Ustaz Handy Bonny: Dakwah Harus Menarik, Masjid Perlu Ramah Anak Muda

Ustaz Handy Bonny: Dakwah Harus Menarik, Masjid Perlu Ramah Anak Muda

Smallest Font
Largest Font

YOGYA – Ustaz Handy Bonny menekankan pentingnya dakwah yang menarik dan masjid yang ramah bagi anak muda agar Islam semakin dekat dan relevan dengan generasi milenial maupun Gen Z. Hal itu ia sampaikan dalam Talkshow Masjid Berkemajuan di Muhammadiyah Jogja Expo #4, Sabtu (13/9).

Menurutnya, cara berdakwah harus memperhatikan bentuk komunikasi yang ringan, menyenangkan, serta relatable dengan problematika generasi muda. Ia mengibaratkan pendekatan dakwah dengan konsep digital funnel marketing melalui tahapan AIDA: Awareness, Interest, Desire, hingga Action.

“Awareness itu bagaimana orang memperhatikan kita dulu. Interest dibangun lewat bahasa yang ringan dan materi yang tidak kaku. Setelah itu muncul desire, keinginan untuk terus terhubung, lalu action dalam bentuk keterlibatan lebih jauh di masjid,” jelas Ustaz Handy.

Ia menambahkan, masjid harus mampu menjadi tempat yang nyaman bagi anak muda. Jika mereka menemukan kebahagiaan di luar masjid, seperti di gunung, pantai, atau konser musik, maka masjid perlu menawarkan suasana yang ramah dan menyenangkan.

 “Begitu juga ketika di rumah anak muda tidak betah karena sering dimarahi orang tua, mereka mencari kebahagiaan di luar. Jangan sampai masjid juga bersikap judes, seharusnya menyambut jamaah dengan ramah seperti halnya layanan di bank,” ujarnya.

Lebih jauh, Ustaz Handy menegaskan peran masjid tidak terbatas pada fungsi ibadah. Ia merujuk pada lima pilar masjid: Baitullah (tempat ibadah), Baitul Mal (pengelolaan harta umat), Baitul Muamalah (pusat ekonomi), Baitut Tarbiyah (pendidikan), dan Baitus Siyasah/Dakwah (strategi perjuangan umat).

“Dulu, masjid adalah tempat orang pintar, bahkan universitas pertama di dunia lahir dari masjid, yakni Al-Qarawiyyin di Maroko. Maka masjid hari ini juga harus kembali jadi pusat ilmu dan kebangkitan umat,” tegasnya.

Ia menyoroti tantangan besar era digital, di mana anak muda dibanjiri informasi dari media sosial. Menurutnya, da’i perlu aktif menghadirkan konten positif di platform populer seperti TikTok dan Instagram. “Problem kita bukan kekurangan santri karena Indonesia punya empat juta santri baru tiap tahun. Tapi kita kekurangan da’i yang mau living with them, hidup bersama anak muda, memahami keresahan mereka, lalu mengajaknya pada Islam yang indah dan membahagiakan,” jelasnya.

Ustaz Handy juga menyinggung pentingnya riset dalam dakwah agar strategi masjid sesuai dengan kebutuhan masyarakat sekitar. Ia memberi contoh Masjid Jogokariyan Yogyakarta, yang berhasil menjadi model masjid berkemajuan berkat perjuangan panjang sejak 1960-an.

“Saya kagum, perjuangan mereka panjang dan turun-temurun. Ada penularan ide dan gagasan lintas generasi yang membuat masjid itu menjadi pusat peradaban hingga hari ini,” tuturnya.

Dengan pendekatan yang komunikatif, profesional, dan menyentuh kebutuhan anak muda, Ustaz Handy optimistis masjid bisa kembali menjadi pusat kebangkitan umat sekaligus ruang yang ramah, hangat, dan inspiratif bagi generasi masa depan.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow