‘Aisyiyah Tekankan Ketakwaan sebagai Fondasi Hadapi Tantangan Zaman

‘Aisyiyah Tekankan Ketakwaan sebagai Fondasi Hadapi Tantangan Zaman

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Ketua Pimpinan Pusat ‘Aisyiyah Evi Sofia Inayati menekankan pentingnya penguatan ketakwaan sebagai fondasi utama kehidupan umat saat memberikan tausiyah dalam acara Silaturahmi Idulfitri 1447 Hijriah yang digelar PP ‘Aisyiyah, Jumat (17/4).

Menurut Evi, ibadah puasa Ramadan bertujuan membentuk pribadi yang bertakwa. Namun, proses menuju ketakwaan tidak berhenti setelah Ramadan berakhir, melainkan harus terus berlanjut dalam kehidupan sehari-hari.

“Ketakwaan adalah proses yang terus bergerak. Setelah Ramadan berlalu, proses itu tetap berjalan hingga kita dipertemukan kembali dengan Ramadan berikutnya,” ujarnya.

Dalam pemaparannya, Evi menjelaskan empat pilar utama ketakwaan dengan merujuk pandangan Ali bin Abi Thalib. Pilar pertama adalah al-khauf min al-jalil, yakni kesadaran dan rasa takut kepada Allah yang mendorong seseorang menjauhi perbuatan buruk.

Ia mengatakan, rasa takut tersebut bukan sekadar ketakutan, tetapi kesadaran spiritual agar seseorang berhati-hati dalam bertindak. Menurutnya, manusia memiliki potensi baik dan buruk, namun potensi negatif dapat ditekan melalui nilai ketakwaan.

Evi juga menyoroti tantangan sosial di era digital, salah satunya praktik perundungan atau bullying di media sosial yang kerap dianggap sepele, baik oleh anak muda maupun orang dewasa.

“Fenomena ini menunjukkan bahwa nilai-nilai kebaikan perlu terus diperkuat. Salah satu kuncinya adalah melalui penguatan institusi keluarga yang mampu menanamkan nilai takwa secara konsisten,” jelasnya.

Pilar kedua, lanjut Evi, adalah wal ‘amalu bit tanzil, yakni beramal sesuai petunjuk wahyu Allah melalui Al-Qur’an dan As-Sunnah. Ketakwaan, menurutnya, dapat dilihat dari sejauh mana seseorang menjalankan perintah agama dan menjauhi larangan-Nya.

“Walaupun tidak bisa memotret ketakwaan secara utuh, ada indikator yang bisa dilihat, yaitu sejauh mana kita melaksanakan perintah agama dan menghindari larangan-Nya,” tegasnya.

Pilar ketiga adalah wal qana’atu bil qalil, yakni sikap qanaah atau menerima dengan ikhlas atas keterbatasan. Namun, ia menegaskan bahwa qanaah bukan berarti menyerah atau berhenti berusaha.

“Qanaah bukan menyerah, tetapi melahirkan rasa syukur, semangat berikhtiar, dan produktivitas,” katanya.

Adapun pilar keempat adalah wal isti’dadu li yaumil akhir, yaitu kesiapan menghadapi kehidupan akhirat. Evi mengingatkan bahwa kematian merupakan kepastian yang waktunya tidak diketahui siapa pun.

“Kita semua pasti akan kembali kepada Allah. Karena itu, setiap fase kehidupan harus diisi dengan amal saleh dan menghadirkan Allah dalam setiap aktivitas,” ujarnya.

Ia menambahkan, momentum Silaturahmi Idulfitri menjadi ruang refleksi bagi pimpinan ‘Aisyiyah untuk memperkuat komitmen spiritual sekaligus menjawab tantangan sosial melalui nilai-nilai Islam berkemajuan.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow