PWM DIY Apresiasi Gebyar Panggung Difabel RS PKU Yogya-Gamping: Wujud Nyata Inklusivitas Muhammadiyah

PWM DIY Apresiasi Gebyar Panggung Difabel RS PKU Yogya-Gamping: Wujud Nyata Inklusivitas Muhammadiyah

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Seluruh manusia, termasuk penyandang difabel, adalah subjek kemanusiaan yang memiliki karamah insaniyah. Mereka berhak atas kesetaraan dan bebas dari diskriminasi. Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Dr. H. Nur Ahmad Ghojali, S.Ag., M.A., saat hadir dalam Gebyar Panggung Gembira Sahabat Difabel yang diselenggarakan LAZISMU RS PKU Muhammadiyah Yogyakarta–Gamping, Kamis (11/12).

Dalam sambutannya, Ia menegaskan bahwa acara ini bukan hanya perayaan tahunan, tetapi bagian dari komitmen bersama untuk menguatkan budaya inklusif di tubuh Muhammadiyah dan masyarakat luas.

Oleh karena itu, Ghojali menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya panggung ekspresi bagi peserta didik difabel dari SLB Muhammadiyah se-DIY. Menurutnya, momentum Hari Difabilitas Internasional adalah saat yang tepat untuk memperkuat kesadaran tentang pentingnya menghormati martabat setiap manusia.

“Ini menjadi kebahagiaan bagi anak-anak yang hari ini tampil menunjukkan potensi terbaiknya. Hari Difabilitas Internasional merupakan momen penting untuk memperkuat komitmen inklusi dan memanusiakan manusia,” ujarnya.

Ia mengutip pemikiran Kuntowijoyo tentang humanisasi dan liberasi, dua konsep yang menurutnya relevan dalam perjuangan pemenuhan hak penyandang disabilitas. Muhammadiyah, lanjutnya, harus memastikan penghormatan terhadap martabat setiap individu sekaligus memberi ruang bagi kelompok difabel untuk memperoleh akses layanan, kesempatan, dan pemberdayaan setara.

Ghojali juga mencontohkan teladan Rasulullah SAW melalui kisah Ibnu Ummi Maktum, sahabat tunanetra yang diangkat sebagai muadzin dan beberapa kali dipercaya memimpin administrasi di Madinah. Nama dari Ibnu Ummi Maktum ini digunakan untuk TPQ Inklusif di Masjid Haiban Hadjid PWM DIY.

“Rasulullah memberikan pengakuan dan penghargaan terhadap kemampuan seseorang, apa pun kondisinya. Ini adalah spirit inklusi yang harus kita hidupkan,” tuturnya.

Selain itu, ia mengingatkan bahwa sejak awal berdirinya, KH. Ahmad Dahlan telah menanamkan spirit inklusivitas dalam gerakan pendidikan dan layanan sosial Muhammadiyah. Menurutnya, nilai-nilai itu harus terus diwariskan dalam kerja-kerja kemanusiaan, termasuk dalam mendukung keberdayaan difabel.

Ia menegaskan bahwa panggung gembira difabel ini bukan sekadar hiburan, melainkan ruang ekspresi yang membangun rasa percaya diri dan pengakuan publik terhadap kemampuan para peserta. “Teman-teman difabel adalah bagian tak terpisahkan dari peradaban. Mereka memiliki kemampuan, talenta, dan hak untuk berkembang,” tegasnya.

PWM DIY, lanjutnya, berkomitmen memperkuat fasilitas dan layanan ramah difabel di sekolah maupun unit pelayanan publik di lingkungan persyarikatan. Ia menegaskan bahwa Muhammadiyah harus hadir sebagai inclusive society for all, sejalan dengan semangat Islam berkemajuan.

"Insya Allah kami akan terus mendukung program-program pemberdayaan difabel,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow