Haedar Nashir Dorong Integrasi Situs Sejarah Muhammadiyah sebagai Wisata Edukasi
YOGYAKARTA — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir, mendorong pengembangan jaringan wisata edukasi yang mengintegrasikan sejumlah situs bersejarah Muhammadiyah di Yogyakarta. Gagasan ini dinilai dapat memperkenalkan sejarah dan perkembangan Muhammadiyah kepada masyarakat sekaligus mengoptimalkan potensi wisata edukasi yang selama ini belum dikelola secara maksimal.
Sejumlah lokasi yang berpotensi masuk dalam jaringan tersebut antara lain Kampung Kauman, Langgar Kidoel, Rumah Kiai Dahlan, Masjid Gedhe, makam Nyai Siti Walidah di Kauman, makam Kiai Ahmad Dahlan di Kampung Karangkajen, serta Museum Muhammadiyah di Kampus 4 Universitas Ahmad Dahlan (UAD).
Haedar menilai, lokasi-lokasi tersebut memiliki nilai sejarah yang saling berkaitan. Karena itu, pengelolaannya perlu diarahkan menjadi satu rangkaian kunjungan agar masyarakat dapat mengenal sejarah Muhammadiyah secara lebih utuh.
Ia secara khusus mengusulkan agar makam Kiai Ahmad Dahlan dan makam Nyai Siti Walidah menjadi bagian dari paket wisata edukasi yang terintegrasi. Menurutnya, ziarah ke makam tokoh Muhammadiyah dapat menjadi sarana mengambil inspirasi dan mendoakan orang yang telah meninggal, selama dilakukan sesuai tuntunan agama.
“Jangan di makam meminta-minta, meminta cepat kaya. Itu namanya menyalahi akidah Muhammadiyah. Tapi ke makamnya Nyai Walidah ke belakang Masjid Gedhe. Ke makam Kiai Dahlan di Kampung Karangkajen itu untuk mengambil inspirasi, dan paling tidak mendoakan yang ada di situ,” kata Haedar dalam Silaturahmi Nasional (Silatnas) Lembaga Pengembangan Ekonomi dan Kewirausahaan (LPEK) di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Sabtu (24/10).
Selain makam kedua tokoh tersebut, Haedar menilai Rumah Kiai Dahlan dan Langgar Kidoel juga perlu dimasukkan dalam jaringan kunjungan. Integrasi lokasi-lokasi bersejarah itu diharapkan memudahkan wisatawan menemukan destinasi yang berkaitan dengan sejarah Muhammadiyah tanpa harus bergantung pada lembaga penghubung atau perantara.
“Ketika ke Jogja, kan itu pusat-pusat Muhammadiyah mana saja dan pusat-pusat wisata kunjungan. Jika itu dibikin jaringan yang baru, mereka tidak perlu cari lagi lembaga penghubung atau broker,” tuturnya.
Haedar juga menyoroti perlunya peningkatan daya tarik Museum Muhammadiyah dan perpustakaan. Menurutnya, kunjungan ke museum di berbagai daerah menunjukkan kecenderungan meningkat, tetapi belum merata. Selain itu, kunjungan wisatawan belum tentu diikuti pemahaman terhadap informasi dan nilai edukasi yang disampaikan museum.
Ia mengakui minat warga Muhammadiyah untuk mengunjungi perpustakaan dan Museum Muhammadiyah masih perlu ditingkatkan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan ialah menyediakan spot foto yang menarik agar masyarakat tertarik datang.
Meski pada awalnya pengunjung mungkin hanya datang untuk berfoto, Haedar berharap ketertarikan tersebut dapat berkembang menjadi minat untuk mengenal koleksi dan informasi sejarah yang tersedia di museum.
“Jadi, lama-kelamaan ya ke museum, kan begitu. Lama-kelamaan itu bisa ke museum. Jadi, itu bisa dimanfaatkan,” katanya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow