Agung Danarto: Kuatkan Organisasi, Pengkaderan, dan Komitmen Kebangsaan
SURAKARTA — Ketua Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Agung Danarto, mengajak seluruh kader Nasyiatul 'Aisyiyah untuk terus memperkuat organisasi, sistem pengkaderan, serta komitmen kebangsaan. Pesan tersebut disampaikannya saat membuka Tanwir III Nasyiatul 'Aisyiyah di Dwangsa Solo Hotel, Kamis (6/8).
Dalam sambutannya, Agung menegaskan bahwa forum permusyawaratan di lingkungan Muhammadiyah dan organisasi otonom bukan sekadar ajang memilih pemimpin baru. Lebih dari itu, Tanwir maupun Muktamar harus menjadi momentum memperkokoh dakwah Islam amar makruf nahi mungkar sekaligus mempererat ukhuwah Islamiyah.
Ia mengingatkan agar proses permusyawaratan di Muhammadiyah tidak meniru praktik politik yang mengedepankan persaingan semata.
"Hindari permusyawaratan di Muhammadiyah menjadi permusyawaratan ala partai politik. Kalau partai politik itu prinsipnya zero sum game. Siapa yang menang dia akan dapat semuanya, yang kalah enggak dapat bagian apa-apa," tegasnya.
Agung menambahkan, dalam dunia politik kerap muncul prinsip bahwa tujuan menghalalkan segala cara. Menurutnya, nilai tersebut tidak boleh tumbuh dalam budaya organisasi Muhammadiyah.
"Di Muhammadiyah enggak boleh yang seperti itu. Cita-cita baik harus dilakukan dengan cara-cara yang baik," ujarnya.
Selain penguatan organisasi, Agung juga menekankan pentingnya memperkokoh sistem pengaderan Muhammadiyah. Ia menyebut terdapat tiga pilar utama yang harus terus dipersiapkan, yakni kader persyarikatan, kader umat, dan kader bangsa.
Menurutnya, ketiga pilar tersebut menjadi fondasi agar kader dan diaspora Muhammadiyah yang berkiprah di berbagai bidang tetap berpegang teguh pada ideologi Persyarikatan.
"Kehadiran para kader dan diaspora Muhammadiyah dimaknai sebagai upaya Muhammadiyah untuk menyiapkan sekaligus mengirimkan putra-putri terbaik dalam ranah keumatan dan kebangsaan," jelasnya.
Pada bagian lain, Agung mengingatkan pentingnya menjaga komitmen kebangsaan. Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah telah menempatkan komitmen terhadap Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dalam konsep Negara Pancasila sebagai Darul Ahdi wa Syahadah. Karena itu, Muhammadiyah beserta seluruh organisasi otonom memiliki tanggung jawab moral untuk menjaga sekaligus mengisi kehidupan berbangsa dengan karya nyata.
Ia juga mengajak kader Nasyiatul 'Aisyiyah berkontribusi mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur, yakni masyarakat yang makmur, berakhlak mulia, dan mendapat keberkahan Allah Swt.
"Untuk kader itu tidak cukup hanya mengeluh, tapi juga harus diiringi action yang jelas. Kita tunjukkan, kita ciptakan kader-kader yang terbaik bagi kita untuk mengawal bagaimana agar negara kita bisa menjadi baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur," pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow