PW IPM DIY Periode 2026-2028 Resmi Dikukuhkan, Siap Berlayar Membawa Era Baru Pelajar Inklusif

PW IPM DIY Periode 2026-2028 Resmi Dikukuhkan, Siap Berlayar Membawa Era Baru Pelajar Inklusif

Smallest Font
Largest Font

YOGYAKARTA — Era baru Pimpinan Wilayah Ikatan Pelajar Muhammadiyah Daerah Istimewa Yogyakarta telah dimulai dengan pengukuhan yang berlangsung pada Rabu (10/6) malam di Amphitarium Kampus 3 Universitas Ahmad Dahlan (UAD). Sebanyak 71 anggota pimpinan telah dinyatakan siap untuk membawa bahtera IPM DIY berlayar menuju era baru pelajar inklusif yang menjadi tema besar pada periode 2026-2028.

Pengukuhan PW IPM DIY periode 2026-2028 terasa istimewa dengan hadirnya para tokoh penting, mulai dari Wakil Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) DIY Dr. Iwan Setiawan, M.S.I., Ketua Pimpinan Wilayah ‘Aisyiyah (DIY) Dr. Widiastuti, M.M., Sekretaris Jenderal Pimpinan Pusat IPM Tsabita Ikrima Al Arify, dan Kepala Bidang Pengkaderan Lembaga Pusat Studi (LPSI) UAD Yahya Hanafi, M.Sc. Hadir pula perwakilan Organisasi Otonom Muhammadiyah tingkat wilayah, Organisasi Kepemudaan dan Pelajar seperti KNPI, PII, IPNU, dan IPPNU, dan segenap kader IPM se-DIY.

Sebuah amanah tentunya tidak pernah jatuh kepada orang yang salah. Allah memberikan amanah dan tanggung jawab kepada orang-orang yang tepat, memiliki kapasitas, integritas, dan pandangan organisasi yang jelas. Itulah yang diyakini Syauqi Marsa Taqiyuddin selaku Ketua Umum PW IPM DIY periode 2026-2028.

Dalam sambutannya, ia memberitahu bahwa amanah harus diberikan kepada orang-orang yang memiliki kualitas. Karena itu, dalam proses memilih formatur dan pimpinan baru, harus memastikan kalau struktur kepemimpinan yang disusun berlandaskan kualitas, kompetensi, dan visi yang jelas.

“Saya meyakini bahwa 71 pimpinan yang dibagi dalam 10 bidang ditambah para kader di dua lembaga (media dan kesehatan) pada periode ini bukanlah orang-orang yang dipilih tanpa pertimbangan. Masing-masing memiliki kapasitas dan peran yang jelas, baik yang berasal dari Kota Yogyakarta, Bantul, Sleman, Kulon Progo, maupun Gunungkidul. Semua memiliki tempat dan kontribusi masing-masing untuk memajukan organisasi,” kata Syauqi.

Meskipun secara geografis Daerah Istimewa Yogyakarta merupakan wilayah yang relatif kecil dibandingkan provinsi lain, tetapi memiliki potensi ideologis yang kuat. Maka, dengan guyub dan gotong royong, IPM DIY mampu menghadirkan gagasan serta kontribusi yang diperhitungkan di tingkat nasional.

“Kita memiliki semangat yang dikenal dengan nilai persaudaraan, guyub (rukun), dan bergotong royong. Semangat guyub, saling membantu, dan bekerja sama inilah yang menjadi fondasi penting dalam membangun PW IPM DIY,” jelasnya.

Pada periode ini, Terdapat empat agenda aksi utama yang akan menjadi fokus PW IPM DIY. Pertama, penguatan gerakan. Gerakan IPM tidak boleh berhenti pada tataran ideologis semata, tetapi harus bisa dibuat ke dalam bahasa yang lebih mudah dipahami dan dirasakan manfaatnya oleh pelajar di tingkat ranting, cabang, hingga daerah agar mengurangi kesenjangan pengetahuan yang selama ini masih dirasakan di IPM.

Kedua, penguatan inklusivitas dan partisipasi pelajar. Semangat pelajar inklusif yang telah menjadi identitas periode sebelumnya akan terus dilanjutkan. Syauqi memandang bahwa nilai inklusivitas merupakan sesuatu yang baik dan perlu menjadi budaya organisasi. 

“Karena itu, PW IPM DIY akan terus berupaya menghadirkan kebijakan yang berpihak pada seluruh pelajar, serta memastikan aspirasi dari tingkat ranting, cabang, dan daerah dapat tersampaikan dan terakomodasi dengan baik,” imbuhnya.

Ketiga, penguatan kepemimpinan yang representatif dan setara. Dalam periode ini, komposisi seimbang antara laki-laki dan perempuan, menunjukkan komitmen IPM DIY untuk membangun kesetaraan dalam kualitas dan kesempatan. Sehingga, IPM DIY akan memberikan ruang yang sama kepada seluruh kader untuk berkembang, berkontribusi, dan mengoptimalkan potensi tanpa memandang latar belakang tertentu.

Keempat, penguatan kerjasama internal dan eksternal. PW IPM DIY akan menyiapkan standar kerja sama yang memungkinkan organisasi bergerak secara lebih sistematis, terukur, dan berdampak luas, baik melalui sinergi internal maupun kemitraan dengan berbagai pihak di luar organisasi.

Lalu, Ketua Umum PW IPM DIY Periode 2023–2025 Naufal Labiba Wildan, turut mengucapkan selamat kepada PW IPM DIY Periode 2026–2028 yang baru saja dikukuhkan. Menurutnya, para pimpinan yang terpilih telah melalui berbagai dinamika organisasi dan kini mengemban amanah untuk membawa IPM DIY menjadi lebih baik di masa mendatang.

Jumlah 71 pimpinan yang dikukuhkan pada periode ini merupakan capaian yang membanggakan, namun jumlah yang besar ini akan menjadi sia-sia apabila tidak diiringi dengan partisipasi aktif seluruh pimpinan. Karena itu, ia menekankan pentingnya menjaga semangat kebersamaan, kekeluargaan, dan ke-guyub-an sebagai modal utama dalam menjalankan roda organisasi.

Seperti yang disampaikan Syauqi, meskipun Daerah Istimewa Yogyakarta relatif kecil secara geografis, namun IPM DIY dikenal memiliki kualitas ideologis yang tinggi. Berbagai gagasan, karya, inovasi, dan program unggulan yang lahir dari DIY kerap menjadi rujukan dan patokan bagi wilayah lain di forum nasional, sehingga Naufal berharap tradisi tersebut dapat terus dipertahankan oleh kepemimpinan yang baru.

“DIY memang kecil, tetapi kualitasnya tidak kalah dengan wilayah lain. Banyak karya, gagasan, dan program dari DIY yang menjadi rujukan bahkan ditunggu oleh wilayah-wilayah lain. Harapannya, IPM DIY tetap menjadi kiblat dan acuan bagi perkembangan IPM di tingkat nasional,” tuturnya.

Senada dengan Naufal, Sekretaris Jenderal PP IPM, Tsabita Ikrima Al Arify, berharap semangat inklusivitas dan egaliter PW IPM DIY harus tetap berjalan seiring dengan komitmen menjaga integritas IPM sebagai organisasi otonom Muhammadiyah dan rumah bersama pelajar Indonesia.

IPM saat ini mengemban misi besar untuk melahirkan pelajar berdampak dengan membentuk algoritma karakter dan pola pikir pelajar yang berlandaskan ilmu pengetahuan serta nilai-nilai Islam Berkemajuan. Apalagi, tantangan yang dihadapi pelajar juga semakin kompleks, menghadapi Generasi Z dan Alpha yang tumbuh di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

“Karena itu, IPM dituntut untuk mampu hadir sebagai ruang pembinaan yang relevan dan adaptif terhadap perubahan tersebut,” ucap Tsabita.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow