Hadiri Refleksi Milad ke-109 ‘Aisyiyah, Haedar Nashir Ingatkan Bahaya Status Quo dalam Gerakan
SLEMAN — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan pentingnya pembaruan cara berpikir dan penguatan daya juang organisasi dalam menghadapi perubahan zaman saat memberikan pengarahan pada Refleksi Milad ke-109 ‘Aisyiyah, Selasa (19/5), di Convention Hall Universitas ‘Aisyiyah Yogyakarta, Gamping, Sleman.
Kegiatan yang mengusung tema “Memperkokoh Dakwah Kemanusiaan untuk Mewujudkan Perdamaian” tersebut menjadi momentum refleksi perjalanan panjang ‘Aisyiyah di tengah perubahan global yang semakin kompleks.
Dalam arahannya, Haedar menyampaikan bahwa Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah kini menghadapi realitas baru yang ditandai perubahan ekosistem sosial yang berlangsung cepat, termasuk hadirnya revolusi teknologi informasi yang membawa tantangan baru bagi gerakan dakwah dan organisasi.
“Perjalanan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah berhadapan dengan realitas baru di mana ekosistem kita berubah cepat dan kompleks. Tantangan kita juga semakin kompleks, bahkan muncul berbagai realitas baru yang dulu tidak hadir, yakni revolusi teknologi informasi,” ujarnya.
Ia mengajak seluruh warga persyarikatan menjadikan usia panjang organisasi sebagai energi kemajuan. Menurutnya, usia Muhammadiyah yang telah mencapai 113 tahun dan ‘Aisyiyah 109 tahun harus menjadi dorongan untuk meningkatkan kualitas amal usaha dan gerakan.
Mengutip hadis, Haedar mengingatkan agar panjang usia organisasi diiringi dengan kualitas amal yang baik.
“Sehingga usia lebih dari satu abad Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah harus menjadi motivasi untuk melangkah ke depan yang jauh lebih baik,” tegasnya.
Haedar juga mengingatkan bahwa tantangan gerakan kini hadir di berbagai bidang, mulai dari dakwah, pendidikan, ekonomi, hingga kesehatan. Ia menilai mobilitas sosial masyarakat berkembang sangat cepat sehingga organisasi dapat tertinggal apabila tidak melakukan pembaruan.
“Semua hampir terjadi, mobilitas terjadi, di mana punya orang berkembang bahkan lebih baik dari kita, bahkan bisa jadi kita berjalan di tempat,” ujarnya.
Menurut Haedar, agar tetap berada di garis depan, Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah harus bangkit dengan spirit baru dan daya juang tinggi, sekaligus menghindari godaan terbesar organisasi besar, yakni sikap status quo.
Dalam konteks pembangunan peradaban, Haedar menegaskan bahwa Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah hadir bukan sekadar menjalankan aktivitas organisasi, tetapi membangun masyarakat Islam yang sebenar-benarnya.
“Itu artinya membangun peradaban. Sedangkan peradaban adalah puncak dari kebudayaan. Maka jika ingin membangun peradaban, bangun dulu kebudayaannya,” katanya.
Haedar menjelaskan sejumlah unsur penting dalam membangun peradaban, di antaranya pembangunan bahasa, pengembangan kesenian yang mendorong kemajuan, penguatan sistem pengetahuan dan pendidikan, hingga pengembangan sistem ekonomi dan mata pencaharian.
Ia menilai ‘Aisyiyah telah memiliki berbagai kekuatan, termasuk melalui Badan Usaha Ekonomi Keluarga ‘Aisyiyah (BUEKA) dan amal usaha lainnya yang perlu terus ditingkatkan kualitasnya.
“Amal usaha kita harus dibawa ke tingkat lebih tinggi. Itulah yang disebut unggul atau berkemajuan,” tegasnya.
Karena itu, Haedar menekankan pentingnya pembenahan seluruh amal usaha persyarikatan, termasuk sektor pendidikan.
“Boleh tempatnya terpencil atau di gang sempit, tapi kualitasnya harus kita bangun,” ujarnya.
Untuk mendukung hal tersebut, ia menyoroti pentingnya perubahan alam pikiran menuju pola pikir unggul dan maju sebagaimana dicontohkan para pendiri Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah.
“Alam pikiran unggul dan maju harus kita bangun. Bagaimana yang kecil bisa menjadi kuat dan mengalahkan yang besar, apalagi yang besar masa kalah dengan yang kecil,” katanya.
Haedar menambahkan bahwa perubahan memang tidak mudah karena manusia cenderung bertahan pada kebiasaan lama. Namun, perubahan harus tetap berjalan dalam kerangka gerakan Islam berkemajuan agar tidak kehilangan arah.
Ia juga mengingatkan pentingnya fokus organisasi pada program utama dan tidak mudah tergoda mengikuti agenda lain yang tidak selaras dengan misi gerakan.
Selain itu, Haedar mendorong ‘Aisyiyah untuk mampu memobilisasi potensi besar yang dimiliki agar tidak hanya menjadi potensi laten.
“‘Aisyiyah besar potensinya, tapi jangan biarkan potensi itu laten tersimpan di bawah. Harus diubah menjadi potensi yang termanifest,” tegasnya.
Dalam aspek kepemimpinan dan organisasi, Haedar menekankan pentingnya manajemen perubahan, manajemen pengembangan, dan manajemen kemajuan agar gagasan besar tidak berhenti sebagai wacana.
“Jangan seperti ayam di kandang bertelur satu ribut sekampung, jadilah penyu di pantai, bertelur seratus tak pernah bangga,” ujarnya.
Menutup arahannya, Haedar mengingatkan agar organisasi menghindari hal-hal kontraproduktif, termasuk aktivitas yang terlalu simbolik, serta memperkuat efisiensi gerakan sebagaimana arahan Pimpinan Pusat Muhammadiyah.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow