Warga Muhammadiyah Juga Butuh Ustaz yang Bisa 'Ndagel'
BANTUL — Pengajian di lingkungan Muhammadiyah tidak selalu harus berlangsung serius dan penuh dengan materi yang berat. Agar jamaah tetap antusias dan pengajian berlangsung berkelanjutan, diperlukan ustaz yang mampu menyampaikan materi secara komunikatif, sesekali diselingi humor, serta dekat dengan kehidupan masyarakat akar rumput.
Hal itu disampaikan Bambang Prasetyo, jamaah aktif sekaligus anggota KOKAM Piyungan dan Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Sitimulyo Barat. Menurutnya, kajian serius seperti Himpunan Putusan Tarjih (HPT) maupun kajian kumpulan hadis sahih tetap penting, terutama bagi para pengurus dan pimpinan Muhammadiyah. Namun, untuk jamaah di tingkat ranting, pendekatan yang lebih cair juga dibutuhkan.
“Kami juga sangat membutuhkan para ustaz yang bisa ndagel, komunikatif dengan jamaah grassroot (akar rumput), dan menghibur,” kata Bambang.
Ia berharap makin banyak ustaz yang mampu mengemas pengajian dengan bahasa yang mudah dipahami serta humor yang relevan dengan kehidupan sehari-hari. Ia menyebut sejumlah ustaz yang menurutnya memiliki gaya tersebut, antara lain H. Sutarjo, H. Mustofa selaku Kepala SD Muhammadiyah Pakel H. Saijan, Syech Purji, H. Saibani, Adnan Kohari, Sholahuddin Zuhri, Ustaz Kang Pujiharto, Ustaz Mahroji, H. Amrozi, H. Taufik Ridwan, H. Yanto Kirun, dr. H. Sagiran, dr. H. Probo Suseno, hingga Dr. H. Muhammad Ikhwan Ahada, M.A.
Menurut Bambang, gaya penyampaian yang komunikatif dan diselingi humor membuat jamaah merasa lebih dekat dengan materi pengajian. Candaan yang mengikuti isu atau peristiwa yang sedang ramai diperbincangkan juga membuat jamaah lebih mudah terhubung dengan pesan yang disampaikan.
“Menurut saya, memang ketika berhadapan dengan jamaah grassroot harus dicarikan ustaz-ustaz yang pintar ndagel, tetapi tidak saru,” harap Bambang.
Salah satu ustaz yang dinilai memiliki pendekatan tersebut adalah Ustaz Sutarjo, S.Ag. Namanya cukup dikenal di Gunungkidul karena gaya pengajiannya yang komunikatif dan dekat dengan jamaah.
Saat menjadi narasumber di Pengajian Rutin Ahad Wage (4/10), Ustaz Sutarjo kerap menyelinginya dengan lagu-lagu yang sudah akrab di telinga jamaah. Bahkan, lagu-lagu campursari karya almarhum Mantos dari Gunungkidul kerap membuat jamaah, khususnya kalangan sepuh, ikut bernyanyi.
“Mari kita nyanyi saja, lupakan utang sejenak,” ujar Ustaz Sutarjo, disambut suasana pengajian yang lebih cair.
Ia juga banyak menggunakan bahasa Jawa dalam menyampaikan materi. Pendekatan tersebut membuat pesan-pesan kajian terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari jamaah.
Pandangan serupa disampaikan Nila Haryana, Anggota Pimpinan Ranting 'Aisyiyah Sitimulyo Barat. Ia menilai guru ngaji di tingkat pedesaan atau masyarakat akar rumput memang perlu memiliki kemampuan berkomunikasi yang membumi, termasuk sesekali menyelipkan guyonan yang tidak berlebihan.
“Jadi jamaah itu malah akan mudah menyerap materi kajian dan tidak ngantuk,” kata Nila yang juga merupakan guru PAUD Kuden Ceria tersebut.
Menurut Nila, Kajian Ahad pagi bersama Ustaz Sutarjo tidak hanya menghadirkan suasana yang menghibur, tetapi juga tetap mengajak jamaah mencermati berbagai persoalan bangsa. Mulai dari kondisi pemerintahan hingga persoalan ekonomi menjadi bagian dari pembahasan.
“Kami bisa tertawa ngakak ketika diajak ngomongin presiden yang sukanya omon-omon,” tambahnya.
Kajian Ahad Wage kali ini juga menjadi momentum istimewa bagi warga Muhammadiyah Sitimulyo Barat. Pasalnya, kegiatan tersebut berlanjut dengan pelaksanaan pemungutan suara pemilihan Lurah Sitimulyo.
Sebelumnya, PRM Sitimulyo Barat telah mengundang tiga calon lurah, yakni Hj. Deviana R., H. Misnawi, dan Hj. Juweni, untuk berdialog mengenai program-program yang akan mereka jalankan, khususnya dalam upaya membangun sumber daya manusia yang berkualitas.
Ketiga calon tersebut, menurut Bambang, mengapresiasi kiprah PRM Sitimulyo Barat yang diharapkan dapat menjadi mitra pemerintah desa dalam berbagai bidang.
Hubungan antara Muhammadiyah dan Pemerintah Desa Sitimulyo juga dinilai telah terjalin cukup dekat. Untuk hasil pemilihan, H. Misnawi mendapatkan amanah sebagai lurah terpilih Desa Sitimulyo.
Bagi warga Muhammadiyah Sitimulyo Barat, pengajian dan keterlibatan dalam kehidupan sosial kemasyarakatan menjadi bagian dari ikhtiar untuk menjaga Muhammadiyah tetap dekat dengan masyarakat. Bukan hanya menyampaikan materi keagamaan, tetapi juga hadir dengan bahasa yang mudah diterima, suasana yang menyenangkan, serta kepedulian terhadap persoalan yang dihadapi masyarakat.
What's Your Reaction?
-
1
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow