Kajian Pawon Moetoe Bahas Ar-Rahman dan Ar-Rahim, Jamaah Diajak Mencintai Tanpa Syarat
YOGYAKARTA — Kajian perdana Forum Pengajian Ahad Kliwon (Pawon Moetoe) yang digelar Paguyuban Alumni Moetoe SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta (Kotagede) berlangsung hangat dan penuh makna di Masjid Multifungsi SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta, Kompleks Njeron Bata Purbayan, Ahad (7/6).
Mengangkat tema Asmaul Husna, khususnya makna nama Allah Ar-Rahman dan Ar-Rahim, kajian ini menghadirkan psikolog sekaligus akademisi, Prof. Dr. H. Khoirudin Bashori, yang mengajak peserta memahami pentingnya mencintai dan menyayangi tanpa syarat.
Menurutnya, keikhlasan dalam mencintai sering kali tergerus ketika cinta dibangun di atas berbagai syarat dan kepentingan.
“Memang sebaiknya mencintai sesuatu tanpa syarat. Ketika cinta dibangun dengan syarat, keikhlasan bisa dipertanyakan. Kita mencintai pasangan misalnya, jangan karena kekayaan atau kondisi tertentu. Sebab ketika kondisi itu berubah, cinta bisa ikut luntur,” ujarnya.
Prinsip yang sama, lanjut Khoirudin, juga berlaku dalam dunia pendidikan. Seorang guru tidak boleh menentukan kualitas pengajarannya berdasarkan kemampuan peserta didik.
“Guru tidak boleh mengatakan akan mengajar dengan baik jika muridnya pandai. Ketika kita menyayangi, ketulusan dan keikhlasan harus menjadi dasar,” tegasnya.
Dalam pemaparannya, Khoirudin mengajak jamaah mengamalkan nilai Ar-Rahman dan Ar-Rahim dalam kehidupan sehari-hari. Setiap bentuk kasih sayang, menurutnya, harus dilandasi harapan untuk meraih ridha Allah SWT.
“Ketika Allah memberikan ridha, maka hasilnya pasti indah,” tutur guru besar yang juga dikenal sebagai psikolog tersebut.
Kajian Pawon Moetoe sendiri dirancang sebagai forum pengajian yang berbeda dari biasanya. Kegiatan yang terbuka untuk umum ini akan diselenggarakan rutin setiap Ahad Kliwon pukul 07.30–09.00 WIB.
Rangkaian acara diawali dengan salat dhuha delapan rakaat yang dikerjakan secara mandiri, dilanjutkan pembacaan Asmaul Husna, tilawah Al-Qur’an dengan surat pilihan Al-Ma’tsurat, doa bersama untuk para alumni yang sedang berada di Tanah Suci, serta ditutup dengan kajian tematik Asmaul Husna.
Pada kesempatan tersebut, Drs. H. Akhid Widirahmanto, alumni SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta (Kotagede) yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kota Yogyakarta, menyampaikan harapannya agar forum pengajian ini mampu menarik semakin banyak peserta.
Menurutnya, warga Muhammadiyah perlu terus didorong untuk menjadikan pengajian sebagai kebutuhan, bukan sekadar aktivitas rutin.
“Kajian seperti ini harus mampu menarik banyak orang. Mereka datang karena sadar akan kebutuhan untuk mengaji. Kalau perlu, hadirkan suasana yang menyenangkan, dengan sarapan dan doorprize. Kita harus membuktikan bahwa warga Muhammadiyah senang mengaji di mana pun dan kapan pun,” katanya.
Kajian perdana tersebut juga menjadi momen istimewa karena dihadiri para kepala sekolah yang pernah mengabdi di SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta (Kotagede), sekolah yang didirikan PCM Kotagede pada Ahad Kliwon, 1 Agustus 1965.
Mereka adalah H. Sumarwan, H. Syaifuddin AU, Hj. Ismiati, Hj. Nilawati, serta H. Supriyadi yang saat ini masih menjabat sebagai kepala sekolah. Hadir pula Prof. Dr. Muhammad yang pernah mengajar di sekolah tersebut.
Suasana kajian semakin menyentuh ketika peserta diajak mengenang jasa orang-orang terdekat yang telah mendahului mereka.
Dra. Hj. Sri Lestari, mantan murid sekaligus mantan guru SMP Muhammadiyah 7 Yogyakarta (Kotagede), menilai konsep Pawon Moetoe memiliki keunikan yang sulit ditemukan di pengajian lain.
“Di sini kita diajak mendoakan orang tua yang telah wafat, mertua, pasangan, anak-anak, hingga para guru yang telah mendahului kita. Hal-hal seperti inilah yang membuat kita terkadang menangis dalam hening, mengenang kebaikan orang-orang yang pernah memberi warna dalam perjalanan hidup kita,” ungkap aktivis Aisyiyah Kotagede tersebut.
Ketua Paguyuban Alumni Moetoe, Hj. Nilawati Isdwiantari, S.Pd., M.Pd., menambahkan bahwa peserta merasakan pengalaman yang berbeda dalam forum ini. Mereka tidak hanya mendengarkan ceramah, tetapi benar-benar diajak mengkaji, merenungi, dan menghayati nilai-nilai yang disampaikan.
“Peserta merasakan bahwa Pawon Moetoe bukan sekadar mendengar pengajian, tetapi benar-benar mengkaji dan mengambil makna untuk diterapkan dalam kehidupan sehari-hari,” ujarnya.
What's Your Reaction?
-
2
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow