Diskusi Hari Sungai, MLH PWM DIY Ajak Kolaborasi Selamatkan Sungai sebagai Sumber Kehidupan
YOGYAKARTA — Memperingati Hari Sungai, Majelis Lingkungan Hidup (MLH) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar Diskusi Hari Sungai bertema "Sungai Sehat, Lingkungan Lestari: Membangun Kolaborasi untuk Kehidupan Berkelanjutan" di Bhumi Krida Gambiran, Ahad (26/7).
Forum ini mempertemukan unsur Pemerintah Kota Yogyakarta, Muhammadiyah, akademisi, serta komunitas masyarakat untuk membahas pentingnya menjaga kelestarian sungai sebagai sumber kehidupan. Selain memperkuat sinergi, diskusi juga mendorong lahirnya aksi nyata dari berbagai pihak dalam menjaga lingkungan demi masa depan yang berkelanjutan.
Anggota MLH PWM DIY, Harris Syarif Usman, S.H., M.Kn., menjelaskan bahwa penyelenggaraan diskusi tersebut sejalan dengan semangat Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2011 tentang Sungai. Menurutnya, regulasi tersebut lahir sebagai respons atas kondisi banyak sungai di Indonesia yang mengalami kerusakan dan pencemaran.
"Melalui PP ini, seluruh elemen masyarakat diajak terlibat dalam upaya mengembalikan fungsi sungai agar menjadi pusat kehidupan dan lingkungan yang sehat. Edukasi, pengurangan pencemaran, sosialisasi, hingga kegiatan jelajah sungai menjadi bagian dari ikhtiar bersama agar sungai yang rusak dapat kembali bersih dan bermanfaat bagi masyarakat," ujarnya.
Harris menilai, gerakan bersih-bersih sungai yang selama ini dilakukan berbagai komunitas, termasuk oleh kalangan anak muda seperti Pandawara Group dan komunitas lainnya merupakan langkah positif. Namun, ia menegaskan bahwa bersih-bersih tersebut tidak boleh berhenti sebagai formalitas semata, perubahan pola pikir masyarakat juga diperlukan.
"Yang jauh lebih penting adalah mengubah pola pikir masyarakat. Kita membutuhkan rekonstruksi sosial agar tumbuh rasa tanggung jawab terhadap lingkungan. Selama kesadaran itu belum terbentuk, sungai yang dibersihkan hari ini bisa kembali dipenuhi sampah hanya dalam hitungan jam," katanya.
Menurutnya, momentum Hari Sungai harus menjadi titik awal membangun budaya peduli lingkungan secara berkelanjutan. Kesadaran masyarakat, keterlibatan generasi muda, dunia usaha, akademisi, media, hingga pemerintah perlu dipadukan melalui kolaborasi pentahelix.
Ia berharap gerakan memuliakan sungai dapat terus berkembang sehingga mampu melahirkan generasi yang peduli terhadap lingkungan sekaligus mengembalikan fungsi sungai sebagai pusat kehidupan, ruang publik, hingga destinasi wisata.
"Hakikatnya sungai adalah sumber kehidupan. Sejak dahulu peradaban selalu tumbuh di sekitar sungai karena air menjadi kebutuhan utama masyarakat. Karena itu, kualitas dan kelestarian sungai harus terus dijaga agar tetap dapat dimanfaatkan oleh generasi sekarang maupun yang akan datang," tegasnya.
Diskusi tersebut menghadirkan dua narasumber, yakni Ketua Forsidas Gadjah Wong, Dr. Dra. Purbudi Wahyuni, M.M., serta Kepala Bidang Operasional dan Pemeliharaan Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWS SO), Vicky Aryanti, S.T., M.Sc., Ph.D.
Keduanya menekankan bahwa upaya penyelamatan sungai tidak dapat dilakukan oleh satu pihak saja. Sinergi antara pemerintah, komunitas masyarakat, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan menjadi kunci dalam mewujudkan sungai yang bersih dan lestari.
Selain kolaborasi, keduanya juga mendorong lahirnya rencana aksi yang konkret dan berkelanjutan. Menurut mereka, gagasan pelestarian sungai harus diterjemahkan ke dalam kebijakan, regulasi, dan program nyata yang didukung penuh oleh pemerintah sehingga tidak berhenti sebatas wacana, tetapi benar-benar menghasilkan perubahan bagi kondisi sungai di Indonesia.
What's Your Reaction?
-
3
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow