Tetap Mengabdi di Usia Senja, Para Mantan Guru SMP Moetoe Khatamkan Al-Qur’an Tiap Tiga Hari
YOGYAKARTA — Masa purna tugas atau pensiun bukanlah akhir dari pengabdian. Bagi para mantan guru dan karyawan SMP Muhammadiyah 7 (Kotagede) Yogyakarta, pensiun justru menjadi awal babak baru untuk terus menebar manfaat, menjaga silaturahmi, dan merawat ikatan batin dengan sekolah yang pernah menjadi rumah pengabdian mereka.
Tergabung dalam Paguyuban Alumni Moetoe (PAM), para mantan pendidik ini rutin berkumpul setiap Sabtu Legi dalam kegiatan yang mereka sebut ngrabuk nyawa—menyambung kehidupan dengan kebersamaan, doa, dan amal kebaikan. Usia boleh menua, tetapi semangat berbagi pengalaman, pemikiran, dan kontribusi untuk sekolah serta masyarakat tetap menyala.
Salah satu kegiatan yang menjadi ruh kebersamaan PAM adalah program khataman Al-Qur’an setiap tiga hari. Kegiatan ini dilakukan secara sederhana: ngaji bersama, saling menyimak bacaan, saling mengingatkan bila ada kekeliruan, lalu ditutup dengan makan bersama dari dapur sekolah.
“Insya Allah kegiatan ngaji dan saling menyimak ini menjadi sangat menarik, apalagi dimulai dengan makan siang yang dihasilkan dari pawon sekolah,” tutur Ketua PAM, Hj. Nilawati Isdwiantari, S.Pd., M.Pd.
Bagi Nilawati yang merupakan mantan guru sekaligus Kepala SMP Muhammadiyah 7 (Kotagede) Yogyakarta, kegiatan khataman ini bukan hal baru. Tradisi membaca Al-Qur’an dengan tartil dan disimak sudah menjadi kebiasaan sejak masih aktif mengajar. Karena itu, menurutnya, tidak ada alasan untuk merasa kesulitan atau enggan membaca Al-Qur’an di masa purna tugas.
“Kegiatan sederhana ini menjadi ajang para mantan guru dan karyawan untuk berkumpul, makan bersama, tadarus, sekaligus berdoa agar sekolah yang puluhan tahun menjadi tempat pengabdian kami tetap hebat dan dicintai masyarakat,” ungkapnya.
Keunikan SMP Muhammadiyah 7 (Kotagede) Yogyakarta yang berada di kawasan njeron Beteng Purbayan juga memberi warna tersendiri bagi PAM. Lebih dari separuh guru dan karyawan sekolah tersebut merupakan alumni siswa, sehingga rasa memiliki terhadap sekolah sangat kuat dan berkesinambungan lintas generasi.
Tak hanya fokus pada kegiatan spiritual, PAM juga aktif mendukung pengembangan sekolah. Di antaranya melalui penggalangan dana untuk pembangunan Masjid Multifungsi, program penyambutan pensiunan, pelatihan usaha pascapurna dengan konsentrasi batik tulis dan jajanan pasar, pengelolaan dapur sekolah, hingga silaturahmi dengan para donatur dan muzaki.
“Kami juga rutin bertemu para wakif dan donatur, bahkan sampai ke Bandung. Kegiatan sederhana, tapi dampaknya besar untuk menjaga amanah dan silaturahmi dengan keluarga besar para wakif,” tambah Nilawati.
Kisah para mantan guru dan karyawan SMP Muhammadiyah 7 (Kotagede) Yogyakarta ini menjadi pengingat bahwa pengabdian sejati tak pernah benar-benar berakhir. Di keluarga, masyarakat, persyarikatan, maupun sekolah tempat perjuangan dimulai, para mantan tetap memiliki peran istimewa.
Usia boleh bertambah, tetapi makna hidup terus dirawat melalui kebersamaan, doa, dan ayat-ayat Al-Qur’an yang terus mengalir dari hati ke hati.
What's Your Reaction?
-
2
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow