Kamastu AMM DIY Bahas Sejarah dan Relasi Muhammadiyah-Masyumi

Kamastu AMM DIY Bahas Sejarah dan Relasi Muhammadiyah-Masyumi

Smallest Font
Largest Font

YOGYA - Bertempat di ruang kajian yang disiapkan oleh panitia di PWM DIY, Kajian Malam Sabtu (KAMASTU) mengangkat tema “Muhammadiyah dan Masyumi: Sejarah dan Relasi” pada hari Jumat (15/08/2025). Kegiatan berlangsung dari pukul 19.30 WIB hingga 21.30 WIB, dengan dihadiri oleh sebanyak 20 peserta yang berasal dari kalangan kader, aktivis, dan simpatisan yang memiliki minat terhadap sejarah gerakan Islam dan politik di Indonesia berlangsung di PWM DIY.

Kegiatan ini dimulai dengan suasana yang penuh kekhidmatan. Para peserta yang hadir telah menempati tempat duduk yang telah diatur rapi oleh panitia sejak pukul 19.15 WIB. Sebelum memasuki inti acara, kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an secara bersama-sama, dipandu oleh salah satu peserta yang telah ditunjuk. Momen ini memberikan nuansa spiritual yang mendalam, mengingatkan seluruh hadirin bahwa pembahasan sejarah, politik, dan gerakan sosial tidak dapat dilepaskan dari landasan nilai-nilai keislaman.

Setelah pembacaan Al-Qur’an, acara dilanjutkan dengan sambutan dan pengantar oleh moderator, Hizba Muhammad Abror, S.Pd., M.Pd., yang dengan bahasa lugas menyampaikan tujuan dan latar belakang pelaksanaan kajian. Moderator menjelaskan bahwa tema kali ini dipilih untuk mengurai kembali sejarah panjang relasi antara Muhammadiyah sebagai gerakan Islam yang murni sosial-kemasyarakatan dan Masyumi sebagai partai politik yang pernah menjadi salah satu kekuatan besar di Indonesia pada era awal kemerdekaan. Hizba menekankan pentingnya mengkaji sejarah bukan hanya untuk mengingat masa lalu, tetapi juga untuk mengambil pelajaran strategis bagi langkah gerakan Islam ke depan.

Memasuki sesi inti, moderator kemudian mempersilakan pemateri, Mu’arif, S.Pd.I., M.Pd., seorang sejarawan Muhammadiyah yang telah banyak melakukan penelitian tentang sejarah pergerakan Islam di Indonesia. Dalam pengantarnya, Mu’arif mengajak para peserta untuk memandang hubungan Muhammadiyah dan Masyumi secara objektif, dengan memisahkan antara fakta sejarah dan romantisme masa lalu.

Mu’arif memulai penjelasan dengan mengisahkan masa-masa awal kelahiran Muhammadiyah. Menurutnya, Muhammadiyah pada awal berdirinya adalah murni sebuah gerakan sosial kemasyarakatan, tanpa orientasi politik praktis. Namun, seiring perkembangan zaman dan kebutuhan gerakan, muncul kesadaran akan pentingnya kekuatan struktural di dalam kepemimpinan Muhammadiyah. Kebutuhan ini tidak dimaksudkan untuk menjadikan Muhammadiyah sebagai partai politik, tetapi lebih pada memperkuat sistem dan pengaruhnya di tengah masyarakat.

Dalam penjelasannya, Mu’arif menyoroti peran Muhammadiyah sebagai embrio bagi lahirnya sejumlah lembaga yang kelak berafiliasi dengan dunia politik, sebelum lembaga-lembaga tersebut berkembang menjadi partai politik. Momentum penting terjadi pada tahun 1945, ketika diselenggarakan kongres yang membahas pembentukan partai politik. Menariknya, deklarasi berdirinya Masyumi dilakukan di Gedung Mu’allimin, yang menunjukkan eratnya hubungan historis antara Muhammadiyah dan Masyumi.

Mu’arif juga mengulas perbedaan jalur yang digunakan Muhammadiyah dalam menjalankan proses perkaderan, yakni dengan memadukan jalur kultural dan struktural. Hal ini menjadikan Muhammadiyah mampu menjangkau lapisan masyarakat luas tanpa harus terjebak sepenuhnya dalam politik praktis.

Lebih lanjut, pemateri menjelaskan keterlibatan KH. Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah, dalam dunia pergerakan Islam yang lebih luas. KH. Ahmad Dahlan pernah menjadi penasihat dalam Syarikat Islam (SI), yang pada masa itu merupakan organisasi massa terbesar di Indonesia. Namun, pasca wafatnya H.O.S. Tjokroaminoto, Syarikat Islam mengalami kesulitan besar dalam mempertahankan persatuan di antara partai-partai Islam. Hal ini disebabkan gaya kepemimpinan Tjokroaminoto yang sangat kharismatik, sehingga ketika beliau tiada, hampir tidak ada tokoh yang mampu menyatukan kekuatan partai-partai Islam tersebut.

Di sinilah Mu’arif membandingkan dua tipe kepemimpinan yang berbeda: kepemimpinan rasional-sistemik yang dibangun oleh KH. Ahmad Dahlan dengan kepemimpinan kharismatik ala Tjokroaminoto. Muhammadiyah, menurutnya, lebih memilih pola kepemimpinan yang berbasis sistem, agar gerakan dapat terus berjalan meskipun ditinggalkan oleh figur sentral.

Salah satu poin yang menarik dalam paparan Mu’arif adalah koreksi terhadap narasi sejarah yang selama ini umum dipahami. Banyak literatur menyebut bahwa perjalanan pertama Muhammadiyah keluar dari Pulau Jawa terjadi pada 1927 ke Minangkabau, sebagaimana dikuatkan oleh penelitian Prof. Hamka. Namun, berdasarkan sumber yang lebih tua, Muhammadiyah sebenarnya telah melakukan ekspansi ke Bangka Belitung pada tahun 1921, sebagaimana tercatat dalam catatan perjalanan Kyai Fachruddin. Temuan ini menunjukkan bahwa kiprah Muhammadiyah di luar Jawa lebih awal dari yang sering dikisahkan.

Mu’arif juga menegaskan bahwa pada tahun 1924, Muhammadiyah sudah menyebut nama “Indonesia” dalam konteks perjuangan, jauh sebelum Kongres Pemuda tahun 1928 yang secara resmi mengganti nama Hindia Belanda menjadi Indonesia. Fakta ini menjadi bukti bahwa Muhammadiyah memiliki kesadaran kebangsaan yang tinggi sejak awal pergerakannya.

Memasuki pembahasan tentang Masyumi, Mu’arif menjelaskan bahwa partai ini memiliki pengaruh besar, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di dunia Islam. Tujuan utama Masyumi dirumuskan sebagai upaya mewujudkan “Baldatun Thoyyibatun wa Rabbun Ghafur”, sebuah cita-cita tentang negara yang baik dan berada dalam ampunan Allah. Fungsi utama partai Masyumi adalah merevitalisasi semangat perjuangan umat Islam agar lebih terarah dan terorganisir.

Dalam kaitannya dengan Muhammadiyah, posisi Muhammadiyah di dalam Masyumi adalah sebagai anggota kehormatan. Hubungan ini bukan hanya simbolis, karena Masyumi turut mendukung ideologi Muhammadiyah dan menerjemahkannya ke dalam bahasa politik. Basis massa Masyumi juga banyak berasal dari warga Muhammadiyah, sehingga tidak mengherankan bila corak Muhammadiyah cukup kuat mewarnai partai ini.

Mu’arif juga mengungkapkan bahwa ketika Masyumi dibubarkan oleh pemerintah, banyak tokoh Muhammadiyah yang ikut terseret, termasuk Kasman Singodimedjo. Dalam pandangannya, relasi Muhammadiyah dan Masyumi dapat dilihat dari tiga hal pokok: pertama, kontribusi Muhammadiyah terhadap Masyumi baik dari segi ide maupun kader; kedua, tokoh-tokoh ideolog Masyumi banyak berasal dari Muhammadiyah, seperti KH. Ahmad Badawi dan Kasman Singodimedjo; ketiga, basis pendukung Masyumi rata-rata adalah warga Muhammadiyah sehingga secara tidak langsung mewarnai wajah Masyumi.

Selain membahas aspek sejarah, Mu’arif juga memberikan refleksi tentang pentingnya memahami relasi Muhammadiyah dan Masyumi dalam konteks kekinian. Ia menekankan bahwa meskipun Muhammadiyah kini tidak lagi terjun dalam politik praktis melalui partai, nilai-nilai perjuangannya tetap dapat menjadi inspirasi bagi gerakan politik yang bersih, rasional, dan berbasis nilai-nilai Islam.

Selama sesi penyampaian materi, suasana kajian berlangsung interaktif. Beberapa peserta terlihat mencatat poin-poin penting, sementara yang lain sesekali mengangguk tanda setuju. Di akhir pemaparan, moderator membuka sesi tanya jawab. Beberapa peserta mengajukan pertanyaan seputar relevansi hubungan Muhammadiyah dan Masyumi terhadap gerakan Islam di era demokrasi saat ini, serta bagaimana cara menjaga semangat persatuan umat meskipun tidak lagi berada di bawah satu bendera partai. Mu’arif menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dengan argumentasi yang tajam namun tetap santun, mengaitkan sejarah dengan realitas kontemporer.

Menjelang pukul 21.30 WIB, moderator menutup acara dengan menyampaikan rangkuman materi yang telah dipaparkan. Ia menegaskan bahwa kajian ini memberikan wawasan berharga tentang bagaimana sebuah gerakan sosial seperti Muhammadiyah dapat membangun hubungan strategis dengan kekuatan politik seperti Masyumi, tanpa kehilangan identitasnya. Kajian ini juga mengingatkan bahwa sejarah bukan sekadar catatan masa lalu, tetapi juga cermin untuk menatap masa depan. Kegiatan kemudian ditutup dengan doa bersama kafaratul majlis, memohon kepada Allah SWT agar seluruh peserta senantiasa diberikan pemahaman yang benar, kekuatan dalam perjuangan, dan keistiqamahan dalam mengamalkan nilai-nilai Islam. 

Dengan demikian, kegiatan Kajian Malam Sabtu (KAMASTU) pada tanggal 15 Agustus 2025 telah terlaksana dengan baik dan lancar. Semoga kajian ini menjadi bagian dari upaya memperkuat pemahaman sejarah, menumbuhkan kesadaran kritis, serta meneguhkan komitmen dalam melanjutkan perjuangan dakwah dan kebangsaan. (Ashraf)

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow