Yayan Suryana: Muhammadiyah Harus Hadirkan Nilai Spiritual dalam Kehidupan Nyata

Yayan Suryana: Muhammadiyah Harus Hadirkan Nilai Spiritual dalam Kehidupan Nyata

Smallest Font
Largest Font

SLEMAN — Islam tidak hanya mengatur hubungan manusia dengan Allah, tetapi juga menuntun manusia membangun peradaban yang berkeadaban.

Pandangan itu disampaikan Dr. Yayan Suryana, M.Ag., Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam Baitul Arqam Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Depok, Sleman, Sabtu (11/10).

Dalam materi bertajuk “Islam Berkemajuan yang Berkeadaban,” Yayan menegaskan bahwa Islam berkemajuan merupakan makna otentik dari Islam itu sendiri. Islam, kata dia, adalah din al-hadharah — agama yang menuntun umatnya untuk membangun peradaban luhur.

“Islam berkemajuan adalah paham keislaman yang menjadikan Islam sebagai kekuatan pencerahan dan pembaruan. Dengan semangat tajdid, Islam ditafsirkan secara otentik dan kontekstual untuk menjawab tantangan zaman, memerangi kebodohan, dan kemerosotan akhlak, serta mewujudkan peradaban unggul,” ujar Yayan.

Secara teologis, Islam berkemajuan, lanjutnya, merupakan refleksi dari nilai-nilai transendensi, liberasi, emansipasi, dan humanisasi sebagaimana pesan Al-Qur’an dalam surat Ali Imran ayat 104 dan 110.

Yayan menjelaskan bahwa berkeadaban berarti menjunjung tinggi nilai moral, spiritual, dan kemanusiaan dalam setiap aspek kehidupan. Dalam bahasa Al-Qur’an, konsep keadaban disebut sebagai ta’dib — proses pembentukan manusia yang sadar akan hubungan dengan Allah, sesama manusia, dan alam semesta.

“Keadaban adalah manifestasi kemuliaan manusia, dan topologi berkeadaban menjadi cara untuk memetakan bagaimana kemuliaan itu diwujudkan dalam kehidupan pribadi, sosial, dan kelembagaan,” paparnya.

Ia kemudian menguraikan tiga dimensi utama topologi berkeadaban. Keadaban spiritual adalah menempatkan Allah sebagai pusat orientasi kehidupan (tauhid). Ibadah tidak berhenti pada ritual, tetapi menjadi bentuk kejujuran, amanah, dan tanggung jawab moral.

“Pemimpin berkeadaban dimulai dari integritas spiritual, hati yang bersih dari kesombongan kekuasaan,” kata Yayan. Seraya mengingatkan pesan surat Al-Hujurat ayat 13, Ia menegaskan, spiritualitas tidak boleh berhenti di atas sajadah semata.

“Beribadah kepada Allah jangan berhenti di atas sajadah saja. Muhammadiyah luar biasa karena menghadirkan nilai spiritual dalam kehidupan nyata—tidak teosentris maupun antroposentris, tetapi teoantroposentris,” imbuhnya.

Kemudian, keadaban intelektual, yakni menghormati ilmu, membuka ruang dialog, dan menghargai perbedaan. Kader Muhammadiyah, katanya, harus berpikir kritis dan terbuka tanpa kehilangan landasan nilai wahyu sebagaimana kandungan surat Az-Zumar ayat 9.

Keadaban sosial, artinya mengedepankan keadilan, empati, dan kepedulian terhadap sesama tanpa membeda-bedakan latar belakang suku, agama, atau status sosial.

“Inilah napas gerakan Muhammadiyah, sebagaimana gerakan Al-Ma’un yang menolong, memberdayakan, dan menegakkan kemanusiaan,” tutur Yayan.

Dalam konteks kekinian, Yayan menyoroti tiga tantangan besar yang menguji keadaban umat. Pertama, disrupsi digital yang dipicu perubahan ekstrem akibat teknologi, AI, dan globalisasi yang mengguncang nilai moral dan sosial.

Kedua, conservative turn atau menguatnya konservatisme dan skripturalisme yang menolak pembaruan serta menutup diri dari pluralitas. Ketiga, polarisasi sosial dan keagamaan, yang disebabkan fragmentasi akibat perbedaan tafsir, ideologi, dan politik identitas, termasuk di ruang digital.

“Kita menghadapi banjir informasi tanpa adab, orientasi materialistis, dan klaim kebenaran tunggal. Di sinilah pentingnya Islam berkemajuan sebagai panduan menghadirkan keadaban baru dalam masyarakat,” jelasnya.

Yayan menegaskan bahwa Islam Berkemajuan telah menjadi pikiran resmi Muhammadiyah melalui keputusan Muktamar, dan harus terus dihidupkan di semua tingkatan, bukan hanya di kalangan elite.

“Internalisasi Islam Berkemajuan harus dilakukan secara sistematis hingga ke cabang dan ranting melalui kajian-kajian persyarikatan. Inilah yang akan menjadikan Islam Berkemajuan bukan sekadar wacana, tetapi gerakan nyata,” tegasnya.

Ia mengapresiasi langkah PCM Depok yang dinilai progresif dalam menguatkan pemahaman Islam Berkemajuan melalui penyelenggaraan Baitul Arqam.

"Kegiatan ini menghadirkan materi yang segar, tidak lagi pada tataran dasar, tapi sudah menyentuh tahap lanjut dalam pembentukan kader dan pemimpin yang berkeadaban,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow