113 Kilometer, 9 Hari, dan Jejak Keteguhan: Cerita Para Pejalan Kaki di Milad 113 Muhammadiyah
YOGYAKARTA — Di tengah cuaca berawan sejak pagi, langkah-langkah kecil itu tetap bergerak. Perlahan, teratur, dan penuh tekad. Di antara rombongan itu, tampak seorang lelaki berusia lanjut, sesekali berhenti untuk menarik napas, namun kembali melangkah tanpa mengeluh.
Dialah AR Iskandar, penyintas stroke yang justru menjadi motor penggerak aksi jalan kaki sejauh 113 kilometer dalam rangka Milad ke-113 Muhammadiyah. Bagi Iskandar, berjalan kaki bukan sekadar aktivitas fisik. Ia adalah bahasa syukur, cara untuk merawat hidup, dan pesan sederhana kepada siapa pun yang ingin sembuh.
“Tetap bergerak, sekecil apa pun langkahmu,” katanya.
Komunitas JAKIMU (Jalan Kaki Muhammadiyah) DIY mengawali perjalanan ini pada 10 November 2025, tepat di Hari Pahlawan. Mereka menutupnya delapan hari kemudian, bertepatan dengan Milad Muhammadiyah. Angka 113 kilometer dipilih dengan sengaja, sejauh usia Persyarikatan yang terus menebar dakwah dan kemajuan.
Bersama mereka, hadir wajah-wajah yang membawa cerita unik. Ada Mbah Burhan (78) yang sejak etape pertama hingga kesembilan tak sekali pun absen. Setiap pagi ia menggulung celana, menyiapkan sepatu, dan menantang jarak 13–14 kilometer tanpa banyak bicara.
Ada pula Mbah Atmaji (85), mantan Kwarpus HW, yang meski usianya telah sepuh tetap bersikeras mengikuti empat etape, termasuk etape ketujuh yang merupakan jalur paling ekstrem: menuruni lembah dan menanjak curam menuju Pantai Sadeng. Usai menyelesaikannya, ia hanya berkata pendek, “Selama bisa melangkah, saya ikut.”
Di sepanjang rute, masyarakat, PCM, PCA, dan amal usaha Muhammadiyah ikut menyambut mereka. Para peserta bukan hanya berjalan, tetapi juga mendengarkan kisah perjuangan Muhammadiyah: sekolah-sekolah yang lahir dari semangat dakwah, rumah sakit yang dibangun dari keikhlasan kolektif, hingga masjid-masjid kecil yang dahulu menjadi pusat pergerakan.
Salah satu momen paling mengharukan terjadi saat rombongan mencapai finis di SD Muhammadiyah Tegallayang, Pandak Barat, Bantul. Hujan deras membuat peserta menggigil, mantel plastik tipis menempel di tubuh, dan sepatu basah sejak kilometer pertama. Namun semua rasa itu hilang seketika ketika mereka diberi tahu bahwa sekolah itu sudah berusia satu abad, dan PCM Pandak merupakan PCM pertama di dunia yang SK-nya ditandatangani langsung oleh KH Ahmad Dahlan.
Ketika mereka shalat Jumat di masjid terdekat, para peserta baru menyadari bahwa tempat itu pernah menjadi pusat komando Askar Perang Sabil, laskar perjuangan Muhammadiyah yang membantu mempertahankan kemerdekaan. Di situlah banyak peserta menahan tangis. Langkah yang berat tiba-tiba terasa ringan karena menyambung jejak para pejuang.
Ketua LDK PWM DIY, Ananto Isworo, menyebut aksi ini sebagai dakwah berbasis komunitas. Tidak ada panggung besar, tidak ada pengeras suara, tidak ada baliho raksasa. Yang ada hanya jalan, sepatu, dan kebersamaan.
Setiap etape dirancang melewati amal usaha Muhammadiyah. Setiap langkah menyambung ukhuwah. Setiap pertemuan menjadi ruang berbagi kisah dan semangat.
Aksi ini juga disambut hangat oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Pada etape pertama, Bendahara Umum PP Muhammadiyah, Prof. Hilman Latief berharap JAKIMU bisa menjadi gerakan nasional. Ketua PWM DIY, M. Ikhwan Ahada, mengajak warga Muhammadiyah menjadikan berjalan kaki sebagai budaya sehat sekaligus bentuk dakwah yang membumi.
Etape pamungkas dimulai dari Kampus Universitas Muhammadiyah Yogyakarta menuju Masjid Jogokariyan, lalu berakhir di Masjid Islamic Center Universitas Ahmad Dahlan. Sambutan hangat dari jajaran universitas dan PWM DIY membuat peserta larut dalam haru. Ada yang menitikkan air mata, ada yang memeluk rekannya, ada pula yang menengadah sambil memanjatkan syukur.
Edy Prajaka, Ketua Lembaga Pengembangan Olahraga PWM DIY, berharap aksi ini kelak dikukuhkan sebagai gerakan resmi JAKIMU. Bahkan, ia membayangkan tahun 2027 nanti aksi ini menjadi gerakan nasional untuk menyemarakkan Muktamar ke-49 Muhammadiyah di Medan.
Aksi jalan kaki ini bukan untuk mengejar catatan rekor. Tidak pula untuk menunjukkan siapa yang paling kuat. Ia adalah ziarah kecil untuk mengingatkan kembali, bahwa dakwah bisa dimulai dari langkah sederhana, dari teladan yang diam-diam menyentuh hati, dan dari kebersamaan yang menguatkan.
Di antara langkah yang terayun itu, para peserta seakan sepakat pada satu hal: 113 kilometer ini adalah perjalanan merawat makna. Tentang kesehatan, persaudaraan, perjuangan, dan rasa syukur menjadi bagian dari Persyarikatan yang terus bergerak.
What's Your Reaction?
-
4
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow