Pustakawan Muhammadiyah Luncurkan Buku Peka Literasi di Era Digital, Dorong Peran Strategis di Tengah Banjir Informasi
YOGYAKARTA — Himpunan Pustakawan Muhammadiyah (HIMPUSMA) menggelar Peluncuran dan Diskusi Buku Pustakawan Hebat: Peka Literasi di Era Digital pada Selasa (23/12) di Aula Gedung Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI Daerah Istimewa Yogyakarta. Kegiatan ini diikuti perwakilan perpustakaan sekolah Muhammadiyah se-DIY serta anggota HIMPUSMA Kota Yogyakarta.
Buku yang diluncurkan merupakan karya antologi pustakawan Muhammadiyah, hasil tindak lanjut rencana kerja tindak lanjut (RKTL) dari pelatihan kepenulisan yang dilaksanakan pada Februari 2025. Dari 32 peserta pelatihan, sebanyak 16 peserta berhasil bertahan dan mengirimkan karya tulisnya, hingga kemudian dirangkai menjadi buku antologi.
Ketua HIMPUSMA Kota Yogyakarta, Dewi Istiqomah, S.E., menyampaikan bahwa buku ini menjadi bukti bahwa pustakawan tidak hanya berperan sebagai pengelola perpustakaan, tetapi juga produsen pengetahuan dan pembuat informasi.
“Kami berharap dari buku ini bisa menunjukkan bahwa pustakawan juga mampu bertransformasi melalui karya tulis. Pustakawan bukan sekadar pemberi informasi, tetapi juga pembuat informasi,” ujarnya.
Ia menegaskan, literasi di era digital tidak cukup dimaknai sebagai kemampuan membaca semata, melainkan kemampuan memilah informasi, menguji kebenaran, dan membangun nalar kritis di tengah derasnya arus informasi yang kerap tanpa batas dan tanpa verifikasi.
“Buku ini diharapkan menjadi penuntun nalar dan cahaya pengetahuan untuk menggerakkan kesadaran literasi di masyarakat, sekaligus menjadi pemantik bagi lahirnya generasi pustakawan berkemajuan secara berkelanjutan,” tambah Dewi.
Apresiasi terhadap terbitnya buku ini juga disampaikan oleh Fajar Zulianti, S.I.P., Sekretaris Majelis Pustaka dan Informasi (MPI) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Yogyakarta. Ia menilai buku Pustakawan Hebat sangat relevan dengan tantangan zaman saat ini.
"Atas nama MPI bersama PDM, kami mengapresiasi para penggagas dan penulis buku ini. Karya ini menjadi motivasi bagi pustakawan untuk terus meningkatkan kompetensi sekaligus memperkuat jejaring dengan pustakawan akademisi dan pihak terkait lainnya,” ujarnya.
Sementara itu, Ir. H. Ahmad Syauqi Soeratno, M.M., Anggota DPD RI Daerah Istimewa Yogyakarta, dalam keynote speech-nya menekankan bahwa pustakawan berada di garis terdepan perubahan zaman, terutama di era digital dan kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI).
“Ada salah persepsi bahwa pustakawan hanya bekerja di kantor. Padahal di era digital ini, pustakawan itu bekerja 24 jam. Kalau tidak siap dengan perubahan, ya selesai,” tegasnya.
Ia menyoroti tantangan serius dunia akademik saat ini, termasuk maraknya penggunaan AI tanpa etika dan plagiarisme, yang menurutnya hanya dapat diantisipasi dengan penguatan budaya referensi dan akurasi informasi.
“Yang membedakan karya ide dan gagasan asli dengan sekadar hasil salin-tempel adalah referensinya. Perpustakaan menjalankan fungsi itu,” jelasnya.
Syauqi menambahkan, pustakawan masa kini harus bertransformasi menjadi manajer data, sekaligus berperan sebagai analis, konselor, hingga penasihat informasi bagi pemustaka. Menurutnya, perpustakaan akan tetap hidup jika mampu membangun budaya referensi sejak dini dan memastikan setiap pengunjung terlayani secara optimal.
“Kunci peradaban ada di informasi, dan informasi itu datang dari pustakawan dan perpustakaan. Ketika Muhammadiyah disebut sebagai gerakan Islam berkemajuan, maka pustakawannya juga harus berkemajuan,” pungkasnya.
Melalui peluncuran buku ini, HIMPUSMA berharap pustakawan Muhammadiyah semakin adaptif, kritis, dan berdaya dalam menghadapi tantangan literasi digital, sekaligus meneguhkan peran strategis perpustakaan sebagai pusat rujukan pengetahuan yang berakurat dan beretika.
What's Your Reaction?
-
1
Like -
0
Dislike -
0
Funny -
0
Angry -
0
Sad -
0
Wow