SURABAYA — Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Haedar Nashir meresmikan peremajaan enam Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) milik Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gubeng, Kota Surabaya, Jumat (18/4). Peresmian itu menandai penguatan layanan pendidikan, dakwah, dan keagamaan Muhammadiyah di wilayah tersebut.
Enam AUM yang diresmikan meliputi MI Muhammadiyah 5 Surabaya, SMP Muhammadiyah 3 Jojoran Surabaya, Masjid Muhammadiyah Al Muhajirin, Masjid Baiturrahman Gubeng, Gedung Dakwah Pimpinan Cabang ‘Aisyiyah Gubeng, serta TK ABA 32 Surabaya.
Dalam sambutannya, Haedar mengapresiasi perkembangan PCM Gubeng. Menurutnya, capaian yang diraih saat ini tidak hadir secara instan, tetapi merupakan hasil kerja berkelanjutan sejak para perintis Muhammadiyah memulai gerakan amal saleh melalui aksi nyata.
Ia menegaskan, amal usaha Muhammadiyah tidak cukup hanya berdiri, tetapi harus terus berkembang dan memberi manfaat luas bagi masyarakat. Bentuk amar ma’ruf itu, kata dia, dapat diwujudkan melalui pendirian sekolah, rumah sakit, menjaga lingkungan, serta dakwah yang membangun.
“Mengajak kepada hal-hal yang ma’ruf dengan mendirikan sekolah, rumah sakit, menjaga lingkungan. Serta mencegah kemungkaran dengan cara dakwah,” ujar Haedar.
Haedar juga mengingatkan bahwa pengembangan AUM memerlukan proses panjang dan tidak bisa dicapai secara cepat. Karena itu, setiap pimpinan cabang diminta memiliki komitmen serta konsistensi dalam mengelola dan memajukan amal usaha.
Ia menambahkan, warga Muhammadiyah tidak boleh membiarkan amal usaha yang tidak berjalan atau tertinggal, melainkan harus dihidupkan kembali agar terus maju dan relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Selain itu, Haedar memberi perhatian pada tantangan pendidikan generasi muda di tengah perkembangan media sosial. Menurutnya, sekolah tidak bisa bekerja sendiri dalam membentuk generasi unggul. Dibutuhkan sinergi antara guru, orang tua, dan lingkungan.
“Di tangan guru itu, masa depan anak ada kita. Tapi orang tua juga harus hadir, jangan ada masalah lalu melempar tanggung jawab ke guru, tanpa melakukan introspeksi,” katanya.
Sementara itu, Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur Sukadiono mengaku memiliki kedekatan emosional dengan PCM Gubeng. Ia pernah menjadi anggota dan bendahara PCM Gubeng pada 1995 hingga 2000.
Ia mengapresiasi kemajuan pesat yang dicapai cabang tersebut, khususnya di bidang pendidikan. Salah satu contoh, MI Muhammadiyah 5 Surabaya yang awalnya berdiri di lahan sewa dan menumpang, kini telah memiliki aset sendiri di pusat Kota Surabaya serta berkembang menjadi sekolah unggulan.
Menurut Sukadiono, perkembangan serupa juga terlihat pada masjid-masjid Muhammadiyah di bawah PCM Gubeng yang dinilai berperan menjaga semangat ber-Muhammadiyah warga Surabaya.
“Saya senang atas perkembangannya yang luar biasa. Saya berpesan supaya jangan berpuas meski amal usahanya sudah sangat banyak,” ujarnya.