Yayan Suryana dalam Kamastu AMM DIY: "Keluarga Kini Terhubung Sinyal, Tapi Terputus Hati"

Yayan Suryana dalam Kamastu AMM DIY: "Keluarga Kini Terhubung Sinyal, Tapi Terputus Hati"

Smallest Font
Largest Font

YOGYA – Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY, Dr. Yayan Suryana, menyoroti tantangan besar yang dihadapi keluarga di era modern dalam Kajian Malam Sabtu (Kamastu) pada Jumat (1/8/2025). Bertempat di Aula Gedung PWM DIY, kajian rutin yang dihelat oleh Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) DIY ini mengangkat tema krusial "Merawat Harmoni Keluarga di Era Digital: Tarikan Teknologi dan Kedekatan Hati."

Di hadapan para peserta, Dr. Yayan Suryana mengupas fenomena paradoks di mana teknologi yang seharusnya mendekatkan, justru menciptakan jarak emosional di dalam unit terkecil masyarakat. "Kita kini berada di era di mana keluarga menjadi connected secara sinyal, tapi disconnected secara hati," ujarnya membuka materi.

Menurutnya, kemudahan komunikasi digital memunculkan fenomena yang ia sebut alone together atau 'bersama namun sendiri'. Momen berharga seperti makan malam bersama keluarga sering kali terganggu oleh notifikasi dan keasyikan setiap anggota keluarga dengan gawainya masing-masing.

"Anak-anak menjadi lebih dekat dengan layar daripada pangkuan orang tuanya. Orang tua lebih gelisah saat koneksi Wi-Fi terputus daripada saat koneksi dengan anaknya merenggang. Ini adalah realitas yang mengkhawatirkan," tegas Dr. Yayan.

Mengutip pemikiran sosiolog Jacques Ellul, ia menjelaskan tentang munculnya "manusia mesin" yang kehilangan etika dan kepekaan sosial karena interaksi yang didominasi oleh sistem teknologi, bukan lagi negosiasi dari hati ke hati. Hal ini, menurutnya, mengikis fondasi utama keluarga yang seharusnya dibangun di atas kehangatan dan empati.

Berdasarkan perspektif Islam, Dr. Yayan mengingatkan bahwa menjaga keharmonisan keluarga adalah amanah spiritual. Ia mengutip sabda Rasulullah SAW, "Khairukum khairukum li ahlihi" (Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya), sebagai pengingat bahwa tolok ukur kebaikan seseorang dimulai dari rumah.

Sebagai solusi, ia menawarkan beberapa strategi praktis untuk menjaga harmoni keluarga di tengah gempuran digital:

  1. Digital Boundaries: Membuat kesepakatan bersama dalam keluarga mengenai waktu dan area bebas gawai, misalnya saat makan bersama atau satu jam sebelum tidur.

  2. Family Rituals: Menciptakan rutinitas berkualitas seperti mengaji bersama, sarapan bareng tanpa distraksi gawai, atau berolahraga bersama untuk memperkuat ikatan emosional.

  3. Teknologi sebagai Alat (Tool), Bukan Tuan (Master): Memosisikan teknologi sebagai sarana untuk kebaikan, seperti belajar atau dakwah, bukan sebagai candu yang mengendalikan hidup.

  4. Mengisi Rekening Emosi: Secara aktif "menyetor" momen-momen positif seperti pujian, perhatian, dan empati untuk membangun "rekening emosional" yang kuat di antara anggota keluarga.

"Pada akhirnya, kita harus lebih gelisah saat hati kita membatu dan kehilangan cinta, melebihi kegelisahan kita saat Wi-Fi terputus. Itulah esensi menjaga keluarga sebagai fondasi peradaban," pungkasnya.

Kajian Kamastu merupakan program rutin AMM DIY yang digelar setiap Jumat malam untuk membahas berbagai isu aktual dari perspektif keislaman dan kemuhammadiyahan.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow