Arif Jamali Muis Beri Dua Solusi untuk Guru dalam Mendidik Anak-anak
YOGYA – Sekretaris Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY) Arif Jamali Muis, M.Pd. menekankan profesi guru bukanlah pekerjaan sambilan atau sekadar pilihan karena tidak ada pekerjaan lain. Menurutnya, mendidik adalah perintah Tuhan.
“Setiap rumah itu madrasah, dan orang tua adalah guru bagi anaknya. Guru adalah pilihan sadar. Bahkan Nabi Muhammad SAW setelah sukses berdagang, memilih jalan mendidik dan berdakwah,” katanya dalam Pengajian Ahad Legi (21/9) Pimpinan Cabang Muhammadiyah Mantrijeron di SD Muhammadiyah Danunegaran.
Dalam tausiyahnya, Arif berpesan agar para guru tidak membeda-bedakan murid. Dalam pandangannya, setiap siswa yang datang adalah “utusan malaikat” untuk mengangkat martabat gurunya di hadapan Allah.
Staf Khusus Bidang Sekolah dan Pembelajaran Unggul Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah RI itu juga mengangkat pesan penting dari Al-Qur’an Surat An-Nisa ayat 9. Ayat tersebut, menurutnya, sering disebut sebagai “ayat pendidikan” karena berisi peringatan agar kaum beriman tidak meninggalkan generasi yang lemah.
"Kalau kita takut kepada Allah, maka kita wajib khawatir jangan sampai anak-anak, murid-murid, atau cucu-cucu kita menjadi generasi yang lemah. Justru kewajiban kita adalah menjadikan mereka generasi kuat dan tangguh,” ungkap Arif di hadapan jamaah.
Menguraikan Surat An-Nisa ayat 9, Arif menjelaskan bahwa Allah memberikan solusi kepada guru dan orang tua agar anak-anak menjadi generasi kuat melalui dua perintah: bertakwa kepada Allah dan berkata benar.
“Yang disuruh bertakwa bukan anaknya, tapi orang tuanya, gurunya. Pendidikan itu membentuk manusia, bukan barang. Karena hati anak-anak hanya bisa dibolak-balikkan oleh Allah, maka doa guru dan orang tua sangat penting. Doa akan dikabulkan kalau kita bertakwa,” terangnya.
Arif kemudian mengaitkan ketakwaan dengan tiga ciri utama dalam Surat Ali Imran ayat 134: berinfak di kala lapang dan sempit, menahan amarah, serta memberi maaf.
“Orang Muhammadiyah kalau kata Pak AR (KH. AR Fakhruddin) itu 'nyah nyoh'—ikhlas berinfak tanpa banyak pikir. Begitu pula guru, harus lapang dalam memberi ilmu atau jangan pelit ilmu. Kemudian, mampu menahan amarah dan mudah memaafkan murid-muridnya. Dengan itu, pendidikan bisa melahirkan generasi tangguh,” jelasnya.
Selain ketakwaan, Arif menekankan pentingnya berkata benar. Menurutnya, mendidik bukan soal menyenangkan semua pihak, melainkan menegakkan kebenaran dengan keteladanan.
“Menyuruh anak shalat, ya gurunya juga harus shalat. Menyuruh anak jangan terlambat, gurunya juga tidak boleh terlambat. Anak-anak belajar dari teladan, bukan sekadar kata-kata,” tegasnya.
Ia juga mengingatkan para guru untuk terus menambah ilmu, mengingat tantangan zaman semakin kompleks di era penuh teknologi saat ini. “Anak-anak kita hidup di era gawai (gadget) yang membuat pergaulan jadi lintas benua seolah ada di genggaman tangan mereka. Guru harus terus belajar agar bisa mendampingi mereka dengan tepat,” ujarnya.
Arif menutup tausiyahnya dengan menegaskan bahwa pendidikan membutuhkan ketakwaan dan konsistensi berkata benar.
“Kalau guru dan orang tua bertakwa, berkata benar, dan terus menambah ilmu, insya Allah anak-anak kita tumbuh menjadi generasi yang kuat, tangguh, dan tidak lemah,” pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow