1.634 Calon Jamaah Haji DIY Ikuti Manasik Kolosal di Kulon Progo, Siap Jadi Haji Mandiri
KULON PROGO — Langit Kulon Progo di hari Ahad siang (8/2) seolah dipenuhi lantunan talbiyah. Kalimat suci tersebut mengepul dari bibir ribuan calon jamaah haji yang tengah mengikuti praktik manasik haji kolosal. Puluhan bus tampak mengular, antre menurunkan jamaah di titik yang ditandai sebagai Mina.
Tepat pukul 11.00 WIB, para calon jamaah dari seluruh kabupaten/kota di DIY memulai salah satu rukun haji, yakni melempar jumrah. Ribuan jamaah mengenakan pakaian ihram, menyulap Stadion Cangkring Wates menjadi gambaran suasana di Tanah Suci. Di bawah terik matahari yang mulai meninggi, laki-laki dan perempuan, tua-muda, bahkan remaja hingga anak-anak, berbaur mengikuti aba-aba ketua rombongan masing-masing.
Panitia yang mengenakan atasan batik berjaga di setiap titik, sigap membantu jamaah yang membutuhkan pendampingan. Prosesi manasik sendiri telah dimulai sejak pukul 06.00 WIB. Sebelum lempar jumrah, jamaah berangkat dari penginapan di Masjid Muhiba menuju Taman Budaya Kulon Progo untuk melaksanakan wukuf di Arafah. Rangkaian puncak kegiatan berlangsung di Alun-alun Wates, tempat jamaah menunaikan tawaf dan sa’i sebagai penutup rangkaian wajib haji dalam praktik tersebut.
Ketua Lembaga Pembinaan Haji dan Umrah (LPHU) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Nanang Joko Purwanto, menjelaskan bahwa manasik haji kolosal tahun ini dipusatkan di Kulon Progo sebagai bagian dari skema bergilir. Tahun sebelumnya, kegiatan serupa dilaksanakan di Kabupaten Bantul.
“Tahun ini mengalami peningkatan signifikan. Ada 1.634 calon jamaah haji di bawah naungan LPHU PWM DIY yang mengikuti manasik ini sebagai ikhtiar pembekalan menyeluruh sebelum berangkat ke Tanah Suci,” ujarnya.
Nanang berharap manasik kolosal ini menjadi bekal berharga sejak jamaah berangkat dari rumah, menuju embarkasi, hingga berada di Tanah Suci dan kembali ke Indonesia dengan selamat serta meraih predikat haji mabrur.
Ia menambahkan, melalui KBIHU ‘Aisyiyah yang tersebar di seluruh DIY, pendampingan dilakukan secara intensif dan terarah. “Melalui manasik ini, calon jamaah dibekali agar menjadi haji yang mandiri, tidak bergantung kepada yang lain, insyaAllah menjadi haji yang mabrur,” paparnya.
Sementara itu, Ketua KBIHU ‘Aisyiyah Kulon Progo, Subintomo, menyebut jamaah asal Kulonprogo tahun ini akan menjadi kloter pertama yang diberangkatkan. Hal itu menuntut kesiapan prima, baik dari sisi pengetahuan maupun fisik.
“Untuk melancarkan ibadah di Tanah Suci yang beriklim panas, sangat penting bagi jamaah menjaga kesehatan dan melatih kesabaran,” pesannya.
Ketua Lembaga Pembinaan Haji dan Umrah Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Muhammad Ziyad, yang turut hadir menilai manasik kolosal di Kulonprogo sebagai contoh praktik ideal dan berkemajuan.
“Saya kira cita-cita besar haji nasional seperti ini. Ada bimbingan matang, praktik yang mudah dipahami, serta simulasi mobilitas jamaah dari satu titik ke titik lain sebagaimana di Tanah Suci. Ini contoh manasik haji yang baik secara nasional,” tegasnya.
Ziyad juga mengingatkan dua tantangan utama ibadah haji, yakni besarnya jumlah jamaah yang menuntut kesadaran kolektif serta kondisi cuaca panas ekstrem di Arab Saudi. Terlebih, sekitar 60 persen jamaah Indonesia merupakan lansia yang sebagian besar berasal dari desa.
"Pembekalan seperti ini menjadi keniscayaan agar ketika di Tanah Suci mereka tidak terkagok-kagok dan mampu memahami seluruh rangkaian ibadah secara menyeluruh,” tandasnya.
Manasik kolosal ini bukan sekadar simulasi, melainkan ikhtiar serius menyiapkan jamaah DIY menjadi haji yang tangguh, mandiri, dan siap menghadapi tantangan ibadah di Tanah Suci.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow