Tangani Banjir dan Longsor, Relawan Muhammadiyah Aceh dan DIY Tempuh Risiko Menuju Gayo Lues

Tangani Banjir dan Longsor, Relawan Muhammadiyah Aceh dan DIY Tempuh Risiko Menuju Gayo Lues

Smallest Font
Largest Font

GAYO LUES — Tim relawan Muhammadiyah dari Aceh dan Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) menempuh perjalanan darat yang penuh risiko untuk memperkuat penanganan bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Gayo Lues, Aceh. Dengan kondisi cuaca tidak menentu dan akses jalan yang rusak berat, para relawan tetap bergerak demi menjangkau wilayah-wilayah yang terisolir.

Pada Sabtu (6/12), Lembaga Resiliensi Bencana/Muhammadiyah Disaster Management Center (LRB/MDMC) Aceh memberangkatkan sepuluh relawan gelombang kedua, terdiri dari tenaga medis, relawan psikososial, serta admin dan media. Keberangkatan melalui jalur darat dipilih sebagai langkah paling aman mengingat cuaca ekstrem.

Sebelum berangkat, seluruh relawan mendapat pengarahan dari MDMC PP Muhammadiyah. Mayoritas relawan telah divaksin, sementara tiga lainnya, terdiri dari dua relawan cadangan dan satu yang memiliki riwayat alergi diberangkatkan tanpa vaksinasi setelah mendapat rekomendasi medis.

Sehari sebelumnya, Jumat (5/12), tim MDMC DIY dengan 26 personel telah tiba di Aceh Barat Daya. Mereka berangkat melalui jalur udara, membawa tenaga kesehatan dari RS PKU Muhammadiyah, relawan logistik, dan tim psikososial. Dua armada darat tambahan menyusul kemudian.

Setelah beristirahat di Gedung Dakwah Muhammadiyah Banda Aceh, tim DIY bergerak menuju Abdya lalu melanjutkan perjalanan ke Gayo Lues untuk bergabung dengan relawan Aceh. Mereka dijadwalkan bertugas selama satu bulan penuh di Posko Gayo Lues.

Pada Sabtu malam (6/12) pukul 21.30 WIB, dua mobil Kijang Innova Reborn yang membawa tim Aceh berangkat dari Banda Aceh, membawa obat-obatan, hygiene kit, dan logistik lainnya. MDMC Aceh, bekerja sama dengan LAZISMU dan ortom Muhammadiyah, telah mengaktifkan 23 posko tanggap bencana di berbagai kabupaten.

Tim Aceh dan DIY bertemu pada Ahad (7/12) pagi dan berkonvoi dari Blang Pidie pukul 11.30 WIB. Namun perjalanan tidak berjalan mulus. Antrean BBM membuat rombongan terlambat satu jam sebelum memasuki jalur Babahrot–Terangun, satu-satunya rute darat yang mungkin dilalui.

Memasuki Kecamatan Terangun, jalanan berubah ekstrem: turunan curam, kelokan patah, aspal amblas, dan titik-titik longsor yang hanya menyisakan satu lajur. Ketegangan memuncak ketika kedua kendaraan relawan mengeluarkan asap hitam di kawasan Tongra pada pukul 14.30 WIB.

Rombongan terpaksa berhenti di jalur menurun yang tidak aman. Seorang warga pemilik mobil bak dan seorang sopir mobil kapsul marun memberi bantuan spontan. Relawan mengganjal ban dengan batu besar sementara mesin dinormalkan kembali. Di tengah hujan gerimis, para relawan menunggu sambil mengantisipasi longsor berikutnya.

Suasana semakin dramatis: hutan berkabut, suara tonggeret, dan jalan licin menambah tekanan perjalanan.

Sesampainya di kawasan Atu Balee, Burni Ketukah pukul 16.00 WIB, rombongan kembali tertahan akibat longsor total dan sebuah alat berat dilaporkan terguling di jalur alternatif. Meski begitu, relawan tetap melanjutkan perjalanan perlahan hingga akhirnya tiba di Posko Muhammadiyah Gayo Lues pukul 18.45 WIB, tepat setelah azan Magrib.

Setiba di posko, Tim Relawan dan Pimpinan Daerah Muhammadiyah Gayo Lues langsung melakukan koordinasi awal terkait distribusi bantuan dan pembagian tugas. Koordinator MDMC DIY, Rifky, memaparkan formasi timnya yang siap menyuplai layanan medis, logistik, dan pendampingan psikososial.

Pada pukul 22.54 WIB, tim diterima Bupati dan Wakil Bupati Gayo Lues di pendopo. Bupati mengapresiasi kehadiran relawan yang datang dari luar daerah di tengah kondisi darurat.

Ia menjelaskan bahwa 28 jembatan terputus, sejumlah wilayah tidak memiliki akses listrik maupun internet, dan longsor susulan terus mengancam saat hujan turun.

“Gayo Lues masih jauh dari pulih,” tegasnya.

Usai pertemuan, relawan kembali ke posko untuk briefing dan finalisasi rencana aksi Senin (8/12), meliputi:

  • Layanan kesehatan di titik-titik pengungsian.
  • Pendampingan psikososial bagi anak dan orang dewasa.
  • Asesmen lanjutan kebutuhan logistik.
  • Survei akses jalan yang masih aman.
  • Koordinasi dengan BNPB, dinas kesehatan, dan pemerintah daerah.

MDMC menegaskan akan terus bekerja memastikan bantuan medis, logistik, dan pemulihan psikososial dapat menjangkau wilayah terdampak dengan aman dan cepat.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow