Muhammadiyah dan BPKH RI Tanam 712 Pohon Wakaf Produktif di Gunungkidul

Muhammadiyah dan BPKH RI Tanam 712 Pohon Wakaf Produktif di Gunungkidul

Smallest Font
Largest Font

GUNUNGKIDUL — Badan Pengelola Keuangan Haji (BPKH) Republik Indonesia bersama Majelis Lingkungan Hidup (MLH) PP Muhammadiyah dan LAZISMU PP Muhammadiyah menggelar Aksi Penanaman Pohon dalam Program Wakaf Pohon, pada Ahad (21/12). Agenda ini sebagai bagian dari komitmen pelestarian lingkungan dan penguatan ekonomi umat, di kawasan lahan wakaf Muhammadiyah, Gunungkidul, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Sebanyak 712 bibit pohon produktif dan konservatif ditanam di lahan wakaf seluas 1.734 m² di Gading dan 6.000 m² di Karangmojo, yang seluruhnya berstatus tanah wakaf dengan nadzir Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Gunungkidul. Jenis tanaman yang ditanam antara lain durian, aren, nangka, gayam, dan bambu, dengan dominasi tanaman aren dan bambu yang dinilai efektif dalam konservasi air dan penahan erosi.

Sekretaris Badan Pengurus LAZISMU PP Muhammadiyah, Gunawan Hidayat, S.T., M.T., menyampaikan bahwa LAZISMU dipercaya sebagai mitra strategis BPKH RI dalam implementasi program wakaf pohon yang berkelanjutan. Program ini juga menjadi bagian dari pilar LAZISMU dalam bidang lingkungan hidup.

“Sebagai bagian dari Muhammadiyah, kami berkolaborasi dengan Majelis Lingkungan Hidup untuk mendorong reboisasi melalui tanaman produktif. Harapannya, manfaatnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat, baik secara ekologis maupun ekonomis,” ujarnya.

Gunawan menambahkan, Muhammadiyah memiliki banyak lahan wakaf yang dapat dimanfaatkan secara optimal. Ke depan, pada 2026, LAZISMU juga mendapat mandat untuk mendorong pemanfaatan sertifikat tanah wakaf dalam penanganan lahan kritis, khususnya di wilayah Gunungkidul yang rawan kekeringan.

“Melalui pengelolaan lahan wakaf ini, kami berharap kawasan tersebut dapat berfungsi sebagai daerah resapan air dan menopang kebutuhan masyarakat sekitar,” imbuhnya.

Ketua Majelis Lingkungan Hidup PP Muhammadiyah, M. Azrul Tanjung, S.E., M.Si., menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari ikhtiar menjaga keseimbangan ekosistem, terutama kawasan hutan di Gunungkidul. Ia menilai alih fungsi hutan menjadi persoalan serius yang memicu bencana ekologis, seperti banjir dan longsor.

“Kesadaran ini semakin kuat setelah berbagai musibah ekologis terjadi di Sumatra dan wilayah lain. Kerusakan lingkungan tidak hanya menimbulkan kerugian materi, tetapi juga korban jiwa,” ungkapnya.

Azrul menyampaikan bahwa MLH PP Muhammadiyah selama tiga tahun terakhir telah konsisten melakukan penanaman pohon produktif di berbagai daerah, seperti Banten dan Kendari, sekaligus melakukan pelatihan kader lingkungan. Muhammadiyah, menurutnya, telah menyiapkan kader yang fokus pada isu kehutanan, sumber daya air, dan pengelolaan limbah.

“Ini adalah amal jariyah. Selama pohon itu tumbuh dan memberi manfaat, selama kader-kader terus bergerak menjaga lingkungan, pahala itu akan terus mengalir,” tegasnya.

Sementara itu, Dr. Sulistyowati, M.E., Anggota Badan Pelaksana BPKH RI, menyampaikan bahwa kondisi lingkungan hidup saat ini menghadapi tantangan kompleks akibat berkurangnya tutupan hutan dan dampak perubahan iklim. Karena itu, BPKH mendorong aksi nyata yang berkelanjutan melalui Program Wakaf Pohon.

“Program ini merupakan wujud komitmen BPKH dalam pelestarian lingkungan dan sudah dilaksanakan untuk keempat kalinya sepanjang 2025,” jelasnya.

Ia menambahkan, pemilihan jenis tanaman dilakukan dengan mempertimbangkan aspek ekologis sekaligus nilai ekonomi jangka panjang. Pohon-pohon tersebut akan dikelola secara berkala melalui kerja sama dengan LAZISMU, MLH, dan pimpinan Muhammadiyah setempat agar manfaatnya terus berkelanjutan.

“Semoga ini menjadi amal jariyah dan ikhtiar bersama dalam menjaga bumi serta memperkuat ekosistem demi keberlangsungan hidup manusia dan makhluk hidup lainnya,” ujarnya.

Senada, Anggota Badan Pelaksana BPKH RI, Harry Alexander, S.H., M.H. menilai program wakaf pohon ini sejalan dengan konsep Green Hajj, yakni pengelolaan dana haji yang tidak hanya berorientasi pada nilai manfaat finansial, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan.

“Ini bagian dari hablumin al-‘alam, menjaga hubungan dengan alam. Pohon menahan erosi, menjaga air, dan hasilnya kelak dapat dimanfaatkan,” katanya.

Dari kegiatan ini, ia melihat peluang lahirnya amal usaha baru dari pengelolaan hutan wakaf Muhammadiyah, mulai dari pengolahan hasil buah, pengelolaan nira aren, hingga potensi carbon credit, pusat riset lingkungan, dan model wakaf produktif berkelanjutan.

“Jemaah haji telah berkontribusi kepada negara. Jika dana haji dikelola secara produktif dan berkelanjutan, maka dampaknya bisa menggerakkan ekonomi umat secara luas,” pungkasnya.

Secara ekonomi, tanaman aren yang ditanam diperkirakan dapat mulai dipanen niranya dalam kurun waktu tujuh tahun ke depan, sehingga berpotensi menjadi penggerak ekonomi bagi Pimpinan Ranting Muhammadiyah Gading, Pimpinan Cabang Muhammadiyah Playen, dan PDM Gunungkidul, sekaligus memperkuat fungsi ekologis kawasan tersebut.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow