SLEMAN - Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah DI Yogyakarta (PWM DIY) Dr. M. Ikhwan Ahada, M.A. menjelaskan bahwa terdapat tiga konsekuensi bagi seseorang yang menetapkan jalan berislamnya melalui manhaj Muhammadiyah. Hal ini disampaikan olehnya saat memotivasi peserta Baitul Arqam PWPM dan PWNA DIY, Jumat (12 Rabiul Akhir 1445 H bertepatan 26 Oktober 2023) malam, di Balai Pemerintahan Desa, Kalasan, Sleman. 

Tiga konsekuensi tersebut, yang pertama adalah memantik dan menguatkan rasa iman atau believe-nya kepada Allah. Bermuhammadiyah artinya siap untuk menghidupkan dan menguatkan iman kepada Allah. Kedua, orang yang ikhlas dan niat untuk masuk Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah itu harus memantik dan mengoptimalkan penggunaan akal sehat. Ketiga, memantik dan menumbuhkembangkan amal sholeh, sebagai konsekuensi dari iman kepada Allah. 

ads

Tiga konsekuensi inilah yang diemban oleh KH. Ahmad Dahlan sejak berinisiatif mendirikan Muhammadiyah. Kyai Dahlan telah berijtihad bahwa memahami islam itu tidak cukup pada bagaimana memantik dan menguatkan iman, tetapi mengimplementasikan iman itu dalam kerangka amal sholeh untuk kemudian dilembagakan. Inilah wujud dari keimanan yang dipahami Kyai Dahlan dan sudah menjadi ciri khas Muhammadiyah dalam memandang islam

"Jika berislam tidak diimbangi dengan amal shalih, maka sesungguhnya itu adalah nir islam dan bermuhammadiyah itu adalah tuntutan konsekuensi bagaimana nalar sehat dalam agama," jelas Ikhwan. 

Adapun, amal shalih yang diyakini oleh Muhammadiyah itu kemudian diimplementasikan kepada lima makna tajdid, yakni tamkiniyah (memberdayakan), taqdimiyah (memajukan), taqwiyah (menguatkan), tanwiriyah (mencerahkan), dan tahririyah (membebaskan). Lima poin inilah yang menjadi watak dari Muhammadiyah dalam bergerak. 

"Inilah watak Muhammadiyah, menjadikan orang dari mustahik menjadi muzakki dan terbelakang menjadi maju. Lalu, goal-nya mampu mengangkat manusia berposisi pada tahrir atau merdeka. Orang yang merdeka itu tidak memiliki ketergantungan apapun kecuali pada Allah," ucap Ikhwan. 

Watak Muhammadiyah yang seperti ini sudah mendarah daging pada warga persyarikatan, khususnya Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul 'Aisyiyah DIY. Keduanya, kata Ikhwan, punya tugas berat dalam rangka mensuasanakan watak Muhammadiyah seperti yang disebutkan sebelumnya. 

Oleh karena itu, Ikhwan memberikan tiga kata kunci. Yakni, sinergi, kohesi, dan kolaborasi, ketiganya sangat penting bagi Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul 'Aisyiyah untuk bergerak mengembangkan dakwah persyarikatan dan watak Muhammadiyah itu sendiri. 

"PWM DIY banyak berharap kepada Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul 'Aisyiyah serta ortom untuk kita semuanya bisa lebih berdaya dan nyata dalam gerakannya. Boleh di internal ada dinamika, tetapi gerakan di luar harus tersampaikan. Saya yakin baik Pemuda Muhammadiyah dan Nasyiatul 'Aisyiyah punya jaringan pergaulan luas untuk membangun sinergi, kohesi, dan kolaborasi," tandas Ikhwan. (*) 

Wartawan: Dzikril Firmansyah