Topo Pepe di Tengah Aksi IMM-IPM DIY, Simbol Aduan Rakyat kepada Penguasa
YOGYAKARTA — Ada pemandangan berbeda dalam aksi demonstrasi yang digelar ratusan kader Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) dan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) pada Senin (22/6). Di tengah rangkaian aksi, seluruh peserta secara serentak duduk bersila dan berdiam diri selama hampir 30 menit di kawasan Titik Nol Kilometer Yogyakarta.
Aksi itu adalah Topo Pepe, sebuah tradisi masyarakat Jawa yang sarat nilai simbolis. Dalam budaya Keraton Yogyakarta, Topo Pepe dikenal sebagai cara rakyat menyampaikan pengaduan dan mencari keadilan ketika berbagai saluran aspirasi dianggap tidak lagi mampu menjawab persoalan yang dihadapi.
Annas Mahardika, kader Pimpinan Komisariat IMM Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, salah satu yang memimpin tradisi ini saat aksi, menjelaskan bahwa Topo Pepe merupakan gabungan dari dua kata, yakni topo yang berarti berdiam diri dan pepe yang berarti berjemur di bawah terik matahari.
"Topo itu berdiam diri, pepe itu berjemur. Jadi seperti kita menghadap ke keraton sembari berdiam diri," ujarnya saat aksi berlangsung.
Menurut Annas, tradisi tersebut sengaja dipilih sebagai bentuk simbolik penyampaian aspirasi kepada pemerintah, khususnya Pemerintah DIY. Melalui Topo Pepe, para kader IMM dan IPM ingin menyampaikan pesan bahwa kondisi bangsa saat ini dinilai sedang menghadapi berbagai persoalan yang memerlukan perhatian serius dari para pemangku kebijakan.
Ia menegaskan bahwa aksi diam tersebut merupakan bentuk protes sekaligus aduan kepada Gubernur DIY, Sri Sultan Hamengkubuwono X, agar keresahan masyarakat dapat diteruskan dan menjadi perhatian pemerintah, baik di tingkat daerah maupun pusat.
"Sebagai bentuk protes dan aduan kepada Gubernur DIY agar menyampaikan apa yang menjadi kekhawatiran kami. Jadi kami berdiam diri sekaligus berjemur, tidak melakukan kegiatan apa pun selain duduk menghadap ke arah Keraton," jelasnya.
Melalui aksi tersebut, para peserta berharap pemerintah lebih peka terhadap berbagai persoalan yang dirasakan masyarakat. Mereka menginginkan agar suara rakyat tidak hanya didengar, tetapi juga ditindaklanjuti melalui kebijakan yang berpihak pada kepentingan publik.
"Harapan saya setelah aksi ini, baik pemerintah provinsi maupun pemerintah pusat dapat menghiraukan keresahan rakyat dan memberikan respons yang nyata terhadap berbagai persoalan yang ada," pungkas Annas.
Aksi Topo Pepe itu menjadi salah satu momen paling menarik dalam demonstrasi IMM-IPM DIY. Di tengah riuhnya orasi dan tuntutan yang disampaikan, keheningan para peserta justru menjadi pesan kuat bahwa masih banyak kegelisahan rakyat yang menunggu untuk didengar oleh para pemegang kekuasaan.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow