‘Aisyiyah Perkuat Perspektif Tarjih, Dorong Dakwah Perempuan yang Inklusif

‘Aisyiyah Perkuat Perspektif Tarjih, Dorong Dakwah Perempuan yang Inklusif

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Pimpinan Pusat (PP) ‘Aisyiyah memperkuat perspektif Tarjih Muhammadiyah bagi para mubalighat melalui program #GerakanPerempuanMengaji yang digelar pada Sabtu (11/4). Langkah ini dilakukan untuk mendorong lahirnya dakwah yang inklusif dan berpihak pada kelompok rentan.

Sekretaris Umum PP ‘Aisyiyah, Hastuti Nur Rochimah, dalam pembukaan kegiatan menekankan pentingnya pemahaman mendalam terhadap metode ijtihad dalam perspektif Tarjih. Menurutnya, hal tersebut menjadi dasar dalam merespons berbagai persoalan keagamaan, termasuk isu-isu yang berkaitan dengan kelompok rentan.

“Para mubalighat perlu memahami akar pengambilan hukum agar mampu menghadirkan ijtihad yang inklusif dan sejalan dengan metode bayani, burhani, dan irfani,” ujarnya.

Kajian perdana ini mengangkat tema fikih dalam perspektif Tarjih yang mencakup nilai dasar (al-qiyam al-asasiyah), prinsip umum (al-ushul al-kulliyyah), dan pedoman praktik (al-ahkam al-far’iyyah). Materi tersebut diarahkan untuk memperkuat pendekatan keagamaan yang responsif terhadap isu kesetaraan gender, disabilitas, dan inklusi sosial (GEDSI).

Dalam pemaparannya, disampaikan bahwa produk pemikiran Majelis Tarjih Muhammadiyah selalu bertumpu pada tiga elemen tersebut. Pemahaman yang utuh dinilai penting agar mubalighat mampu menghadirkan dakwah yang tidak hanya normatif, tetapi juga kontekstual dan berkeadilan sosial.

Ketua Majelis Tabligh dan Ketarjihan PP ‘Aisyiyah, Casmini, menilai kegiatan ini sebagai ruang strategis untuk membangun kesadaran kritis perempuan dalam beragama. Ia menegaskan bahwa penguatan literasi keagamaan perempuan memerlukan pendekatan yang lebih mendalam, tidak hanya melalui pengajian umum.

“Kajian ini menjadi ruang refleksi intelektual dan spiritual, sekaligus mendorong perempuan menjadi subjek dakwah yang aktif dan transformatif,” ujarnya.

Kegiatan yang berlangsung secara hybrid ini diikuti ratusan mubaligh dan mubalighat ‘Aisyiyah serta menghadirkan Ketua PP ‘Aisyiyah, Evi Sofia Inayati, sebagai narasumber.

Dalam pemaparannya, Evi menegaskan bahwa fikih tidak cukup dipahami sebagai aturan formal semata, melainkan sebagai pedoman yang harus selaras dengan perkembangan zaman. Pendekatan tersebut dinilai penting untuk menghasilkan pemahaman keagamaan yang fleksibel dan mampu menjawab tantangan masyarakat kontemporer.

Melalui kegiatan ini, PP ‘Aisyiyah berharap para mubalighat mampu memperkuat peran sebagai agen dakwah yang inklusif, kritis, dan responsif terhadap berbagai persoalan sosial di masyarakat.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow