Dari Nostalgia Hingga Doa Senja, Hangatnya Silaturahmi Mantan Aktivis Ortom Muhammadiyah DIY

Dari Nostalgia Hingga Doa Senja, Hangatnya Silaturahmi Mantan Aktivis Ortom Muhammadiyah DIY

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Ketika para mantan aktivis Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Pemuda Muhammadiyah (PM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan Nasyiatul ‘Aisyiyah (NA) Daerah Istimewa Yogyakarta berkumpul, suasana yang tercipta hampir selalu lengkap: nostalgia perjuangan, tawa, lagu-lagu kenangan, obrolan keluarga, hingga tausiyah yang menyejukkan jiwa di usia senja.

Puluhan tahun silam, mereka pernah berada di barisan depan gerakan. Kini, dalam wadah silaturahmi bernama SIP Melati, para mantan aktivis ortom era 1980–1990-an itu tetap menjaga ikatan persaudaraan, dengan cara yang lebih sederhana, hangat, dan penuh makna.

Tak berlebihan jika SIP Melati disebut sebagai ruang temu lintas generasi dan kepemimpinan. Dalam pertemuan-pertemuannya, hadir tokoh-tokoh yang kini mengemban amanah penting di Persyarikatan, di antaranya Prof. Dr. Haedar Nashir, M.Si., Dr. Siti Noordjanah Djohantini, M.M., Dr. Agung Danarto, M.A., dr. Agus Taufiqurahman, Sp.S., M.Kes., M. Izzul Muslimin, M. Sayuti, Ph.D., Dr. Agus Samsudin, Dr. H. Busyro Muqoddas, M.Hum., M. Jamaluddin Ahmad, S.Psi., Psikolog., Mahli Zainuddin Tago, dan Khoiruddin Bashori. Dari PWM DIY, tampak pula Dr. Ikhwan Ahada, M.A. Arif Jamali Muis, M.Pd., Ir. Azman Latief, Dr. Iwan Setiawan, M.S.I., Dr. Ridwan Furqoni, M.Pd.I., Dr. Untung Cahyono, hingga Ikhwan Bagyo Lumintardjo.

Pertemuan SIP Melati pada Sabtu (10/1) terasa istimewa. Selain ajang silaturahmi, momen ini juga menjadi ungkapan syukur atas pernikahan Mahyudin Al Muhdra, mantan Sekretaris IMM Yogyakarta, dengan Dr. Asmar Ridwan, M.Si., M.Psi. yang digelar di Balai Melayu, Pandeyan, Umbulharjo, Kota Yogyakarta.

Dalam sambutannya, Mahyudin, yang akrab disapa MAM, mengungkapkan rasa syukurnya setelah puluhan tahun menjalani hidup sendiri sepeninggal istri tercinta.

“Saya bersyukur dipertemukan melalui proses ta’aruf yang baik dan difasilitasi seorang psikolog. Saya kira akan jadi objek penelitian, ternyata sekaligus perkenalan. Kini saya tidak lagi menjalani hidup sebatang kara,” ungkapnya haru.

Suasana semakin cair dengan nyanyi-nyanyi bersama yang diiringi pemain electone Agus Kotagede, menghadirkan lagu-lagu lama yang membangkitkan kenangan masa aktivisme. Ketua SIP Melati, H. Pepy AR Iskandar, menyebut kebersamaan ini sebagai bukti bahwa para mantan aktivis tetap memiliki kepedulian sosial yang tinggi. Bukan hanya pada Persyarikatan dan pendidikan, tetapi juga pada kehidupan personal sesama sahabat.

“Di usia yang tidak lagi muda, kebahagiaan bukan tentang keturunan, tapi tentang kebersamaan, teman diskusi, dan menikmati hidup dengan pasangan. Semoga Mas MAM dan Mbak Asmar menjadi keluarga sakinah mawaddah wa rahmah,” tutur Pepy, yang pernah mengemban amanah di legislatif.

Dalam kesempatan tersebut, Asmar Ridwan menyampaikan pengajian singkat bertema menjaga kesehatan mental di usia dewasa akhir. Ia menegaskan bahwa faktor usia tidak seharusnya memadamkan semangat juang seorang aktivis.

“Aktivis sejati tidak membiarkan lingkungannya tidak sehat, masyarakat jauh dari nilai Islam, atau generasinya tumbuh tanpa makna. Bersyukurlah pernah menjadi aktivis, karena itu membuat hidup penuh arti hingga usia senja,” pesannya.

Momen haru juga hadir lewat kehadiran Ikhwan Bagyo Lumintardjo. Meski kini harus menggunakan kursi roda akibat stroke, tokoh Pakualaman tersebut tetap menebar tausiyah informal kepada siapa pun yang ditemuinya, tentang keteguhan, tanggung jawab, dan kematangan seorang lelaki dalam menjaga lahir batin keluarga.

SIP Melati sendiri kerap menggelar pertemuan lintas kota, dari Yogyakarta, Bogor, Bandung, Malang, hingga Bandar Lampung. Namun bagi para anggotanya, Yogyakarta tetaplah kawah candradimuka: tempat menempa nilai, sekaligus sumber tanggung jawab moral untuk terus memberi manfaat di mana pun berada.

Begitulah jika para mantan aktivis ortom berkumpul. Yang dibicarakan bukan hanya masa lalu, tetapi juga masa depan bangsa. Karena bagi mereka, aktivisme mungkin telah berganti bentuk, namun keberpihakan pada kebaikan, keadilan, dan kemanusiaan tak pernah pensiun.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    1
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow