Mualaf Center Muhammadiyah DIY Siapkan Rumah Singgah untuk Dampingi Mualaf

Mualaf Center Muhammadiyah DIY Siapkan Rumah Singgah untuk Dampingi Mualaf

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Kebutuhan pembinaan dan pendampingan untuk para mualaf terus digencarkan oleh seluruh organisasi atau komunitas muslim. Tak terkecuali bagi Muhammadiyah melalui Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY yang terus mengembangkan Mualaf Center Muhammadiyah sebagai wadah pembinaan dan pendampingan bagi mereka yang baru memeluk Islam.

Ketua LDK PWM DIY, Ananto Isworo, mengatakan Mualaf Center Muhammadiyah DIY mulai dirintis setelah Muktamar ke-48 Muhammadiyah tahun 2022. Inisiatif tersebut lahir sebagai respons terhadap banyaknya permohonan masyarakat yang ingin masuk Islam, sementara saat itu Muhammadiyah belum memiliki kelembagaan khusus yang menangani pendampingan mualaf.

“Mualaf Center Muhammadiyah LDK PWM DIY kami rintis pasca-Muktamar 2022 dalam rangka mengakomodasi banyaknya permohonan untuk masuk Islam. Sementara itu, di Muhammadiyah sendiri belum ada kelembagaan khusus yang menangani hal tersebut,” ujar Ananto saat ditemui di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan (UAD), Sabtu (29/8).

Menurutnya, LDK kemudian menginisiasi pembentukan Mualaf Center. Di tingkat Pimpinan Pusat Muhammadiyah, program tersebut dikembangkan dengan branding Mualaf Learning Center yang diarahkan menjadi pusat pendampingan dan pembinaan mualaf di berbagai daerah.

“Program ini tersebar di seluruh Indonesia untuk pendampingan dan pusat pembinaan mualaf,” katanya.

Di DIY, pendampingan telah dilakukan di sejumlah wilayah, di antaranya Gunung Kelir, Girimulyo, Kulon Progo, kemudian di Gunung Gambar, Ngawen, Gunungkidul, serta Kota Yogyakarta. Selain itu, program pendampingan mualaf juga telah dilakukan di komunitas mualaf Suku Baduy di Banten.

Bentuk pendampingan disesuaikan dengan kebutuhan para mualaf. Di Kulon Progo dan Gunungkidul, misalnya, Mualaf Center menggelar pengajian rutin, bimbingan membaca Al-Qur'an, serta pendampingan dasar bagi mualaf yang baru mengenal Islam, seperti tata cara bersuci atau taharah dan pelaksanaan salat.

Ananto mengatakan, kondisi setiap mualaf tidak selalu sama. Ada yang benar-benar baru mengenal Islam, tetapi ada pula yang sebelumnya pernah menjadi Muslim kemudian kembali memeluk Islam.

“Yang bersangkutan sebelumnya sudah Muslim, memang berasal dari keluarga Muslim, tetapi karena pernikahan akhirnya berpindah agama. Alhamdulillah, sekarang kembali ke Islam lagi,” ujarnya.

Dalam proses pendampingan, Mualaf Center Muhammadiyah juga menghadapi sejumlah tantangan. Salah satunya adalah adanya pandangan yang beragam terhadap latar belakang seseorang ketika memutuskan menjadi mualaf.

Menurut Ananto, ada mualaf yang serius ingin mempelajari Islam, ada yang menjadi mualaf karena pernikahan, faktor ekonomi, maupun alasan lainnya. Keragaman latar belakang tersebut terkadang menimbulkan prasangka di tengah masyarakat.

“Memang ada banyak tantangan. Sebagian dari kita, orang Muhammadiyah, kadang-kadang muncul ketakutan terhadap berbagai tipologi mualaf,” katanya.

Ia menilai, perubahan cara pandang menjadi bagian penting dalam proses penguatan pendampingan mualaf. Mualaf perlu diterima dan didampingi sesuai kebutuhannya, tanpa terlebih dahulu memberikan stigma terhadap latar belakang mereka.

“Inilah yang kemudian coba kita lakukan di Mualaf Center, yaitu mengakomodasi berbagai hal tersebut dengan pendekatan-pendekatan yang sebisa mungkin kita lakukan,” ujar Ananto.

Selain pendampingan keagamaan, menurut Ananto, terdapat mualaf yang menghadapi persoalan sosial dan ekonomi setelah memeluk Islam. Dalam sejumlah kasus, mereka bahkan menghadapi penolakan dari keluarga, kehilangan pekerjaan, atau kehilangan sumber penghidupan.

Kondisi tersebut mendorong LDK PWM DIY menggagas pembangunan rumah singgah mualaf sebagai salah satu bentuk pendampingan yang lebih komprehensif.

“Karena ada beberapa kasus mualaf yang terusir dari keluarga, kehilangan pekerjaan, sumber ekonomi, dan sebagainya,” katanya.

Ananto mengatakan, rencana tersebut telah mulai dipersiapkan. Saat ini, pihaknya melakukan asesmen terhadap sejumlah rumah wakaf yang berpotensi dimanfaatkan sebagai rumah singgah sekaligus menyiapkan tim yang akan mengelolanya.

Rumah singgah mualaf nantinya dirancang tidak hanya menjadi tempat tinggal sementara, tetapi juga menjadi pusat pendampingan yang melibatkan berbagai unsur di Muhammadiyah. Ananto menyebut, pendampingan ekonomi dapat dilakukan bersama Lembaga Pengembang UMKM. Untuk membantu kebutuhan dasar mualaf yang mengalami persoalan ekonomi, Mualaf Center dapat berkolaborasi dengan LAZISMU. Sementara pendampingan keagamaan dapat melibatkan Majelis Tabligh dan pendampingan kesehatan melalui Majelis Pembina Kesehatan Umum (MPKU).

“Insya Allah kalau di Muhammadiyah itu sumber daya manusianya sangat banyak. Sehingga nantinya rumah singgah mualaf itu akan kita kolaborasikan dengan majelis dan lembaga yang lain,” ujarnya.

Menurutnya, aspek psikologis juga perlu menjadi perhatian. Sebab, sebagian mualaf mengalami tekanan setelah keputusan mereka memeluk Islam, seperti dijauhi keluarga atau kehilangan dukungan sosial.

“Hal-hal yang sifatnya sangat mendasar perlu kita siapkan. Karena mereka biasanya juga mengalami trauma, diusir dari keluarga, dijauhkan, dicabut hak-haknya, dan lain sebagainya,” katanya.

Karena itu, Mualaf Center juga berencana menggandeng tim psikologi dan perguruan tinggi dalam memberikan pendampingan.

Selain membangun layanan pendampingan, LDK PWM DIY juga berupaya mengonsolidasikan para personel Muhammadiyah yang selama ini secara mandiri telah memberikan pendampingan kepada mualaf. Ananto mengatakan, selama ini para pendamping tersebut masih tersebar dan belum berada dalam satu sistem koordinasi yang utuh.

“Selama ini mereka masih terpencar-pencar dan belum menjadi satu ikatan organisasi yang utuh. Nah, ini menjadi pekerjaan rumah bagi kita,” ujarnya.

Karena itu, LDK PWM DIY berupaya menghimpun para personel tersebut dalam kegiatan bersama dan membangun koordinasi yang lebih sistematis. Upaya tersebut juga akan dibarengi dengan kolaborasi bersama lembaga-lembaga mualaf center di luar Muhammadiyah.

“Kita masih perlu banyak belajar kepada mereka yang sudah memiliki pengalaman jauh lebih lama untuk mempersiapkan sistem pembinaan dakwah komunitas, termasuk bagi para mualaf,” kata Ananto.

Ia berharap penguatan kelembagaan tersebut dapat membuat pendampingan mualaf di lingkungan Muhammadiyah berjalan lebih terarah dan berkelanjutan.

Di tingkat pusat, LDK Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga tengah menyiapkan mekanisme dan struktur yang lebih matang untuk Mualaf Learning Center sebagai pusat pembinaan dan pendampingan mualaf.

“Insya Allah, di Lembaga Dakwah Komunitas Pimpinan Pusat Muhammadiyah juga sedang disiapkan mekanisme dan struktur yang lebih matang mengenai Mualaf Learning Center sebagai pusat pembinaan dan pendampingan mualaf,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow