Pengukuhan PK IMM K.H. Sudja’ UGM Teguhkan Gerakan Kesehatan Integratif

Pengukuhan PK IMM K.H. Sudja’ UGM Teguhkan Gerakan Kesehatan Integratif

Smallest Font
Largest Font

SLEMAN — Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) K.H. Sudja’ Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi dikukuhkan untuk periode 2026/2027. Pengukuhan yang dirangkai dengan Studium Generale tersebut berlangsung di Ruang Rapat Sembada, Kantor Bupati Sleman, Ahad (30/8).

Mengusung semangat penguatan gerakan kader Muhammadiyah, pengukuhan ini menjadi momentum awal bagi kepemimpinan baru untuk menjalankan amanah organisasi sekaligus memperluas kontribusi mahasiswa, khususnya melalui gerakan kesehatan dan pengabdian kepada masyarakat.

Prosesi pelantikan diawali dengan pembacaan Surat Keputusan (SK), dilanjutkan pengucapan ikrar pelantikan, penyerahan SK, dan simbolis jabatan. Agenda kemudian diteruskan dengan sambutan Ketua Pimpinan periode sebelumnya dan Ketua Pimpinan periode 2026/2027.

PK IMM K.H. Sudja’ UGM periode baru dipimpin Ismail Ahmad Nabil Abdurrahim, S.Farm. sebagai Ketua Umum, Hanim Nasywa Hafid sebagai Sekretaris Umum, dan Tsalaitsa Auradiva Ashadia sebagai Bendahara Umum.

Sejumlah bidang turut memperkuat struktur kepemimpinan, yakni Bidang Organisasi dan Kader yang diketuai Nisrina Mumtaz; Bidang Sosial Pemberdayaan Masyarakat oleh Anna Rizkyah; Bidang Riset dan Pengembangan Keilmuan, Hikmah, dan Kebijakan Publik oleh Assyfa Atha, S.Farm.; serta Bidang Media, Tabligh, dan Kajian Keislaman oleh Fahmi Ihsanudin Jauhari, S.Farm.

Usai pengukuhan, agenda dilanjutkan dengan Studium Generale bertajuk “Membangun Gerakan IMM Kesehatan yang Integratif dengan Pilar Interprofessional Education (IPE)” yang menghadirkan Ussi Khairani Frestiarizka, S.Kep., Ns. sebagai pemateri.

Ussi yang merupakan pegawai Dinas Kesehatan Kota Yogyakarta menekankan bahwa persoalan kesehatan memiliki kompleksitas yang tidak mungkin ditangani oleh satu profesi saja. Penyelesaiannya membutuhkan kolaborasi berbagai disiplin ilmu agar intervensi yang dilakukan dapat melihat persoalan secara lebih utuh.

Menurutnya, keberagaman latar belakang keilmuan mahasiswa di lingkungan IMM justru dapat menjadi modal untuk membangun gerakan kesehatan yang kolaboratif melalui pendekatan Inter Professional Education (IPE). Melalui pendekatan tersebut, setiap individu dapat menjalankan peran sesuai kompetensinya sekaligus memahami kontribusi profesi lain dalam mencapai tujuan bersama.

“Masalah kesehatan tidak bisa diselesaikan oleh satu profesi saja, tetapi membutuhkan kolaborasi dari profesi lain.”

Ussi menjelaskan, terdapat empat pilar penting dalam praktik IPE, yakni komunikasi, kerja tim, kejelasan peran, dan penyelesaian konflik. Keempat aspek tersebut menjadi fondasi agar kolaborasi antarprofesi berjalan efektif dan tidak sekadar berhenti pada pembagian tugas.

Dalam konteks organisasi, pendekatan tersebut dapat diterapkan dengan membentuk tim berdasarkan kompetensi masing-masing kader. Program kerja pun diharapkan tidak hanya bersifat administratif, tetapi memiliki keterkaitan yang jelas dengan bidang keilmuan dan kompetensi yang dimiliki kader.

Gerakan kesehatan yang integratif juga dapat dikembangkan melalui perspektif One Health, yakni pemahaman bahwa kesehatan manusia, hewan, dan lingkungan memiliki keterkaitan yang erat.

Karena ketiganya saling berhubungan, penyelesaian persoalan kesehatan membutuhkan pendekatan lintas disiplin. Ussi mencontohkan penanganan ibu hamil yang tidak hanya membutuhkan perhatian dari sisi medis, tetapi juga edukasi mengenai gizi, aktivitas fisik, sanitasi, hingga pencegahan penularan toksoplasma.

Persoalan tersebut membutuhkan keterlibatan berbagai keilmuan, mulai dari dokter, ahli gizi, ahli lingkungan, hingga dokter hewan. Kolaborasi lintas profesi memungkinkan setiap persoalan ditangani berdasarkan kompetensi masing-masing dengan tujuan yang sama.

Ussi juga mendorong kader IMM kesehatan untuk memandang organisasi bukan sekadar sebagai ruang pengembangan kapasitas diri, melainkan sebagai wadah untuk memperluas kebermanfaatan.

Menurutnya, pengetahuan dan kompetensi di bidang kesehatan dapat menjadi modal awal untuk memberikan manfaat kepada masyarakat. Namun, keterlibatan dalam IMM memungkinkan kader memperluas dampak tersebut melalui gerakan organisasi.

“Dari kesehatan sudah bisa bermanfaat untuk masyarakat, tetapi dengan mengikuti IMM, teman-teman dapat memperluas kebermanfaatannya kepada masyarakat yang lebih luas lagi,” ungkapnya.

Dalam penerapan IPE di lingkungan IMM kesehatan, setidaknya terdapat dua langkah yang dapat dilakukan. Pertama, menyusun tim berdasarkan kompetensi masing-masing kader. Kedua, merancang program kerja sesuai dengan rumpun kesehatan yang dimiliki sehingga potensi setiap kader dapat dioptimalkan.

Melalui pengukuhan dan Studium Generale tersebut, IMM K.H. Sudja’ UGM periode 2026/2027 diharapkan mampu membangun gerakan yang semakin kolaboratif, integratif, dan berorientasi pada kebermanfaatan. Perbedaan latar belakang keilmuan tidak dipandang sebagai sekat, melainkan sebagai kekuatan untuk menghadirkan solusi yang lebih komprehensif bagi umat dan masyarakat.

Editors Team
Daisy Floren

What's Your Reaction?

  • Like
    0
    Like
  • Dislike
    0
    Dislike
  • Funny
    0
    Funny
  • Angry
    0
    Angry
  • Sad
    0
    Sad
  • Wow
    0
    Wow