PDM Kab. Mojokerto Kunjungi PWM DIY: Napak Tilas Perjuangan KHA Dahlan Mendirikan Muhammadiyah
YOGYAKARTA — Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY) mendapatkan kunjungan yang istimewa, yakni Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Mojokerto melakukan kunjungan silaturahmi dan napak tilas perjalanan sejarah Muhammadiyah di Yogyakarta, Sabtu (18/10).
Kedatangan PDM Kabupaten Mojokerto di Gedung Muhammadiyah DIY Jalan Gedongkuning no. 130 B, Kota Yogyakarta, disambut langsung oleh Wakil Ketua PWM DIY, Dr. Iwan Setiawan, M.S.I., dan Wakil Sekretaris Dr. Farid Setiawan, M.Pd.I., Seluruh rombongan disambut dan dibawa ke Masjid Haiban Hadjid PWM DIY.
Rombongan yang berjumlah 52 orang ini terdiri atas unsur PDM dan Pimpinan Daerah 'Aisyiyah (PDA) Kabupaten Mojokerto, serta beberapa Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) dan Pimpinan Cabang 'Aisyiyah (PCA) se-Kabupaten Mojokerto. Mereka berangkat dari Masjid Al-Falah, Tangunan, Puri, Mojokerto, pukul 07.00 WIB dan tiba di Gedung Muhammadiyah DIY sekitar pukul 12.30 WIB.
Ketua PDM Kabupaten Mojokerto, Dr. H. Nurwidji, MHA., M.S.I., menyampaikan rasa syukur dan kebahagiaannya atas sambutan hangat yang diberikan oleh PWM DIY.
“Alhamdulillah, kami diterima dengan baik, mudah-mudahan menjadi berkah dari Allah. Kami tidak menyangka apa yang disuguhkan sangat bermanfaat sehingga menjadi semangat dalam perjalanan napak tilas ini,” ujarnya.
Nurwidji menambahkan, kunjungan ini berawal dari keinginan para peserta untuk mengenal lebih dekat sejarah lahirnya Muhammadiyah dan perjuangan Kiai Dahlan. Dari rombongan PDM Kabupaten Mojokerto ingin agar napak tilas ini menjadi bagian dari upaya memperkuat semangat bermuhammadiyah serta meneladani perjuangan pendiri Persyarikatan, KH Ahmad Dahlan.
“Kami ingin tahu bagaimana asal-usul Kiai Ahmad Dahlan mendirikan Muhammadiyah. Mudah-mudahan selepas dari sini semakin meningkat semangat kami dalam bermuhammadiyah dan menjalankan ajaran Islam dengan sebaik-baiknya,” imbuhnya.
Sementara itu, Farid Setiawan mewakili PWM DIY, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi atas kunjungan rombongan PDM Mojokerto.
“Kami mengucapkan selamat datang di kantor kami yang berdekatan dengan Kantor PP Muhammadiyah. Ini menjadi momen penting bagi kami untuk menyambut bapak dan ibu dari PDM serta PDA Kabupaten Mojokerto,” ujarnya.
Farid menekankan pentingnya memahami sejarah sebagai pijakan gerakan tajdid Muhammadiyah.
"Buya Syafii pernah mengatakan, sejarah adalah jembatan antara masa lalu dan masa kini untuk memproyeksikan masa depan. Karena itu, kita perlu memetik hikmah dari sejarah agar kompas gerakan tetap di jalurnya. Tajdid yang diajarkan Kiai Dahlan harus terus diperbarui sesuai dengan tantangan zaman,” ungkapnya.
Kemudian, Iwan Setiawan, turut memberikan penjelasan tentang perjalanan hidup Kiai Dahlan dan kiprah dakwahnya yang tidak lepas dari 3 K, yakni Kauman, Karangkajen, dan Kotagede. Kauman sebagai tempat kelahirannya, serta Karangkajen dan Kotagede yang menjadi tempat Muhammadiyah berkembang di Yogyakarta pada masa awal berdiri.
Iwan menjelaskan, ketika di Kauman Kiai Dahlan tidak mendapatkan sambutan positif saat mendirikan Muhammadiyah, justru saat menggelar pengajian di Karangkajen dan Kotagede, beliau diterima dengan baik. Di Karangkajen, Kiai Dahlan menggelar dua pengajian, yakni Wal Fajri dan Fathul Ashor Miftahus sa'adah yang menjadi cikal bakal Pimpinan Muhammadiyah Karangkajen. Sedangkan di Kotagede, beliau menginisiasi Pengajian Syarikatul Muhtadin yang juga akan menjadi cikal bakal Pimpinan Muhammadiyah Kotagede.
“Kiai Dahlan awalnya berdakwah melalui pengajian di berbagai kampung, seperti Karangkajen dan Kotagede. Dari pengajian itu lahir amal usaha dan berkembang menjadi gerakan besar yang kita kenal hingga kini,” paparnya.
Dalam rangkaian kunjungan tersebut, peserta tidak hanya berkunjung ke Gedung Muhammadiyah DIY, tetapi juga melanjutkan agenda ke sejumlah tempat bersejarah Muhammadiyah di Yogyakarta. Di antaranya Masjid Jogokariyan, Masjid Gedhe Kauman, Museum Muhammadiyah di Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan (UAD), serta kawasan Malioboro yang menjadi lokasi bersejarah deklarasi Muhammadiyah pada 20 Desember 1912, tepatnya di Gedung Loji Mataram (sekarang beralih menjadi Gedung DPRD DIY)
Dengan meneladani semangat kebersamaan dan perjuangan Kiai Dahlan, PWM DIY berharap kunjungan ini menjadi inspirasi untuk memperkuat gerakan dakwah dan tajdid Muhammadiyah di Kabupaten Mojokerto dan sekitarnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow