Haedar Nashir: Krisis Ekologi Buah Sistem Pembangunan yang Abai pada Kesemestaan
YOGYAKARTA — Persoalan ekologis bukan sekadar isu lingkungan, melainkan persoalan mendasar yang menyentuh seluruh aspek kehidupan manusia. Di tengah dunia yang kian dicengkeram perubahan iklim, krisis ekologi menjadi tantangan peradaban yang tak bisa diabaikan.
Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si. menjelaskan bahwa berbicara tentang ekologi berarti berbicara soal keseluruhan kehidupan.
“Bicara soal ekologi itu bicara bagian dari berbagai atau seluruh persoalan hidup kita,” ujarnya dalam Pengajian Ramadan 1447 H PWM DIY, Ahad (1/3).
Menurut Haedar, krisis lingkungan yang kini mengemuka, dari kerusakan alam, deforestasi, hingga perubahan iklim tentunya tidak lahir secara tiba-tiba. Semua itu merupakan hasil dari proses panjang dalam sistem pembangunan dan arus modernisme yang kuat dipengaruhi oleh kapitalisme.
“Itu dalam satu proses panjang dalam sistem membangun maupun proses modernisme yang kekuatannya ada di bandul kapitalisme,” jelasnya.
Haedar menilai, kapitalisme mampu bertahan karena memiliki daya adaptasi terhadap hasrat dasar manusia. Ia menyebut adanya kecenderungan manusia yang menyukai harta, jabatan, dan berbagai hal duniawi. Hasrat inilah yang kerap menjadi pintu masuk dominasi sistem yang eksploitatif terhadap alam.
Namun Islam, tegasnya, tidak hadir untuk mematikan hasrat duniawi tersebut. Islam justru mengarahkan dan menyalurkannya secara proporsional. Dalam pandangan Islam, pembangunan peradaban tetap berorientasi pada kehidupan dunia, tetapi terintegrasi dengan tujuan ukhrawi.
“Peradaban itu berorientasi pada duniawi, tetapi duniawi untuk ukhrawi, atau satu paket dengan ukhrawi. Jasad dan rohani, pikiran, semua tercakup dalam pembangunan Islam,” paparnya.
Karena itu, kehadiran Islam mendorong umatnya untuk merawat bumi secara menyeluruh. Tanggung jawab tersebut tidak hanya terbatas pada manusia, tetapi mencakup seluruh ciptaan Allah dan jagat semesta.
“Jangan biarkan itu. Jangan dirusak, tapi juga jangan dibiarkan,” tegas Haedar.
Di titik inilah urgensi pembangunan berkelanjutan menemukan pijakannya. Muhammadiyah, lanjut Haedar, telah merespons tantangan tersebut melalui dokumen Risalah Islam Berkemajuan, hasil keputusan Muktamar ke-48 Muhammadiyah di Surakarta.
“Islam Berkemajuan memandang bahwa Islam hadir untuk membangun peradaban. Berarti meletakkan ekologi, lingkungan, dan seluruh bagian dari kesemestaan kita,” tandasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow