Ikhwan Ahada: Khittah Muhammadiyah Menggembirakan Gerakan dan Meneguhkan Garis Perjuangan

Ikhwan Ahada: Khittah Muhammadiyah Menggembirakan Gerakan dan Meneguhkan Garis Perjuangan

Smallest Font
Largest Font

BANTUL – Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta, Dr. Muhammad Ikhwan Ahada, M.A., mengajak warga persyarikatan melihat kembali dasar perjuangan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah melalui perspektif ideologi, spiritualitas, dan gerakan organisasi. Hal ini disampaikan dalam Baitul Arqam Pimpinan Ranting ‘Aisyiyah (PRA) Tamantirto Utara yang digelar pada Sabtu (29/11) di Gedung Tabligh Institute, Kasihan, Bantul. 

Dalam materinya yang bertema “Khittah Muhammadiyah dan Tauhid”, Ikhwan menegaskan bahwa menjadi bagian dari Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah harus dijalani dengan rasa gembira.

“Kenapa bermuhammadiyah dan beraisyiyah harus bergembira? Karena kita punya janji yang berat. Masuk surga itu tidak mudah, banyak rintangan dan hal yang tidak menyenangkan. Namun pekerjaan yang berat akan terasa ringan bila dilakukan bersama dan berjamaah,” jelasnya.

Ia merujuk pada muqaddimah AD/ART Muhammadiyah yang memuat amanah besar: mengantarkan umat Islam menuju pintu surga jannatun naim. Setiap kader memikul tanggung jawab dakwah yang tidak ringan.

Ikhwan juga menegaskan bahwa posisi ‘Aisyiyah bukan sekadar organisasi otonom, melainkan mitra strategis Muhammadiyah dalam dakwah amar ma’ruf nahi munkar.

“Aisyiyah diberikan kesempatan luas untuk mengelola amal jama’i berupa TK, sekolah, universitas, rumah sakit. Selain 'Aisyiyah, tidak ada ortom yang diberi wewenang seperti ini,” ujarnya.

Hal ini menjadi bukti kepercayaan Muhammadiyah kepada ‘Aisyiyah sebagai pelaksana dakwah yang bergerak dengan semangat ta’awun, bukan persaingan ala korporasi. Semua amal usaha dibangun untuk kepentingan dakwah, bukan untuk kompetisi ekonomi yang kapitalis.

Dalam paparannya, Ikhwan menegaskan bahwa kekuatan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah mampu bertahan lebih dari satu abad karena tata kelola organisasi yang rapi dan terkoordinasi.

“Gerakannya pelan tapi pasti, dari pusat sampai ranting, begitu juga sebaliknya. Inilah kekuatan organisasi yang teratur,” ungkapnya.

Ia juga mengingatkan bahwa keberlanjutan organisasi di tingkat ranting sangat bergantung pada regenerasi. “PRA harus terus punya kader. Maka keberadaan Nasyiatul 'Aisyiyah di ranting itu penting. Tidak mudah mengajak anak muda berorganisasi, tetapi mereka yang memilih jalan ini sedang dituntun menuju surga jannatun naim,” tambahnya.

Materi kemudian masuk pada inti pemahaman ideologi, yaitu konsep Khittah. “Khittah adalah garis perjuangan, batas agar Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah tidak menyimpang ke kanan atau kiri. Jika ada pelanggaran, maka harus diluruskan sesuai Khittah,” jelas Ikhwan.

Khittah tidak membatasi kreativitas, justru memberikan ruang berinovasi sepanjang tidak keluar dari koridor organisasi.

Ia menyebut bahwa pendekatan ideologi Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah meliputi Muqaddimah AD/ART, MKCH, Risalah Islam Berkemajuan, serta Risalah Perempuan Berkemajuan. Dari konsep, kemudian diturunkan menjadi strategi yang disebut Khittah.

Beberapa Khittah penting yang lahir dalam perjalanan persyarikatan antara lain:

  1. Khittah Palembang 1956
  2. Khittah Ponorogo 1969
  3. Khittah Ujung Pandang (Makassar) 1971
  4. Khittah Surabaya 1978
  5. Khittah Denpasar 2002

Salah satu yang paling menentukan, Khittah Denpasar, menetapkan jalur perjuangan Muhammadiyah pada dua ranah: politik dan sosial-keagamaan. Muhammadiyah tidak berpolitik praktis dengan tidak menjadi bagian dari partai politik, namun memberi kebebasan kepada warganya untuk menentukan pilihan politik secara dewasa dan bertanggung jawab.

Di sisi lain, Muhammadiyah menjaga jarak yang sama dengan semua partai politik sebagai bentuk konsistensi gerakan moral dan dakwah kebangsaan.

Inilah yang oleh Ikhwan disebut sebagai “politik tingkat tinggi ala Muhammadiyah”, yakni menjalankan peran kebangsaan tanpa kehilangan independensi organisasi.

Materi diakhiri dengan pesan bahwa Khittah adalah upaya meneguhkan keimanan, memuliakan akhlak, dan memperbaiki tata kelola organisasi.

“Khittah adalah respon Muhammadiyah terhadap kondisi bangsa. Di dalamnya, semua warga persyarikatan memiliki pegangan yang jelas dalam menghadapi situasi berbangsa dan bernegara,” pungkasnya.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow