26 Kepala Sekolah Muhammadiyah Ikuti Leaders School Immersion Program di Singapura
SINGAPURA — Sebanyak 26 kepala sekolah Muhammadiyah dari DIY mengikuti Immersion Program di Singapura pada 19–22 November 2025. Program ini digelar oleh Departement of Primary, Secondary, and Non Formal Education (Majelis Dikdasmen-PNF) PWM DIY bekerja sama dengan Marshall Cavendish Education (MCE), Singapura.
Rombongan peserta terdiri dari kepala sekolah SD, SMP, SMA, hingga SMK, serta perwakilan Majelis Dikdasmen-PNF PWM DIY dan dua direktur Madrasah Mu’alimin. Seluruh agenda pelatihan dipusatkan di Village Hotel Changi Singapore dan kantor pusat Marshall Cavendish Education.
Workshop perdana berlangsung pada hari pertama pukul 15.00–17.00 waktu Singapura. Usai kegiatan, rombongan melaksanakan salat berdasarkan jadwal MUIS (Majlis Ugama Islam Singapura) dan melanjutkan aktivitas Singapore River Cruise sebagai bagian dari eksplorasi budaya kota.
Materi pertama disampaikan oleh Mr. Abu Bakar dengan tema AI Pedagogy. Ia menjelaskan bahwa kecerdasan buatan bukan sekadar teknologi, melainkan sistem yang belajar dari data dan membuat keputusan. Penggunaan AI, misalnya Grammarly atau fitur Magic Design, dapat membantu guru bekerja lebih efisien dan fokus pada kebutuhan siswa.
Menurut Abu Bakar, pendidik perlu mengembangkan literasi AI serta mengadopsi e-pedagogy untuk pembelajaran masa depan. “Kerangka literasi AI bertujuan membentuk pemahaman, keterampilan, dan sikap yang aman, efektif, dan etis dalam memanfaatkan teknologi,” ujarnya.
Pada hari kedua, Abu Bakar menyampaikan materi Change Leadership. Ia menekankan bahwa kepala sekolah harus memiliki kemampuan mengantisipasi perubahan, mengomunikasikan arah perubahan, memotivasi staf, serta memastikan implementasi berjalan berkelanjutan.
Materi hari ketiga membahas manajemen risiko, mencakup langkah-langkah mengidentifikasi, menganalisis, dan mengendalikan risiko dalam organisasi pendidikan. Abu Bakar menilai tantangan terbesar dalam perubahan justru sering muncul dari penolakan internal terhadap kebijakan atau teknologi baru.
Hari keempat menghadirkan Tri Turturi Farah Meswari, Regional Director Southeast Asia MCE. Ia menekankan peran kepala sekolah dalam memastikan kebutuhan individu setiap warga sekolah terpenuhi. “Kepala sekolah harus mampu membebaskan guru untuk fokus mengajar dan meningkatkan kualitas pembelajaran dengan pendekatan yang tepat,” jelasnya.
Workshop terakhir ditutup dengan materi Mathematics and Artificial Intelligence, disampaikan oleh Ms. Siew Peng Koh, Training Manager MCE. Ia memaparkan bahwa matematika menjadi fondasi utama dalam pengembangan AI—sementara AI sendiri dapat merevolusi cara belajar matematika melalui personalisasi dan bantuan pemecahan masalah.
Program empat hari ini menjadi momentum penting bagi para kepala sekolah Muhammadiyah untuk memperluas wawasan global, memperkuat kompetensi kepemimpinan, serta mengadopsi praktik terbaik pendidikan modern.
Kontributor: Tri Suryani, Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 4 Yogyakarta
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow