Dakwah dan Budaya, Gita Danu Pranata Tekankan Pentingnya Memahami Masyarakat
YOGYAKARTA — Dakwah Islam perlu memahami kebudayaan masyarakat tempat dakwah berlangsung. Pendekatan budaya dinilai dapat menjadi salah satu cara untuk menyampaikan nilai-nilai Islam agar lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Wakil Ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Gita Danu Pranata menyampaikan pandangan tersebut dalam Pengajian Malam Selasa, Senin (7/9). Menurutnya, dakwah tidak cukup hanya merespons perkembangan zaman, tetapi juga perlu membaca potensi budaya yang hidup di tengah masyarakat.
“Dakwah harus mampu menjawab tantangan zaman,” ujarnya.
Gita mengatakan, Muhammadiyah memiliki pijakan dalam melihat hubungan antara Islam, seni, dan budaya. Salah satunya tercantum dalam Himpunan Putusan Tarjih (HPT) yang memuat tuntunan mengenai seni budaya Islam.
Menurutnya, ketentuan tersebut menunjukkan bahwa seni dan budaya dapat menjadi bagian dari strategi dakwah selama penggunaannya tetap berada dalam koridor ajaran Islam.
“Bisa jadi cara dakwah kita ya, cara dakwah kita memang ada basis budaya,” katanya.
Ia mencontohkan kehidupan masyarakat Yogyakarta yang lekat dengan beragam tradisi dan ekspresi budaya. Menurut Gita, kondisi tersebut perlu menjadi pertimbangan dalam menentukan pendekatan dakwah. Hadrah, macapat, wayang, busana tradisional, dan berbagai bentuk kesenian dapat menjadi ruang perjumpaan antara pesan keagamaan dan kehidupan masyarakat.
Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta itu juga menceritakan pengalamannya menggunakan busana tradisional Jawa dalam kegiatan keagamaan. Menurutnya, penggunaan unsur budaya dalam kegiatan keagamaan tetap dapat dilakukan dengan memperhatikan ketentuan fikih dan tata krama yang berlaku.
Ia menilai seni tidak semestinya dinilai hanya dari bentuknya. Isi dan tujuan penggunaannya juga perlu menjadi pertimbangan.
“Seni kan juga begitu. Itu kan artinya bebas nilai tergantung pada kontennya apa ketika kita mengisinya,” jelasnya.
Karena itu, Gita mengingatkan agar dakwah tidak tergesa-gesa dalam memberikan penilaian terhadap berbagai bentuk kebudayaan. Menurutnya, diperlukan pijakan yang jelas agar pengembangan seni dan budaya tetap sejalan dengan nilai-nilai Islam.
Ia juga menyebut Islam memberikan perhatian terhadap keindahan. Prinsip tersebut, kata Gita, dapat menjadi salah satu pertimbangan dalam mengembangkan ruang dakwah yang dekat dengan masyarakat.
Dalam pandangan tersebut, budaya menjadi salah satu potensi yang dapat dimanfaatkan dalam memperluas ruang dakwah. Berbagai bentuk ekspresi budaya dapat menjadi media penyampaian pesan Islam selama nilai yang dibawa mengarah pada kebaikan dan tetap memperhatikan ketentuan agama.
Gita menegaskan, kemampuan membaca budaya merupakan bagian dari upaya menghadirkan dakwah yang relevan dengan kehidupan masyarakat. Dengan pendekatan tersebut, pesan Islam dapat disampaikan melalui bahasa kehidupan yang lebih mudah dipahami oleh masyarakat.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow