Jaga Lingkungan Hidup, Muhammadiyah DIY Dorong Gerakan Berbasis Literasi dan Aksi Nyata

Jaga Lingkungan Hidup, Muhammadiyah DIY Dorong Gerakan Berbasis Literasi dan Aksi Nyata

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Persoalan lingkungan hidup saat ini telah menjadi tantangan besar yang tidak dapat dipandang sekadar sebagai isu teknis. Kerusakan lingkungan yang ditandai dengan pencemaran, perubahan iklim, dan berkurangnya keanekaragaman hayati merupakan persoalan yang juga menyangkut aspek moral, spiritual, sosial, dan kemanusiaan.

Hal tersebut disampaikann Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. Sapardiyono, S.Hut., M.H., dalam Diskusi dan Bedah Buku Ekologi Berkemajuan: Gerakan Lingkungan Berkelanjutan Muhammadiyah yang diselenggarakan Majelis Lingkungan Hidup (MLH) dan Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) PWM DIY di Museum Muhammadiyah, Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan, Sabtu (6/6).

Menurut Sapardiyono, kehadiran buku Ekologi Berkemajuan memiliki arti penting dalam memperkaya perspektif sekaligus memperkuat gerakan lingkungan di Indonesia. Buku tersebut mengajak masyarakat memahami bahwa menjaga kelestarian alam merupakan bagian dari ajaran Islam yang menempatkan manusia sebagai khalifah yang bertanggung jawab atas keberlangsungan bumi.

“Islam Berkemajuan yang diusung Muhammadiyah tidak hanya berorientasi pada pembangunan manusia, tetapi juga pada upaya menjaga keberlanjutan lingkungan sebagai ikhtiar mewujudkan kemaslahatan, keadilan antargenerasi, dan keberlangsungan kehidupan,” ujarnya.

Ia berharap forum bedah buku tersebut menjadi ruang untuk mempertemukan gagasan, berbagi inspirasi, serta memperkuat komitmen bersama dalam membangun gerakan lingkungan yang berlandaskan ilmu pengetahuan, nilai-nilai keagamaan, dan keberpihakan terhadap masa depan bumi.

Dalam paparannya, Sapardiyono menyoroti tantangan global berupa pemanasan bumi yang semakin nyata dirasakan masyarakat. Menurutnya, fenomena tersebut bukan terjadi secara alami semata, melainkan dipicu oleh perilaku manusia yang boros dalam memanfaatkan sumber daya alam.

Berbagai bencana seperti banjir, tanah longsor, kekeringan, hingga polusi udara menjadi indikator menurunnya kualitas lingkungan hidup sekaligus ancaman bagi keberlangsungan kehidupan manusia.

Ia mengungkapkan bahwa data kebencanaan tahun 2024 mencatat sebanyak 3.472 kejadian bencana di Indonesia, dengan 1.109 di antaranya berupa banjir. Sebagian besar bencana yang terjadi berkaitan dengan cuaca ekstrem dan perubahan iklim, bukan disebabkan oleh aktivitas vulkanik maupun tektonik.

“Fakta ini menunjukkan bahwa perubahan iklim yang kita hadapi saat ini sebagian besar merupakan dampak dari aktivitas manusia sendiri,” katanya.

Sapardiyono menjelaskan bahwa tingginya emisi karbon dari penggunaan bahan bakar fosil menjadi salah satu penyebab utama pemanasan global. Di sisi lain, kerusakan hutan akibat pembalakan liar dan alih fungsi lahan terus berlangsung di berbagai wilayah Indonesia.

Padahal, lanjutnya, hutan memiliki fungsi vital sebagai penyerap karbon sekaligus penghasil oksigen bagi seluruh makhluk hidup. Ketika luas kawasan hutan terus berkurang, kemampuan alam dalam mengendalikan emisi karbon pun semakin melemah sehingga suhu bumi terus meningkat.

Sapardiyono menegaskan bahwa Muhammadiyah telah lama memberikan perhatian terhadap isu lingkungan hidup. Dalam dokumen Risalah Islam Berkemajuan, terdapat dua agenda penting yang perlu terus diperjuangkan.

Pertama, Muhammadiyah harus mengawal berbagai kebijakan publik agar berpihak pada pelestarian lingkungan. Kedua, Muhammadiyah perlu menggerakkan serta meningkatkan literasi lingkungan bagi seluruh warga persyarikatan agar tumbuh kesadaran kolektif dalam menjaga bumi.

Karena itu, menurutnya, upaya pelestarian lingkungan harus dilakukan secara bersamaan, baik pada level individu maupun organisasi. Setiap warga perlu membangun kesadaran ekologis dalam kehidupan sehari-hari, sementara Muhammadiyah sebagai organisasi harus terus mengembangkan gerakan lingkungan yang lebih luas dan berkelanjutan.

Dalam prakteknya, Majelis Lingkungan Hidup PWM DIY telah menggagas berbagai program lingkungan. Salah satunya adalah Gerakan 1.000 Cahaya yang mendorong pemanfaatan energi terbarukan sebagai alternatif yang lebih ramah lingkungan.

Sapardiyono optimistis gerakan tersebut dapat berkembang lebih luas dan diadopsi oleh Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di berbagai daerah.

“Jika suatu saat Amal Usaha Muhammadiyah dapat mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dan beralih ke energi terbarukan seperti tenaga surya, maka itu akan menjadi kontribusi nyata Muhammadiyah dalam mewujudkan lingkungan yang sehat dan berkelanjutan,” jelasnya.

Selain energi, persoalan sampah juga menjadi perhatian serius. Menurutnya, problem sampah tidak hanya terjadi di Yogyakarta, tetapi hampir di seluruh wilayah Indonesia. Karena itu, Muhammadiyah perlu mengambil peran aktif dalam menghadirkan solusi.

Ia mengapresiasi langkah yang telah dilakukan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) dan Universitas Ahmad Dahlan (UAD) dalam mengembangkan sistem pengelolaan sampah di lingkungan kampus. Praktik-praktik baik tersebut, menurutnya, perlu direplikasi ke sekolah-sekolah, amal usaha, cabang, dan ranting Muhammadiyah.

“Apabila seluruh Amal Usaha Muhammadiyah mampu mengelola sampah secara mandiri dan berkelanjutan, kemudian diikuti cabang dan ranting Muhammadiyah di berbagai daerah, maka akan lahir gerakan besar yang memberikan dampak nyata bagi pelestarian lingkungan,” ujarnya.

Di akhir sambutannya, Sapardiyono menegaskan bahwa bedah buku Ekologi Berkemajuan merupakan bagian dari ikhtiar untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga lingkungan hidup. Melalui forum tersebut, ia berharap lahir pemahaman yang lebih kuat, kepedulian yang semakin luas, serta komitmen bersama untuk mewujudkan lingkungan yang lestari bagi generasi sekarang dan generasi mendatang.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow