Sambut Jemaah Haji 2025, ALBHA Kota Yogyakarta Kuatkan Ikhtiar Lestarikan Kemabruran Haji

Sambut Jemaah Haji 2025, ALBHA Kota Yogyakarta Kuatkan Ikhtiar Lestarikan Kemabruran Haji

Smallest Font
Largest Font

YOGYA — Menyambut kedatangan jemaah haji 2025 yang sudah tiba kembali di tanah air, ALBHA (Alumni Bimbingan Haji ‘Aisyiyah) Kota Yogyakarta menggelar acara Mangayubagyo Kedatangan Jemaah Haji 1446 H/2025 M dan Temu Akbar Lintas Angkatan pada Sabtu (19/7) di Masjid Islamic Centre Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Dihadiri oleh Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah Kota Yogyakarta, Pembimbing dan Pengurus KBIHU (Kelompok Bimbingan Ibadah Haji dan Umroh), juga Pengurus dan anggota ALBHA Kota Yogyakarta dari angkatan 2000 s.d. 2025. 

Selain Pengukuhan Pengurus ALBHA 2025, acara juga diisi dengan tausiah dari Prof. Dr. Ir. H. Sukamta, ST, MT, IPU., ASEAN ENG, (Wakil Rektor Universitas Muhammadiyah Yogyakarta Bidang Akademik) yang juga menjadi Ketua KBIHU ‘Aisyiyah Sleman, mengulas materi tentang Ikhtiyar Melestarikan Kemabruran Haji. Sebagaimana salah satu tujuan dibentuknya ALBHA adalah untuk menjaga dan melestarikan kemabruran.

Bertepatan dengan moment awal tahun baru Islam, Sukamta mengajak para jemaah untuk merefleksikan kembali makna hijrah Rasulullah Saw, yang tidak hanya terkait dengan masalah fisik semata, tetapi juga simbol perjuangan untuk menjadi lebih baik. 

Demikian halnya dengan haji juga tidak sekedar ritual fisik, di dalamnya mengandung unsur penting yaitu revolusi spiritual, seperti thawaf yang mengajarkan kembali bahwa semua berpusat pada Allah, menuju satu titik menunjukkan kecintaan dan ketaatan pada Allah, dengan mendatangi dan mengitarinya. 

Selanjutnya, Sa'i yang artinya ikhtiar yang tanpa lelah, bermula dari Shofa (murni, jernih, suci) ke Marwa (harapan, martabat, kemuliaan) menapak tilasi perjuangan Hajar menemukan air untuk meyelamatkan Ismail yang kehausan, dengan usaha yang maksimal, angka tujuh adalah angka terbanyak bagi orang Arab. Sebagaimana seorang muslim haqqa tuqatih (taqwa yang sebenarnya) dengan cara menjalankan perintah secara maksimum, dan berani meninggalkan yang haram tanpa kompromi.

Jalan lari kecil simbol usaha adalah ikhtiar untuk sampai mencapai pada yang melegakan, tujuannya adalah mendapatkan ridho Allah SWT. Sedangkan Wuquf adalah momentum tafakur, menyelami kedalaman diri dalam memahami dirinya sebagai Hamba Allah dan sampai seberapa jauh bisa mengenali Allah SWT, dengan dzikir terbaik laa ilaaha illaallah wahdahu laa syariikalahu. 

Demikian juga dengan ritual Mabit di Muzdalifah dan Mina, melempar jamarat dan Thowaf Ifadhah di Masjidil Haram. Melempar jumroh jamarat adalah melempar dari dalam keluar, simbol dari membuang yang buruk dari dalam diri kita, tinggal yang baik, tinggal birr atau mabrur. 

Bisa jadi orang tidak pernah haji bisa membuang keburukannya, bisa mabrur. Bukan berapa kali berhaji, tetapi adalah kemampuannya untuk membuang keburukannya. Mabrur (penuh kebaikan) bisa berarti maqbul (diterima ibadahnya). Di dalamnya mengumpulkan dua makna, makna baik secara fisik (thoyyib) dan baik secara psikis (khoir). Jadi birr/mabrur adalah kebaikan fisik sekaligus psikis.

Haji Mabrur ibarat benih, baru bisa tumbuh bagus di tempat yang bagus dirawat dengan baik. Menjaga kemabruran perlu dukungan keluarga dan masyarakat. Agar benih dapat tumbuh, harus disirami dan dipupuk agar tumbuh bagus. Demikian juga untuk melestarikan kemabruran haji, harus disirami dengan akhlak mulia dalam keseharian. Jemaah haji sudah dilatih selama 40 hari di tanah suci memenuhi panggilan Shalat berjamaah tepat waktu di masjid, terbaik dalam waktu dan tempatnya. 

Selanjutnya, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Ngaglik itu memaparkan beberapa ikhtiyar untuk dapat melestarikan kemabruran yaitu, pertama dengan menjaga kejujuran, yang akan mendorong orang berbuat baik yang akan mengantarkannya ke surga, sebaliknya kebohongan mendorong berbuat jahat yang akan mengantarkannya ke dalam kesengsaraan/neraka. Kedua menebar kebaikan dan kepedulian sosial, ciri orang yang bermanfaat (mabrur) bagi lingkungan kalau tidak ada dicari, kedatangannya dirindukan. 

Ketiga, menahan amarah dan sabar, orang yang ikhlas dan mudah memaafkan akan memiliki hati yang lapang, kalau hati sudah lapang, maka urusannya menjadi mudah. Keempat, memperbanyak syukur, dengan bersyukur akan menjaga kelapangan hati dan kesehatan jiwa dan raga. Dan yang kelima adalah Istiqomah, amalan yang baik bukan sekedar yang banyak tetapi yang istiqomah.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    2
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow