Waspada Wabah Ebola 2026: Kenali Gejala Awal dan Cara Mencegahnya

Waspada Wabah Ebola 2026: Kenali Gejala Awal dan Cara Mencegahnya

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Meningkatnya kembali kasus Ebola di dunia menjadi pengingat pentingnya kewaspadaan masyarakat terhadap penyakit tersebut. Meski dikenal memiliki tingkat kematian yang tinggi, gejala awal Ebola sering kali menyerupai influenza sehingga berisiko membuat penderita terlambat mendapatkan penanganan.

Perhatian dunia terhadap Ebola kembali menguat setelah Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menetapkan wabah Ebola varian virus Bundibugyo di Republik Demokratik Kongo dan Uganda sebagai Public Health Emergency of International Concern (PHEIC). Hingga 2 Juli 2026, jumlah kasus terkonfirmasi dilaporkan telah melampaui 1.460 kasus dengan ratusan korban jiwa. Kewaspadaan global juga meningkat setelah ditemukan kasus impor di Eropa.

Dosen Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan (FKIK) Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), dr. Farindira Vesti Rahmasari, M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa Ebola merupakan penyakit yang disebabkan oleh virus dari genus Orthoebolavirus dan telah lama menjadi perhatian dunia karena berpotensi memicu wabah dengan tingkat kematian yang tinggi.

"WHO menyebut Ebola sebagai penyakit yang berat dan sering kali berakibat fatal. Tingkat kematiannya rata-rata sekitar 50 persen, meskipun pada berbagai wabah sebelumnya dapat berkisar antara 25 hingga 90 persen. Karena itu, penyakit ini perlu dikenali sejak dini agar penanganannya dapat dilakukan secepat mungkin," ujarnya, Sabtu (4/7).

Farindira menjelaskan, pada fase awal penderita umumnya mengalami demam, kelelahan, nyeri otot, sakit kepala, dan sakit tenggorokan. Gejala-gejala tersebut dikenal sebagai dry symptoms sehingga kerap disalahartikan sebagai flu atau penyakit ringan lainnya.

"Karena gejala awalnya mirip flu, masyarakat sering kali menganggapnya sebagai penyakit biasa. Padahal, setelah itu gejala dapat berkembang menjadi lebih berat, seperti muntah, diare, nyeri perut, gangguan fungsi hati dan ginjal, hingga perdarahan. Perdarahan memang tidak selalu muncul, tetapi umumnya terjadi pada fase penyakit yang sudah lebih lanjut," jelasnya.

Menurut Farindira, masa inkubasi Ebola berkisar antara dua hingga 21 hari, dengan gejala umumnya mulai muncul sekitar delapan hingga sepuluh hari setelah seseorang terpapar virus. Selama belum menunjukkan gejala, seseorang umumnya belum menularkan penyakit tersebut. Namun, risiko penularan meningkat ketika gejala mulai muncul sehingga deteksi dini menjadi sangat penting.

Ia menambahkan, kelompok yang memiliki risiko lebih tinggi terpapar Ebola meliputi tenaga kesehatan, anggota keluarga yang merawat pasien, petugas laboratorium, petugas pemulasaraan jenazah, serta pelaku perjalanan dari wilayah terdampak. Selain itu, orang yang melakukan kontak dengan satwa liar berisiko, seperti kelelawar buah dan primata di daerah endemis, juga perlu meningkatkan kewaspadaan.

Meski demikian, Farindira menegaskan bahwa Ebola dapat dicegah melalui penerapan langkah-langkah sederhana secara konsisten. Masyarakat diimbau menghindari kontak langsung dengan darah maupun cairan tubuh orang yang terinfeksi, tidak menyentuh benda yang diduga terkontaminasi, serta tidak melakukan kontak langsung dengan jenazah pasien tanpa prosedur yang aman.

Di fasilitas pelayanan kesehatan, kata dia, penerapan pencegahan dan pengendalian infeksi menjadi kunci untuk melindungi tenaga kesehatan maupun pasien.

"Penggunaan alat pelindung diri, ruang isolasi yang sesuai standar, penemuan kasus secara cepat, prosedur rujukan yang tepat, hingga pengelolaan spesimen harus dilakukan sesuai standar. Upaya pencegahan tidak hanya bergantung pada fasilitas kesehatan, tetapi juga membutuhkan kesadaran masyarakat untuk segera memeriksakan diri apabila mengalami gejala setelah melakukan perjalanan dari wilayah yang terdampak," tuturnya.

Farindira juga mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan gejala yang muncul setelah bepergian ke wilayah dengan transmisi Ebola aktif. Menurutnya, keterbukaan dalam menyampaikan riwayat perjalanan kepada tenaga kesehatan akan sangat membantu proses diagnosis sekaligus mempercepat penanganan apabila ditemukan dugaan kasus.

"Riwayat perjalanan merupakan informasi penting bagi tenaga kesehatan dalam menentukan langkah diagnosis dan penanganan. Karena itu, masyarakat perlu bersikap terbuka agar potensi penularan dapat segera dikendalikan," pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow