Lula Kamal: Muhammadiyah Jogja Expo Wujud Sinergi Penguatan Ekonomi Kerakyatan

Lula Kamal: Muhammadiyah Jogja Expo Wujud Sinergi Penguatan Ekonomi Kerakyatan

Smallest Font
Largest Font

YOGYA – Tenaga Ahli Kementerian Koordinator Bidang Pangan RI, dr. Lula Kamal, M.Sc, menyampaikan bahwa Muhammadiyah Jogja Expo (MJE) bukan hanya sekadar pameran, melainkan ruang kolaborasi dan penguatan ekosistem ekonomi kerakyatan. Hal itu disampaikannya saat memberikan keynote speech dalam sesi Business Matching di MJE #4, Ahad (14/9).

Menurut Lula, kegiatan ini merupakan implementasi nyata upaya bersama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal yang dimulai dari sektor paling dasar, yakni UMKM. 

“Sebagaimana dicanangkan dalam Asta Cita Prabowo–Gibran, arah pembangunan nasional ke depan menekankan pada ketahanan pangan, kedaulatan ekonomi, dan pemberdayaan sektor informal. UMKM, khususnya di bidang pertanian, peternakan, perikanan, hingga pengolahan pangan, harus menjadi garda terdepan,” ujarnya.

Ia menegaskan bahwa forum Business Matching dalam MJE #4 menjadi sarana penting memperkuat rantai pasok, mempertemukan produsen lokal dengan pasar, memperluas distribusi, sekaligus mendorong inovasi dan peningkatan kualitas produk. 

“Saya menyampaikan apresiasi kepada Muhammadiyah yang kembali menunjukkan jati dirinya sebagai kekuatan strategis, bukan hanya di bidang pendidikan dan kesehatan, tetapi juga dalam kemandirian ekonomi umat dan bangsa,” tambahnya.

Dalam paparannya, Lula juga menyampaikan capaian positif sektor pangan Indonesia di bawah koordinasi Kemenko Pangan. Produksi beras dan jagung meningkat dibanding tahun sebelumnya, cadangan beras pemerintah mencapai rekor tertinggi 3,9 juta ton, serta inflasi pangan bergejolak terkendali di angka 3,85%.

Selain itu, Kemenko Pangan telah menyelesaikan 13 regulasi untuk menyederhanakan aturan yang selama ini menghambat sektor pangan, termasuk terkait pupuk bersubsidi, irigasi, dan penyuluhan pertanian. Sejumlah program unggulan pun terus berjalan, di antaranya Koperasi Desa Merah Putih, Swasembada Pangan, pengelolaan sampah menjadi energi, serta program Makan Bergizi Gratis.

Meski demikian, Lula mengingatkan tantangan besar masih menanti, seperti perubahan iklim, krisis air, dan ketergantungan impor. Karena itu, transformasi sistem pangan nasional mutlak diperlukan. “Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri. Diperlukan dukungan dunia usaha, investor, lembaga keuangan, serta pelaku UMKM agar bisa naik kelas, dari skala kecil menjadi pemain nasional bahkan global,” katanya.

Mengakhiri pidatonya, Lula berharap sinergi antara Muhammadiyah, pemerintah, dan sektor swasta benar-benar dapat mewujudkan Indonesia yang mandiri, berdaulat, dan kuat di bidang pangan.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow