5.900 Jiwa Lebih Dilayani, Muhammadiyah Perkuat Respons Atas Banjir dan Longsor Sumatra

5.900 Jiwa Lebih Dilayani, Muhammadiyah Perkuat Respons Atas Banjir dan Longsor Sumatra

Smallest Font
Largest Font

ACEH — Muhammadiyah melalui Lembaga Resiliensi Bencana (LRB) atau Muhammadiyah Disaster Management Center (MDMC) terus memperkuat respons kemanusiaan terhadap bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat sejak akhir November 2025. Bencana ini dipicu hujan ekstrem berkepanjangan yang menyebabkan meluapnya sungai, tanah longsor di wilayah perbukitan, serta kerusakan infrastruktur di berbagai titik.

Berdasarkan laporan situasi hingga 7 Desember 2025, jumlah korban terdampak tercatat sangat besar: 836 jiwa meninggal dunia, 509 jiwa hilang, 643.900 jiwa mengungsi, dan 3,3 juta jiwa terdampak langsung. Kerusakan meluas pada permukiman warga, fasilitas pendidikan, rumah ibadah, layanan kesehatan, jaringan jalan, hingga infrastruktur dasar lainnya.

Wilayah terdampak di Sumatera Barat mencakup Padang Panjang, Agam, Tanah Datar, dan Padang Pariaman, dengan longsor yang mengganggu jalur distribusi logistik. Di Aceh, banjir dan longsor melanda Aceh Tenggara, Aceh Tengah, Aceh Utara, Pidie, dan Aceh Timur, menyebabkan sejumlah kecamatan terisolasi. Sementara di Sumatera Utara, Tapanuli Selatan, Tapanuli Tengah, Kota Sibolga, dan Deli Serdang menjadi titik terdampak utama.

Bencana ini juga merusak sejumlah Amal Usaha Muhammadiyah, termasuk sekolah, masjid, panti, dan fasilitas layanan sosial, dengan tingkat kerusakan mulai dari ringan hingga berat.

Dalam merespons kondisi tersebut, MDMC bersama LAZISMU, rumah sakit Muhammadiyah–‘Aisyiyah, perguruan tinggi, serta unsur persyarikatan lainnya memberikan berbagai layanan kemanusiaan, meliputi asesmen cepat, layanan kesehatan, pembukaan dapur umum, distribusi logistik, layanan psikososial, evakuasi warga, aksi pembersihan lingkungan, pembangunan jembatan darurat dan akses sementara.

Hingga 7 Desember 2025, 5.923 jiwa telah merasakan manfaat layanan Muhammadiyah, termasuk bantuan logistik, makanan siap saji, layanan kesehatan, psikososial, serta dukungan pembersihan fasilitas umum dan permukiman. Angka ini masih bersifat sementara dan terus diperbarui.

Untuk mendukung respons berkelanjutan, MDMC mengerahkan relawan lintas daerah. Seperti relawan dari Jawa Barat dan DIY memperkuat respons di Aceh, relawan dari Jawa Tengah dan Jawa Timur mendukung Sumatera Utara, serta relawan dari Lampung, Sumatera Selatan, Riau, dan Bengkulu memperkuat Sumatera Barat.

Seluruh pergerakan relawan berjalan dalam koordinasi terpadu melalui posko wilayah (poskor) dan pos pelayanan (posyan).

Ketua LRB/MDMC PP Muhammadiyah, Budi Setiawan, menegaskan bahwa penanganan bencana memerlukan tahapan panjang dan ketangguhan bersama.

“Bencana datang tiba-tiba dan memaksa penyintas kembali pada kondisi serba terbatas. Untuk bangkit kembali dibutuhkan waktu dan tahapan pemulihan yang jelas. Di sinilah diperlukan napas panjang para relawan,” ujarnya. Ia menambahkan pentingnya kemitraan setara antara relawan dan penyintas.

“Penyintas bukan objek bantuan. Mereka subjek yang harus diajak bekerja sama untuk bangkit bersama. Relawan dan penyintas harus saling menguatkan agar pemulihan melahirkan ketangguhan bersama,” tegasnya.

Sejumlah kebutuhan prioritas masih harus dipenuhi, antara lain bantuan pangan, sanitasi dan kebersihan, perlengkapan bayi dan keluarga, kebutuhan khusus lansia, air bersih, hunian sementara, serta pendidikan darurat.

MDMC menegaskan bahwa respons Muhammadiyah merupakan ikhtiar kolektif untuk menghadirkan layanan kemanusiaan yang terorganisir, profesional, dan berkelanjutan. Melalui sinergi lintas wilayah, pelibatan masyarakat secara inklusif, dan penguatan kapasitas lokal, Muhammadiyah berkomitmen mendampingi para penyintas hingga fase pemulihan.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow