Panitia MJE #4 Resmi Dibubarkan: Momen Reflektif Sambut MJE #5 yang Lebih Istimewa
YOGYAKARTA — Suasana penuh kehangatan memenuhi Aula Gedung Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY), Sabtu (23/11), ketika panitia Muhammadiyah Jogja Expo (MJE) #4 resmi dibubarkan. Bukan hanya seremoni administratif, pertemuan itu berubah menjadi momen reflektif tentang harapan besar, kekurangan yang perlu dibenahi, dan cita-cita menjadikan MJE berikutnya sebagai persembahan istimewa menjelang Muktamar ke-49 Muhammadiyah tahun 2027 mendatang.
Ketua PWM DIY, Dr. H. Muhammad Ikhwan Ahada, M.A., dalam sambutannya mengapresiasi kerja keras panitia dan keberhasilan penyelenggaraan MJE #4 yang mampu menarik lebih dari 50 ribu pengunjung. Dari data yang tercatat resmi, terdapat 40.012 pengunjung, dengan lonjakan terbesar pada hari terakhir.
“Separuh lebih pengunjung adalah anak muda dan perempuan. Ini sinyal penting bahwa MJE ke depan harus benar-benar menjawab kebutuhan mereka,” ujarnya.
Namun di balik keberhasilan itu, ada catatan yang disorot Ikhwan dengan nada penuh keprihatinan. Ia menilai peran cabang dan ranting Muhammadiyah dalam MJE #4 masih belum tampak maksimal.
“Cabang itu berkembang, ranting itu penting. Jangan hanya jadi slogan menggembirakan, tetapi harus hadir nyata dan membanggakan,” tegasnya.
Pada gelaran MJE sebelumnya, terutama MJE #3, cabang dan ranting bukan hanya hadir, tetapi dilombakan, menunjukkan program-program terbaik mereka, bahkan beberapa masjid juara menjadi contoh nasional. Di MJE #4, semangat itu dirasa memudar. Ikhwan mencontohkan adanya booth yang seharusnya diisi cabang/ranting tetapi justru terisi perusahaan yang bahkan tidak paham Muhammadiyah dan gerakannya.
Karena itu, ia menekankan bahwa MJE #5 harus benar-benar menjadi etalase kekuatan Muhammadiyah dari akar rumput cabang, ranting, dan ibu-ibu 'Aisyiyah yang selama ini menjadi nafas gerakan persyarikatan.
Ketua Panitia MJE #4, Yulianto Neri Mugiono, menyampaikan rasa syukurnya karena acara berjalan lancar di tengah tantangan ekonomi dan menurunnya dukungan sponsor. Meski begitu, panitia justru mampu menutup pelaksanaan acara dengan catatan positif: tersedianya dana Rp50 juta untuk memulai persiapan MJE #5.
“Alhamdulillah, kami tinggalkan anggaran lima puluh juta rupiah untuk panitia MJE berikutnya. Semoga persiapannya bisa dimulai lebih dini, dengan semangat yang lebih menyala,” ujar Neri.
Selama ini, kepanitiaan inti MJE masih didominasi oleh Majelis Ekonomi, Bisnis dan Pariwisata (MEBP) PWM DIY, dengan dukungan majelis atau lembaga lain yang terkait dan LPCRPM. Ikhwan berharap pada MJE berikutnya, semua majelis dan lembaga lebih “ngambyuk” atau ikut terlibat secara penuh agar MJE tampil lebih kaya, variatif, dan representatif.
MJE bukan sekadar pameran ekonomi. Bagi PWM DIY, ajang ini adalah perhelatan dakwah komprehensif: memadukan ekonomi, pendidikan, kesehatan, kebudayaan, serta memperlihatkan wajah asli cabang dan ranting Muhammadiyah.
Dengan pengalaman MJE #4, mulai dari lonjakan pengunjung, evaluasi peran cabang-ranting, hingga capaian laba, PWM DIY ingin menjadikan MJE #5 sebagai langkah penting menyongsong Muktamar ke-49 Muhammadiyah di Medan pada tahun 2027.
Acara penutupan hari itu pun ditutup dengan suasana hangat, saling berterima kasih, dan keyakinan bahwa MJE ke depan harus lebih baik, lebih besar, dan lebih membanggakan.
What's Your Reaction?
-
2
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow