PWM DIY Tekankan Pengelolaan Masjid Berkemajuan, Perlu Forum Takmir Muhammadiyah se-DIY

PWM DIY Tekankan Pengelolaan Masjid Berkemajuan, Perlu Forum Takmir Muhammadiyah se-DIY

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA – Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. Ridwan Furqoni, M.Pd.I., menegaskan pentingnya pengelolaan masjid secara profesional dan berkemajuan sebagai upaya memaksimalkan pembinaan jamaah. Hal itu ia sampaikan dalam forum FGD Majelis Tabligh PWM DIY bertajuk "Peningkatan Kapasitas Pengelolaan Masjid/Mushola Muhammadiyah Berbasis Potensi Kewilayahan", Sabtu (15/11).

Ridwan menyebutkan bahwa terdapat sekitar 1.400 masjid wakaf Muhammadiyah di DIY yang menjadi aset strategis persyarikatan. Besarnya jumlah tersebut menunjukkan betapa pentingnya posisi masjid sebagai wajah Muhammadiyah sekaligus pusat pergerakan di tingkat akar rumput.

"Masjid itu wajah persyarikatan sekaligus unit yang langsung berhadapan dengan masyarakat. Karena itu, masjid harus kita kelola dengan sebaik mungkin dan maksimal,” tegasnya.

Ridwan mengajak seluruh takmir dan penggerak persyarikatan untuk memandang masjid sebagai Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) yang memerlukan sistem pembinaan layaknya sekolah, panti asuhan, atau rumah sakit.

Ia mencontohkan bagaimana sekolah-sekolah Muhammadiyah dibina melalui Majelis Dikdasmen dan Pendidikan Non Formal, mulai dari pengawasan rutin, rotasi kepala sekolah, hingga evaluasi kurikulum. Rumah Sakit Muhammadiyah pun dikelola secara profesional oleh Majelis PKU. Panti Asuhan juga semakin maju dengan dibentuknya Forum Pengelola Panti Asuhan Muhammadiyah dan 'Aisyiyah (FORPAMA) oleh Majelis Pembinaan Kesejahteraan Sosial (MPKS) sebagai wadah berbagi ilmu dan silaturahim.

"Semangat yang sama harus kita bangun dalam pengelolaan masjid. Majelis Tabligh bisa menjadi pengampu pembinaan, sementara LPCRPM mendampingi pengembangan masjid percontohan dan inovasi,” jelas Ridwan.

Majelis Tabligh, lanjutnya, bisa menginisiasi berbagai program seperti Sekolah Takmir, penyusunan kurikulum pengajian, hingga pembinaan profesional bagi para pengelola masjid. Upaya ini diharapkan mampu menjadikan pengelolaan masjid setara dengan standar pengelolaan AUM lain di lingkungan Muhammadiyah.

Dalam kesempatan itu, Ridwan juga menyoroti belum adanya wadah komunikasi antar takmir masjid Muhammadiyah di Yogyakarta. Menurutnya, forum semacam ini sangat diperlukan untuk saling berbagi pengalaman, belajar praktik terbaik, dan merumuskan strategi pengembangan masjid yang berkelanjutan.

“Masjid adalah AUM terbanyak dibanding sekolah, panti, atau rumah sakit. Jumlahnya besar, tetapi pengelolanya masih terbatas dan keahliannya perlu ditingkatkan. Karena itu, forum takmir sangat penting,” imbuhnya.

Forum tersebut nantinya diharapkan menjadi mitra strategis Majelis Tabligh dan LPCRPM, khususnya divisi bidang masjid, dalam memperkuat kapasitas takmir dan mendorong masjid Muhammadiyah tumbuh bersama secara sistematis.

Ridwan optimistis, dengan dukungan Majelis Tabligh dan LPCRPM, pengelolaan masjid Muhammadiyah di Yogyakarta dapat semakin profesional serta mampu memaksimalkan seluruh potensi dakwah, sosial, dan pendidikan.

“Mudah-mudahan melalui pembinaan yang baik dan forum bersama, masjid-masjid kita tumbuh berdaya dan berkembang lebih dahsyat,” tutupnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow