Penghasilan Cukup tapi Sulit Menabung? Dosen UMY Ungkap Penyebabnya

Penghasilan Cukup tapi Sulit Menabung? Dosen UMY Ungkap Penyebabnya

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Menabung masih menjadi tantangan bagi banyak orang, termasuk mereka yang telah memiliki penghasilan tetap. Tak sedikit masyarakat yang merasa gajinya selalu habis setiap bulan sehingga sulit menyisihkan uang untuk kebutuhan masa depan. Padahal, persoalan tersebut tidak selalu disebabkan oleh kecilnya pendapatan, melainkan juga cara seseorang mengelola keuangan.

Dosen Ekonomi Syariah Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Satria Utama, S.E.I., M.E.I., mengatakan bahwa kesulitan menabung merupakan persoalan klasik yang banyak dialami masyarakat, terutama kelompok kelas menengah. Kondisi ini terjadi ketika sebagian besar pendapatan habis untuk memenuhi berbagai kebutuhan dan pengeluaran rutin sehari-hari.

“Permasalahan klasik masyarakat kelas menengah adalah pendapatan yang terasa selalu habis untuk berbagai kebutuhan. Akibatnya, banyak orang merasa sulit menyisihkan uang untuk masa depan karena menganggap bulan berikutnya akan kembali memperoleh penghasilan, sehingga menabung tidak menjadi prioritas,” ujarnya, Rabu (24/6).

Menurut Satria, akar masalah tersebut tidak semata-mata terletak pada besarnya penghasilan. Dalam banyak kasus, kegagalan menabung justru dipengaruhi oleh perilaku keuangan (financial behavior) yang kurang sehat. Ketika pendapatan meningkat, sebagian orang cenderung menaikkan standar hidup dan pengeluaran, sementara porsi tabungan tidak ikut bertambah.

Fenomena ini dikenal sebagai lifestyle inflation, yakni kondisi ketika kenaikan pendapatan diikuti peningkatan konsumsi untuk memenuhi berbagai kebutuhan maupun keinginan. Akibatnya, ruang untuk menabung tetap sempit meskipun kemampuan finansial sebenarnya telah meningkat.

“Banyak keluarga yang sebenarnya memiliki penghasilan cukup, tetapi tetap kesulitan menabung. Permasalahannya bukan pada pendapatan, melainkan pada perilaku konsumsi. Ketika penghasilan bertambah, yang meningkat justru pengeluaran konsumtif, sedangkan tabungan tidak bertambah secara signifikan,” jelasnya.

Selain perilaku konsumtif, Satria menekankan pentingnya memiliki tujuan keuangan yang jelas. Menurutnya, banyak orang menabung hanya karena menganggapnya sebagai kebiasaan baik tanpa memiliki target yang spesifik. Padahal, tujuan yang terukur dapat menjadi motivasi sekaligus panduan dalam mengelola keuangan.

“Menabung itu seperti melakukan perjalanan. Tanpa tujuan yang jelas, seseorang akan lebih mudah kehilangan motivasi dan berhenti di tengah jalan ketika menghadapi berbagai hambatan atau kebutuhan mendesak,” katanya.

Lebih lanjut, ia menjelaskan bahwa kebiasaan menabung juga kerap terganggu karena masyarakat belum memiliki perlindungan keuangan yang memadai. Saat muncul kebutuhan mendadak, seperti biaya kesehatan, kerusakan kendaraan, atau kebutuhan keluarga lainnya, tabungan yang telah terkumpul sering kali terpaksa digunakan hingga nilainya berkurang, bahkan habis.

Kondisi tersebut menunjukkan bahwa menabung bukan sekadar soal kemampuan menghasilkan uang, melainkan juga kemampuan mengelola, melindungi, dan mengarahkan pendapatan sesuai prioritas keuangan. Karena itu, masyarakat perlu mulai memandang tabungan sebagai kebutuhan penting yang berkaitan dengan masa depan, bukan sekadar pilihan yang dilakukan jika masih ada sisa uang di akhir bulan.

“Sering kali orang berpikir menabung dilakukan dari uang yang tersisa. Padahal, pola pikir seperti itu membuat tabungan hanya menjadi niat yang sulit diwujudkan. Menabung harus menjadi prioritas sejak awal, bukan menunggu seluruh kebutuhan dan keinginan terpenuhi terlebih dahulu,” tegasnya.

Satria menambahkan, disiplin dalam mengelola keuangan, menetapkan tujuan yang jelas, serta mengendalikan gaya hidup menjadi kunci utama untuk membangun kebiasaan menabung yang berkelanjutan.

“Pendapatan yang besar tidak otomatis membuat seseorang mampu menabung. Yang lebih menentukan adalah bagaimana seseorang mengelola pendapatannya secara bijak dan konsisten,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow