Ikhwan Ahada: Muhammadiyah Harus Bersinergi, Tertib Sistem, dan Hadir sebagai Solusi Umat

Ikhwan Ahada: Muhammadiyah Harus Bersinergi, Tertib Sistem, dan Hadir sebagai Solusi Umat

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta (PWM DIY), Dr. Muh. Ikhwan Ahada, M.A., menegaskan pentingnya sinergi, kolaborasi, dan kohesi antar unsur persyarikatan sebagai syarat utama agar gerakan Muhammadiyah benar-benar berdampak bagi umat dan masyarakat.

Penegasan tersebut disampaikan Ikhwan Ahada dalam amanat penutupan Rapat Kerja Pimpinan (Rakerpim) PWM DIY tahun 2026 yang berlangsung di Student Dormitory Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Ahad (11/1).

Dalam arahannya, Ikhwan mengingatkan bahwa kemajuan peradaban tidak lahir dari kerja yang sporadis, melainkan dari tatanan, regulasi, dan sistem organisasi yang tertib serta terstruktur. Ia mengutip ungkapan al-haqqu bila nizhâm yaghlibuhul bâthil bin nizhâm yang menekankan bahwa kebenaran membutuhkan sistem agar mampu memberi dampak nyata.

“An-nizhâm atau sistem itu menjadi syarat penting agar peradaban dan gerakan kita terasa dampaknya. Tanpa tata kelola yang rapi, kebaikan yang kita bawa tidak akan maksimal,” ujarnya.

Ikhwan menyoroti pentingnya perubahan cara pandang dalam mengelola Unsur Pembantu Pimpinan (UPP). Menurutnya, Muhammadiyah tidak boleh terjebak pada ego sektoral atau merasa paling unggul sendiri.

“Mindset ‘UPP saya paling hebat’ harus diubah menjadi ‘UPP kita yang bisa berdampak’. Kita perlu saling menguatkan, bekerja sama, dan bergerak bersama,” tegasnya.

Ia menekankan bahwa karakter Muhammadiyah sebagai al-jamaah dengan prinsip kolektif-kolegial memang kerap dipersepsikan lambat, namun justru di situlah letak kekuatannya karena setiap langkah ditempuh secara pasti dan berkesinambungan.

Lebih jauh, Ikhwan menegaskan bahwa seluruh gerak Muhammadiyah harus bermuara pada satu tujuan utama, yakni menghadirkan Islam sebagai solusi atas persoalan umat.

“Muhammadiyah bergerak untuk mewujudkan ad-dîn al-hâdhir, agama yang hadir dan memberi solusi. Inilah tujuan akhir dari dakwah dan tajdid kita,” katanya.

Ia mencontohkan, ketika Muhammadiyah menginisiasi program kesehatan, pendidikan, maupun sosial, seluruh majelis dan lembaga semestinya saling mendukung dan menguatkan, bukan berjalan sendiri-sendiri.

Memasuki dua tahun terakhir periode kepemimpinan PWM DIY masa jabatan 2022-2027, Ikhwan mendorong agar persyarikatan di tingkat wilayah naik kelas, baik dari sisi tata kelola maupun dampak program.

“Tata kelola harus semakin rapi, program tidak hanya dijalankan, tetapi juga memiliki target, terukur, dan berdampak. Inilah yang akan membuat PWM DIY naik kelas,” ungkapnya.

Ia menegaskan bahwa ukuran keberhasilan bukan pada figur pimpinan, melainkan pada sejauh mana Islam dan Muhammadiyah benar-benar dirasakan kehadirannya di DIY. Untuk itu, Ikhwan berharap Muhammadiyah di Yogyakarta semakin diperhitungkan dan dibutuhkan, bahkan menjadi salah satu pilar penting dalam kehidupan sosial-keagamaan di Daerah Istimewa Yogyakarta.

Menutup amanatnya, Ikhwan mengajak seluruh pimpinan dan kader Muhammadiyah untuk meluruskan niat dan mengembalikan seluruh ikhtiar kepada Allah Swt.

“Semoga di akhir periode nanti, Islam dan Muhammadiyah di DIY benar-benar tampil sebagai gerakan pencerah bagi umat,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow