Azman Latif: Olahraga Harus Jadi Pilar Baru Dakwah Muhammadiyah

Azman Latif: Olahraga Harus Jadi Pilar Baru Dakwah Muhammadiyah

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta, Ir. Azman Latif, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya Rapat Kerja Wilayah (Rakerwil) Lembaga Pengembangan Olahraga (LPO) PWM DIY yang digelar Sabtu (14/2) di Amphiteater Lantai 7 Gedung AR Fachrudin Fakultas Kedokteran Universitas Ahmad Dahlan.

Dalam amanatnya, Azman menegaskan bahwa olahraga kini telah menjadi kebutuhan mendasar manusia. Di tengah meningkatnya berbagai penyakit di masyarakat, olahraga dinilai sebagai ikhtiar menjaga kesehatan sekaligus bagian dari tanggung jawab personal.

“Sakit memang bisa menggugurkan dosa, tetapi jangan sampai sakit menjadi sebab sebelum 'waktunya'. Karena itu, olahraga menjadi sangat penting dan strategis,” ujarnya.

Azman menekankan, setidaknya ada dua hal penting bagi Muhammadiyah terkait olahraga. Pertama, LPO harus mampu menggerakkan budaya olahraga di tengah warga persyarikatan secara luas, tidak hanya bagi siswa sekolah dan mahasiswa, tetapi juga seluruh unsur pimpinan hingga jamaah.

Menurutnya, warga Muhammadiyah perlu memiliki wadah yang mendorong, bahkan “memaksa” dalam arti positif, untuk rutin berolahraga.

“Sehat itu penting. Ustaz juga perlu digerakkan untuk berolahraga agar saat tausiyah dan mengisi pengajian tidak ngos-ngosan. Ini tanggung jawab seluruh jenjang pimpinan untuk menggerakkan olahraga,” tegasnya.

Ia juga mendorong agar pertandingan olahraga digelar secara berjenjang, mulai dari tingkat cabang dan ranting, daerah, hingga wilayah. Dengan sistem seleksi berlapis, penyelenggaraan event di tingkat wilayah tidak akan kesulitan mencari peserta.

“Kalau di setiap level pimpinan sudah ada event, maka ketika wilayah mengadakan kegiatan, pesertanya sudah terseleksi. Seperti Olympicad, meski tanpa cabang olahraga pun mudah mencari peserta karena sudah ada tahap seleksi di bawah,” jelasnya.

Poin kedua yang ditekankan Azman adalah peran olahraga sebagai pintu masuk kaderisasi Muhammadiyah. Tidak sedikit kader yang mengenal dan kemudian aktif di Muhammadiyah melalui aktivitas olahraga.

Ia mencontohkan klub sepak bola milik Muhammadiyah, yaitu Hizbul Wathan yang telah berdiri bahkan sebelum kemerdekaan. Serta perguruan bela diri Tapak Suci Putera Muhammadiyah yang melahirkan banyak kader dan pendekar militan.

“Banyak atlet sepak bola dari Hizbul Wathan, banyak juga pendekar kita dari Tapak Suci. Artinya, olahraga menjadi sarana perekrutan kader Muhammadiyah. Ini harus terus digerakkan,” ungkapnya.

Menurut Azman, selama ini Muhammadiyah dikenal kuat dalam bidang pendidikan, kesehatan, dan sosial kemasyarakatan, serta saat ini sedang membangun kekuatan di bidang ekonomi. Ke depan, olahraga diharapkan dapat menjadi pilar baru dakwah yang memperluas jangkauan persyarikatan.

“Di DIY tidak kurang pakar olahraga. Kalau ini diorganisir dengan baik, olahraga bisa menjadi pilar baru dakwah Muhammadiyah. Ketika orang mengenal Muhammadiyah, bukan hanya tahu sekolah dan rumah sakit, tetapi juga melalui atlet-atlet berprestasi yang merupakan kader Muhammadiyah,” tandasnya.

Ia berharap LPO PWM DIY mampu mengonsolidasikan potensi tersebut sehingga olahraga benar-benar menjadi gerakan dakwah yang efektif dan memperkuat dakwah Muhammadiyah di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow