkan hawa nafsu pribadi demi mewujudkan kepentingan bersama. Dalam proses itulah, manusia menumbuhkan jiwa empati dan kepekaan sosial yang hakiki. 

Pendidikan karakter yang sejati bukan sekadar pembelajaran normatif, melainkan pendalaman hati—agar manusia senantiasa bergerak untuk peduli, berbagi, dan mengulurkan tangan kepada sesama, khususnya mereka yang berada dalam kondisi kurang beruntung. Persis dengan Sabda Nabi Muhammad SAW:

لاَ يُؤْمِنُ أَحَدُكُمْ حَتَّى يُحِبَّ لأَخِيْهِ مَا يُحِبُّ لِنَفْسِهِ

“Tidaklah seorang dari kalian beriman sampai dia mencintai saudaranya seperti mencintai dirinya sendiri.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ketiga, Idul Adha menjadi momentum spiritual untuk melakukan pembersihan jiwa (tazkiyatun nafs). Penjernihan jiwa dari endapan sifat-sifat rendah kemanusiaan. 

“Di hari yang penuh makna ini, kita diajak menempuh jalan latihan batin: meneguhkan disiplin diri, meredam gejolak emosi, dan menumbuhkan kebijaksanaan dalam setiap laku. Karakter yang kokoh tak lahir dari hasrat yang liar, melainkan dari kemampuan menaklukkan hawa nafsu, mengarahkan niat, dan memurnikan tindakan menuju kebaikan sejati,” tutur Stafsus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI bidang Pembelajaran dan Sekolah Unggul tersebut.

Adapun dosa—ia tumbuh dari cinta dunia yang berlebihan, yang menjebak manusia dalam ilusi keakuan dan kepemilikan semu. Maka, semangat qurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi menyembelih ego, membersihkan hati dari kerak-kerak duniawi, agar kita dapat menempuh jalan menuju nafs al-muthmainnah—jiwa yang tenang, jernih, dan penuh kepasrahan kepada Ilahi. Jiwa inilah yang dijanjikan tempat di sisi-Nya, sebagaimana firman-Nya:

يٰٓاَيَّتُهَا النَّفْسُ الْمُطْمَىِٕنَّةُۙ ارْجِعِيْٓ اِلٰى رَبِّكِ رَاضِيَةً مَّرْضِيَّةً ۚ فَادْخُلِيْ فِيْ عِبٰدِيْۙ وَادْخُلِيْ جَنَّتِيْ 

"Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku." (QS. Al-Fajr: 27–30)

Keempat, Idul Adha sejatinya mengajarkan pentingnya penyelarasan antara kesalehan individual dan kesalehan sosial. Ibadah qurban bukan sekadar ungkapan ketundukan personal kepada Ilahi, tetapi juga perwujudan kepedulian terhadap sesama. 

“Daging qurban tidak dinikmati semata oleh mereka yang berkurban, melainkan dibagikan kepada masyarakat luas, terutama mereka yang kerap luput dari pelukan kesejahteraan,” ujar Arif.

Dalam tradisi ini, lanjutnya, menemukan cermin nilai luhur bahwa kebahagiaan sejati tak pernah berdiri di atas tumpukan kenikmatan pribadi, melainkan tumbuh dari keadilan dalam berbagi. Iduladha menjadi pengingat bahwa distribusi kekayaan yang adil dan merata adalah prasyarat terciptanya masyarakat yang inklusif, di mana tak satupun insan merasa tersisih dari gema sukacita hari raya. Nilai sosial tersebut seiring dengan sabda Nabi Muhammad SAW:

خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ

“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lain.” (HR. Ahmad)

Maka, pendidikan karakter yang dibangun di atas semangat berkurban mengarah pada misi membangun peradaban Islam atau masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Sebuah peradaban yang mampu membentuk manusia sebagai subjek moral, bukan sekadar sebagai objek pasar atau alat kekuasaan. 

Sebagaimana terekam dalam sejarah, tak ada satupun peradaban besar lahir dari generasi yang manja dan enggan untuk berkorban. Yunani Kuno, Romawi dan bahkan peradaban Islam, itu semua itu dibangun di atas semangat menanggalkan kenyamanan individu demi menata peradaban. 

“Membangun peradaban bukan hanya dengan menata infrastruktur, namun juga infrastruktur: tatanan batin, nilai hidup dan perilaku. Kurban mengajarkan bahwa peradaban sejati sesungguhnya lahir dari manusia yang sanggup untuk merelakan apa yang dimiliki guna tegaknya nilai-nilai ilahiah dalam kehidupan sosial. Inilah pendidikan tertinggi dalam peradaban manusia: menjadikan hidup sebagai ladang pengabdian, bukan penguasaan,” jelas Arif 

Di akhir khutbahnya, Arif mengajak seluruh umat Islam untuk menjadikan semangat idul qurban ini sebagai ruh pendidikan yang kita tanamkan dalam pendidikan keluarga, sekolah dan bangsa. 

“Bangunlah peradaban dari jiwa yang rela untuk berkorban, bukan dari budaya serakah. Tanamkan dalam hati anak-anak kita, bahwa masa depan tidak hanya ditentukan oleh seberapa banyak yang mereka miliki, namun seberapa dalam mereka mampu memahami makna memberi,” tandasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    1
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow