Haedar Nashir: Muhammadiyah Fokus Bangun Perdamaian dalam Aksi Kemanusiaan

Haedar Nashir: Muhammadiyah Fokus Bangun Perdamaian dalam Aksi Kemanusiaan

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Haedar Nashir, menegaskan bahwa Muhammadiyah dalam aksi kemanusiaannya lebih berfokus pada pembangunan perdamaian atau peace building dibandingkan peace making yang berkaitan dengan penghentian konflik secara langsung.

Pernyataan itu disampaikan Haedar dalam Sidang Terbuka Pascasarjana di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Selasa (12/5).

Menurut Haedar, peran menciptakan perdamaian melalui jalur diplomasi dan penghentian konflik bersenjata lebih tepat dijalankan oleh negara atau lembaga internasional yang memiliki otoritas resmi. Sementara organisasi non pemerintah (NGO) seperti Muhammadiyah lebih berperan dalam membangun perdamaian melalui pendekatan kemanusiaan.

“Kalau menyeberang ke peace making, itu tidak bisa karena itu peran negara dan institusi yang memiliki otoritas,” ujarnya.

Sebagai Guru Besar Ilmu Sosiologi, Haedar menjelaskan bahwa pendekatan tersebut diterapkan Muhammadiyah dalam berbagai konflik kemanusiaan, termasuk saat menangani pengungsi Rohingya di kawasan ASEAN.

Ia mengatakan, meskipun Muhammadiyah dan pemerintah memiliki posisi berbeda, keduanya tetap dapat bekerja sama dalam aksi kemanusiaan. Dari pengalaman tersebut, Muhammadiyah juga melihat bahwa upaya menghentikan konflik bukan perkara mudah, bahkan bagi negara sekalipun.

“Bahwa kemudian kita tidak bisa menghentikan konflik, jangan kan ormas, negara pun tidak bisa menghentikan konflik sebesar itu,” katanya.

Haedar juga menyinggung berbagai konflik global yang hingga kini belum dapat dihentikan sepenuhnya oleh lembaga internasional. Menurutnya, kondisi itu menunjukkan bahwa penghentian perang membutuhkan kewenangan politik dan diplomasi tingkat tinggi.

Karena itu, ia menilai kurang tepat jika organisasi masyarakat dituntut menghentikan perang secara langsung. Dalam situasi tersebut, NGO lebih memungkinkan mengambil peran melalui seruan moral, bantuan kemanusiaan, hingga penguatan solidaritas masyarakat terdampak konflik.

Meski demikian, Haedar menegaskan Muhammadiyah tetap berupaya terlibat aktif dalam mendukung perdamaian. Ia mencontohkan keterlibatan Muhammadiyah dalam konflik di Filipina yang dilakukan melalui kerja sama dengan pemerintah Indonesia dan jalur diplomasi.

“Mungkin ada yang bisa waktu itu kita lakukan di Filipina, kita bisa peace making, tapi tetap lewat negara, lewat diplomasi ke Filipina maupun Indonesia,” tuturnya.

Melalui pendekatan tersebut, Muhammadiyah menempatkan diri sebagai organisasi kemanusiaan yang berfokus pada pembangunan solidaritas, pemulihan sosial, dan penguatan perdamaian di tengah konflik kemanusiaan regional maupun global.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow