Wali Kota Yogyakarta Ajak Mahasiswa UMY Raih Financial Freedom Sebelum Usia 50 Tahun
YOGYAKARTA — Keberhasilan di dunia kerja saat ini tidak lagi ditentukan semata-mata oleh prestasi akademik. Di tengah persaingan yang semakin kompetitif, kemampuan beradaptasi, berkomunikasi, serta mengembangkan diri menjadi bekal penting untuk membangun karier sekaligus mencapai kemandirian finansial.
Berangkat dari kondisi tersebut, Wali Kota Yogyakarta, Dr. (H.C.) dr. H. Hasto Wardoyo, Sp.OG(K)., mengajak mahasiswa Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) menargetkan kebebasan finansial (financial freedom) sebelum memasuki usia 50 tahun.
Ajakan itu disampaikan saat menjadi pembicara dalam Seminar Career Development bertajuk The Professional Compass: Navigating Mental Wellness and Career Survival yang digelar di Kampus UMY, Sabtu (27/6).
Menurut Hasto, target mencapai financial freedom sebelum usia kepala lima semakin relevan mengingat Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) mulai memasuki fase aging population atau penuaan penduduk. Kondisi tersebut berpotensi memengaruhi pertumbuhan ekonomi apabila generasi muda tidak mempersiapkan diri sejak dini.
"Harusnya sebelum usia 50 tahun itu sudah bebas finansial. Sudah tidak memikirkan lagi untuk makan hari ini, besok, atau lusa. Semua itu seharusnya sudah selesai," tegasnya.
Ia menjelaskan, financial freedom bukan berarti memiliki kekayaan berlimpah, melainkan mempunyai sumber pendapatan pasif yang mampu memenuhi kebutuhan hidup tanpa sepenuhnya bergantung pada pekerjaan aktif.
Dalam paparannya, Hasto menyoroti ketimpangan antara bekal yang diperoleh mahasiswa selama kuliah dengan kebutuhan dunia kerja. Menurutnya, pembelajaran di perguruan tinggi masih didominasi penguasaan hard skill, sementara dunia profesional justru lebih banyak menuntut soft skill.
Ia menyebut, selama kuliah mahasiswa umumnya memperoleh sekitar 90 persen hard skill dan hanya 10 persen soft skill. Namun ketika memasuki dunia kerja, komposisinya berbalik. Sekitar 80 persen keberhasilan ditentukan oleh soft skill, sedangkan hard skill hanya berkontribusi sekitar 20 persen.
"Soft skill yang terlalu bagus tetapi tidak didasari hard skill dan ilmu yang cukup itu menyesatkan. Sebaliknya, hard skill yang bagus tanpa disertai soft skill yang baik ternyata juga tidak banyak dipakai di masyarakat," ujarnya.
Berbagi pengalamannya sebagai dokter spesialis obstetri dan ginekologi, Hasto mengatakan pasien cenderung lebih menyukai dokter yang mampu mendengarkan, menunjukkan empati, dan membangun komunikasi yang baik dibandingkan hanya mengandalkan kemampuan teknis.
Selain kompetensi, Hasto juga menekankan pentingnya perubahan pola pikir (mindset) dan keberanian keluar dari zona nyaman. Ia mendorong mahasiswa memiliki creative tension, yakni kemampuan menjadikan jarak antara kondisi saat ini dan cita-cita masa depan sebagai motivasi untuk terus berkembang.
"Milikilah angan-angan atau mimpi yang besar. Jangan hanya memilih jalan yang mudah. Kalau bisa mengerjakan hal yang lebih sulit, lakukanlah," pesannya.
Ia mengibaratkan proses pengembangan diri seperti metamorfosis seekor katak yang mengalami perubahan secara menyeluruh, bukan sekadar bertambah besar. Menurutnya, peningkatan kapasitas seseorang idealnya melalui tiga tahapan, yakni acquisition (memperoleh pengetahuan), competence (membangun kompetensi), hingga proficiency (mencapai kemahiran profesional).
Di sela penyampaian materi, Hasto juga menyampaikan pesan dengan gaya humor yang disambut tawa peserta. Ia mengajak mahasiswa aktif mengikuti organisasi kemahasiswaan sebagai wadah mengasah kepemimpinan, kemampuan berkomunikasi, dan memperluas jejaring.
"Mahasiswa UMY nanti kalau lulus jangan sampai yang bertambah hanya berat badannya, tetapi keterampilannya tidak bertambah. Ini penting sekali," selorohnya.
Menutup paparannya, Hasto mengajak mahasiswa UMY mengambil peran sebagai generasi penggerak pembangunan dan pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan memanfaatkan momentum bonus demografi.
"Saya doakan seluruh mahasiswa yang hadir pada kesempatan ini, insyaallah kelak menjadi pemimpin bangsa Indonesia yang amanah dan membawa kemajuan," pungkasnya.
What's Your Reaction?
-
0
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow