Hilman Latief: Misi Kemanusiaan Muhammadiyah adalah Wujud Dakwah Islam Berkemajuan
JAKARTA — Bendahara Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Hilman Latief, menegaskan bahwa kerja-kerja kemanusiaan Muhammadiyah di berbagai wilayah terdampak bencana merupakan wujud nyata dakwah Islam Berkemajuan. Hal tersebut ia sampaikan dalam ZISKA Talks Tarhib Ramadan LAZISMU Pimpinan Pusat Muhammadiyah bertajuk “Tangguh dan Sejahtera: Dari Respon ke Pemulihan Bencana Sumatra” pada Kamis (12/2).
Hilman menyampaikan apresiasi atas dedikasi seluruh tim yang bertugas di lapangan. Menurutnya, respons terhadap bencana bukan sekadar kerja teknis, melainkan bagian dari risalah besar Muhammadiyah dalam menerjemahkan Islam sebagai gerakan dakwah sekaligus misi kemanusiaan.
“Apa yang kita lakukan hari ini bukan sekadar respons teknis terhadap bencana, tetapi bagian dari risalah besar Muhammadiyah dalam menerjemahkan Islam sebagai gerakan dakwah dan misi kemanusiaan. Ini kerja mulia, dan tentu tidak mudah,” ujarnya.
Hilman menekankan bahwa dakwah dalam perspektif Muhammadiyah tidak berhenti pada ceramah atau penyampaian pesan keagamaan. Dakwah, menurutnya, adalah gerakan amar ma’ruf nahi munkar yang diwujudkan dalam aksi nyata di bidang sosial, ekonomi, hingga pemberdayaan umat.
“Mengajak kepada kebaikan itu mencakup aspek sosial, ekonomi, etika, bahkan politik. Termasuk menggerakkan umat untuk berzakat, berinfak, dan bersedekah. Di sinilah peran lembaga pengelola zakat menjadi sangat penting,” katanya.
Momentum Ramadan, lanjut Hilman, harus dimanfaatkan untuk memperkuat tradisi filantropi umat. Bulan suci menghadirkan ruang spiritual yang lebih luas bagi masyarakat untuk berbagi.
“Ramadan selalu menghadirkan gelombang kedermawanan. Tugas kita adalah mengelolanya dengan baik, akuntabel, dan profesional agar manfaatnya benar-benar dirasakan oleh mereka yang membutuhkan,” tegasnya.
Hilman juga menyoroti pentingnya inovasi dalam dakwah kemanusiaan. Islam, menurutnya, harus diposisikan sebagai gerakan ilmu sekaligus gerakan amal.
“Dakwah tidak cukup hanya dengan semangat dan empati. Kita membutuhkan basis keilmuan, inovasi, evaluasi program, monitoring, hingga audit yang kuat. Tanpa ilmu, kerja kemanusiaan akan berjalan berat dan tidak berkelanjutan,” jelasnya.
Ia menambahkan, tradisi Muhammadiyah sejak awal menempatkan pendidikan dan pencerahan sebagai fondasi gerakan. Karena itu, kerja kemanusiaan harus dikelola dengan standar profesional dan tata kelola yang baik.
“Akuntabilitas adalah bagian dari sifat keislaman kita. Ketika kita terbuka terhadap evaluasi dan audit, itu bukan beban, tetapi justru penguat integritas,” ungkapnya.
Dalam konteks respons bencana, Hilman menegaskan bahwa komitmen Muhammadiyah tidak berhenti pada fase tanggap darurat. Ia mencontohkan pendampingan pasca gempa di Cianjur yang tetap berjalan bertahun-tahun setelah kejadian.
“Sering kali orang mengira kerja kemanusiaan selesai ketika fase tanggap darurat berakhir. Padahal, justru di fase pemulihan jangka panjang itulah komitmen kita diuji,” tuturnya.
Lebih jauh, ia mengaitkan kerja kemanusiaan dengan pesan Al-Qur’an dalam Surah Al-Balad tentang “aqabah” atau jalan terjal. Membantu sesama dalam kondisi sulit, menurutnya, merupakan bentuk nyata menaklukkan jalan terjal tersebut.
“Al-Qur’an menggambarkan aqabah sebagai jalan yang berat: membebaskan manusia dari ketertekanan, memberi makan saat masa sulit, membantu anak yatim dari kerabat terdekat, dan menolong fakir miskin. Itu semua bukan perkara ringan,” ujarnya.
Hilman mengingatkan bahwa kepedulian sosial sering kali lebih mudah diberikan kepada pihak yang jauh, namun terasa berat ketika menyentuh lingkar terdekat. Di sinilah, menurutnya, nilai keseimbangan sosial diuji.
Ia pun memberikan semangat kepada para relawan yang bertugas di berbagai wilayah, seperti Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara.
“Apa yang Anda lakukan di Aceh, Sumatra Barat, Sumatra Utara, dan wilayah lain adalah bagian dari ikhtiar besar menaklukkan aqabah. Semoga setiap langkah kita menjadi amal saleh yang diridhai Allah SWT,” tutupnya.
Melalui kerja kemanusiaan yang berbasis ilmu, profesionalisme, dan solidaritas sosial, Muhammadiyah terus meneguhkan dakwah sebagai gerakan pencerahan yang hadir bagi kemaslahatan umat dan bangsa.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow